Kita tahu bahwa terdapat banyak sekali bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Bahkan setiap negara memiliki bahasa nasionalnya tersendiri. Di samping bahasa nasional, beragam pula bahasa daerah di dalamnya negara tersebut. Dengan berkembangnya teknologi, memungkinkan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain walaupun menggunakan bahasa yang berbeda. Dan baru-baru ini Google menghadirkan sebuah produk teknologi yang dapat merealisasikan hal tersebut.

 

Di tengah presentasi terkait teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelegence (AI),Augmented Reality (AR), kamera canggih, serta miniatur asisten cerdas Home. Google kemudian mengumumkan produk terbarunya, yaitu Pixel Buds dengan fitur penerjemah. Pixel Buds ini merupakan earphone nirkabel, yang memiliki fungsi serupa dengan Apple AirPods dan Samsung Gear IconX. Selain itu, Google Pixel Buds diketahui dapat dihubungkan dengan smartphone Pixel. Teknologi ini juga menggunakan mesin penerjemah dari Google, yang tujuannya tidak lain untuk memberikan terjemahan secara langsung terhadap 40 macam bahasa yang berbeda.

 

Pihak dari Phone Arena memberi penjelasan terkait cara kerja perangkat baru ini, dimana produk ini memungkinkan dua pihak saling berbicara dengan menggunakan bahasa mereka masing-masing. Untuk sistemnya, pembicara yang satunya menggunakan teknologi Pixel Buds tersebut, sementara lawan bicaranya mendengarkan via Ponsel Pixel. Selanjutnya, masing-masing pihak mengucapkan kalimat yang ingin disampaikan dalam bahasa mereka kepada perangkat, sehingga terjemahan kalimat tersebut akan diterima langsung oleh telinga si pendengar.

 

Adapun penjelasan dan demontrasi terkait cara kerja dari fitur-fitur yang ada pada earphone ini dinilai begitu mengagumkan. Namun, perangkat ini diperkirakan tidak dapat berfungsi dengan mulus layaknya seperti pada demontrasi yang telah ditayangkan itu. Hal ini dikarenakan mesin dari penerjemah Google masih memiliki kendala dalam menangani kalimat yang tergolong sulit, walaupun disisi lain telah mampu menangani kalimat yang sederhana.

 

Fitur Pixel Buds ini merupakan awal yang baik bagi Google Translate, dan sekaligus mengingatkan masyarakat tentang mitos Tower of Babel, yakni sebuah mitos yang menjelaskan alasan masyarakat di dunia terkait keinginannya melakukan komunikasi dalam bahasa yang berbeda.

 

-Semoga Bermanfaat-

Editor : Sep/Uml

Published in Artikel

Google menegakkan HTTPS untuk semua situs di bawah domain tingkat atas (TLD) masing-masing, seperti .google, .how, and .soy.

Seiring dengan menjadi perusahaan pencari dan iklan, Google juga merupakan registrar TLD dan memiliki 45 nama yang dapat digunakan situs sebagai pengganti TLD konvensional, seperti .org or .com.

Dari 45 TLD tersebut, yang saat ini tinggal meliputi .google, .how, and .soy, dengan .app launching segera. Dengan pengecualian .google, pendaftar domain Google Google Domain dan mitranya menjualnya kepada siapa saja yang ingin membuat situs web. Yang lainnya mengklaimnya termasuk .ads, .boo, di sini, .meme, .ing, .mov, dan .rsvp.

Google memperketat jeratan pada HTTP: Chrome menempel 'Tidak aman' pada halaman dengan bidang pencarian. Pada bulan Oktober, Google akan memulai tahap kedua dari rencananya untuk memberi label pada semua halaman HTTP sebagai tidak aman.

Sebagai bagian dari dorongan untuk penerapan HTTPS yang lebih luas, Google kini telah mulai mengaktifkan HTTP Strict Transport Security (HSTS) untuk "jumlah besar" TLD-nya.

Kebijakan HSTS memastikan bahwa peramban web hanya menggunakan sambungan terenkripsi HTTPS ke situs yang mendukung HTTPS. Semua peramban utama beralih ke, misalnya https://gmail.com meskipun pengguna mengetik di alamat http. HSTS bertujuan untuk mencegah serangan downgrade, seperti POODLE, yang melemahkan atau menghapus enkripsi.

Daftar pramuat HTTPS HSTS nama host memastikan bahwa browser secara otomatis menerapkan koneksi HTTPS kepada mereka. Daftar ini digunakan di Chrome, Firefox, Safari, Internet Explorer, Edge, dan Opera.

Ben McIlwain, seorang insinyur perangkat lunak untuk Google Registry, menjelaskan bahwa .google menjadi TLD pertama yang bergabung dengan daftar preload HSTS. Google meluncurkan .google TLD pada tahun 2014 dan sekarang menggunakannya untuk blog Kata Kunci, Google Registry, dan Google Design-nya.

TLDs non.google pertama yang bergabung dengannya adalah .foo dan .dev, yang akan segera disiapkan oleh Google untuk pendaftaran.

Menurut McIlwain, memungkinkan HSTS tingkat TLD jauh lebih efisien daripada sistem saat ini karena adanya jeda antara daftar preload saat ini dan update browser yang sampai ke pengguna.

"Penggunaan HSTS tingkat TLD memungkinkan ruang nama tersebut aman secara default," tulis McIlwain.

Pendaftar masih perlu mengonfigurasi sertifikat SSL untuk mengaktifkan HTTPS di situs mereka. Sertifikat gratis bisa didapatkan dari Let's Encrypt. Tetapi jika pemilik situs tidak perlu menambahkan situs mereka ke daftar preload HSTS, yang McIlwain katakan bahwa dapat memakan waktu berbulan-bulan karena waktu yang dibutuhkan agar peramban dengan daftar terbaru menjangkau sebagian besar pengguna.

Menggunakan TLD yang sudah diamankan memberikan perlindungan di awal daripada perlindungan sesudahnya. Menambahkan keseluruhan TLD ke daftar preload HSTS juga lebih efisien, karena mengamankan semua domain di bawah TLD tanpa biaya overhead harus mencakup semua domain tersebut secara terpisah.

Pada bulan Oktober, Google akan memulai tahap kedua dari rencananya untuk memberi label pada semua halaman HTTP sebagai tidak aman.

 

Published in Artikel

Kemarin netizen di tanah air, khususnya yang berada di daerah Bekasi dihebohkan dengan munculnya perubahan nama Jalan Dewi Persik, yang seharunya adalah Jalan Dewi Sartika. Atas kejadian ini, tentu pihak Google dibanjiri oleh keluhan dan protes atas pergantian nama tersebut.

Bahkan, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Bekasi, Titi Masrifahati telah melayangkan surat keberatan yang ditujukan kepada pihak Google selaku penyedia layanan Maps. Menurut keterangan dari Google Indonesia, mereka mengakui memang ada kesalahan yang terjadi atas perubahan nama jalan tersebut. Menanggapi isu tersebut, pihak Google meminta maaf dan segera mengambil tindakan untuk memperbaiki masalah tersebut.

Selain itu, pihak Google juga menjelaskan bagaimana mereka mengumpulkan data yang ada di Google Maps, dimana mereka mendapatkan data dari berbagai sumber yang berbeda. Jika Anda melihat berbagai informasi di Google Maps seperti nama jalan, kafe, atau tempat umum lain, data tersebut merupakan kombinasi dari penyedia pihak ketiga, sumber data publik, dan kontribusi dari pengguna.

Dengan sistem pengumpulan data tersebut, Google mengklaim jika informasi yang ditampilkan di Google Maps bisa up-to-date. Namun mereka juga menyadari jika kekeliruan data mungkin saja bisa terjadi sewaktu-waktu, dan butuh waktu yang bervariasi untuk memperbarui data.

Nah, Google mengimbau para pengguna untuk memanfaatkan fitur “Send Feedback” yang terletak yang di pojok kiri bawah jika pengguna menggunakan aplikasi mobile, atau pojok kanan bawah jika pengguna menggunakan Google Maps via PC untuk memberikan masukkan.

Published in Artikel

Kementrian Komunikasi dan Informatika mengidentifikasi 1.572 konten negatif yang tersebar di Facebook sepanjang 2016 sampai 2017. Konten tersebut berupa muatan pornografi, kekerasan, penjualan produk berbahaya sampai berita palsu atau hoax yang menebar kebencian. Konten negatif tersebut dihimpun dari laporan berbagai lembaga terpercaya, seperti Kepolisian, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), serta lembaga terkait pemerintah lainnya.

Sejauh ini dari laporan yang diajukan ke Facebook baru 60 persen yang mendapatkan respons. Menteri minta service level of agreement Facebook ditinggalkan. Salah satunya agar respons atas laporan konten negatif bisa lebih cepat dan serius ditangani . Facebook berjanji akan mengatasi konten negatif dan hoax yang beredar dilayanannya sesegera mungkin. Hal ini disepakati lantaran Facebook memiliki pengguna yang jumlahnya mencapai lebih dari 96 juta akun di Indonesia.

Dirjen Aptika, Samuel Pangerapan menyampaikan hasil pertemuan tertutup antara Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Rudiantara, dengan beberapa perwakilan Facebook diruang tamu menteri, Gedung Kominfo lantai 7, pada Selasa (14/2/2017). Konten negatif di Tanah Air ternyata bukan cuma berasal dari Facebook tetapi juga layanan internet lainnya seperti Twitter.

Sepanjang 2016 sampai 2017 ada 3.252 konten negatif di Twitter yang dilaporkan Kominfo, Meski lebih banyak penanganan Twitter dikatakan lebih cepat dibandingkan dengan Facebook yang lambat untuk menangani konten-konten negatif yang beredar.

“Twitter ada kantor di sini jadi komunikasi kami lebih cepat,”ujar Samuel. Lebih lanjut mengatakan Kominfo sudah mengatur pertemuan dengan Twitter pada 20 Februari mendatang untuk membahas lebih lanjut mengenai hoax. Sementara itu pada Google dan Youtube ada 1.204 konten negatif yang dilaporkan Kominfo selama setahun dari 2016 sampai 2017. “Komunikasi dengan Google juga terus kami jalankan untuk memberantas hoax”ujar Samuel.

Published in Artikel

Google dikabarkan akan membuat Project Unision dimana akan menyematkan bahasa Jawa pada produk Google. Project ini didukung juga oleh Fakultas Ilmu Budaya UGM, dimana menurut rencana selama beberapa minggu ke depan rekaman audio penutur Bahasa Jawa di Yogyakarta akan digunakan untuk membuat suara dengan bahasa Jawa pada ponsel Android.

Sebanyak 80 juta penutur Bahasa Jawa di Indonesia nantinya akan dapat berinteraksi dengan ponselnya secara lebih alami. Hal ini bisa juga digunakan untuk mendorong perkembangan budaya Jawa di Internet agar lebih maju.

Sebagai informasi, Project Unison merupakan proyek penelitian Google untuk membuat suara text-to-speech dengan lebih cepat, murah dan efisien untuk bahasa dengan sumber daya terbatas. Dulu, jika ingin membuat suara text-to-speech (TTS) yang cukup layak untuk bahasa dengan sumber daya terbatas sangat sulit dilakukan, karena biaya yang tinggi dan besarnya data audio yang dibutuhkan.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi akhirnya Google bisa membuat model suara dengan data yang terbatas. Kini Google bisa mengumpulkan sampel suara hanya dengan perangkat seharga 2,000 dolar AS yang terdiri dari komputer, mikrofon, USB converter, dan preamplifier. Salah satu contohnya, tim di Google telah menyelesaikan proyek serupa dalam Bahasa Bengali (dengan 210 juta penutur) dan menambahkan opsi text-to-speech dalam Bahasa Bengali di ponsel Android.

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM akan menyediakan ruangan dan peserta pengumpulan data suara. Google juga akan bekerja sama dengan Universitas Reykjavik untuk Bahasa dengan Sumber Daya Terbatas dalam usaha untuk memasukkan lebih banyak bahasa ke online dan membuat alat yang tersedia melalui sumber terbuka (open source) untuk mendukung penelitian dan pengembangan.

Selama berada di UGM, peneliti Google juga akan mengajarkan pengembang lokal dan mahasiswanya mengenai cara menggunakan teknologi dan data Google yang dapat diakses secara terbuka dan mengajak banyak orang dari berbagai penjuru Indonesia untuk mengikuti lokakarya teknik.

Published in Artikel

Belakangan ini beredar kabar tentang banyaknya Aplikasi di Google Play yang terinfeksi malware dan membahayakan Sistem Android. Sebagian serangan berbahaya ini bisa dihindari dengan memeriksa perizinan Aplikasi atau menghindari pemasangan Aplikasi yang tak jelas keamanannya.

Google pun turut bertanggung jawab mengamankan setiap smartphone Android.Untuk itu, diam-diam perusahaan raksasa bermarkas di Silicon Valley itu memperkenalkan sebuah fitur keamanan baru di Android Nougat 7.1 yang disebut panic detection mode alias panic button.

Fitur ini memiliki kegunaan untuk mendeteksi aplikasi-aplikasi bersifat jahat. Fitur ini melacak berapa kali pengguna menekan tombol back selama periode waktu tertentu. Saat tombol ditekan sekitar 0,3 detik atau lebih cepat, fitur ini akan menonaktifkan dan membatalkan perintah kerja aplikasi, serta mengirim kembali kamu ke homescreen smartphone.

Fitur ini berguna untuk mencegah Aplikasi jahat masuk ke smartphone. Deteksi dari panic button berupaya untuk memudahkan pengguna ke luar dari aplikasi-aplikasi jahat. Nah, ketika fitur tersebut aktif dan pengguna sudah ada di Home, pengguna bisa menghapus Aplikasi jahat yang dimaksud.

Hadirnya fitur ini akan sangat memudahkan pengguna, apalagi saat sebuah Aplikasi jahat berulang kali menolak dinonaktifkan. Modus panic button ini mendeteksi pengguna yang berusaha ke luar dari sebuah Aplikasi.

Sayangnya, saat ini jumlah pengguna Android yang menjalankan Android Nougat baru 0,9 persen dari total pengguna Android.

Published in Artikel

Bicara soal robot yang dibekali dengan kecerdasan buatan, tentu ada sedikit ketakutan kita bagaimana AI memiliki potensi untuk menyebabkan robot di masa mendatang melakukan pemberontakan. Mungkin ini terlihat seperti di film, namun dalam beberapa kasus kecerdasan buatan dapat mengalahkan kita dalam game, yang pada dasarnya dibuat dengan AI.

Sementara tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, hal terbaik adalah mencegah daripada mengobati, dan itulah yang coba dilakukan oleh Google dan OpenAI.

Seperti yang dilaporkan Engadget, kedua perusahaan ini telah merilis sebuah artikel penelitian, dimana mereka telah mengemukakan metode pembelajaran mesin baru yang memerlukan isyarat dari manusia, sebagai lawan untuk membiarkan mereka berpikir sendiri yang terkadang dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Misalnya artikel tersebut menguraikan bagaimana salah satu masalah utama yang terlibat dalam AI adalah ketika mengetahui bahwa kecurangan terkadang bisa menjadi cara yang paling efisien untuk mencapai reward maksimum, itulah yang terjadi ketika OpenAI mencoba membuat AI bermain game, di mana AI ditipu dengan mencetak poin dengan berkeliling di seputar lawan untuk menyelesaikan permainan.

Jadi dengan menggunakan isyarat reward dari manusia, berlawanan dengan sistem reward otomatis selama tujuan tercapai, masa depan AI akhirnya bisa sampai pada titik di mana ia dapat berperilaku dengan cara yang sesuai dengan tujuan sambil memuaskan preferensi kita sebagai manusia. Namun ada kelemahan dari metode ini, yakni bahwa hal itu memerlukan banyak feedback dari manusia yang mungkin belum ideal atau efisien.

Published in Artikel

Untuk membantu berbagi foto dalam jumlah banyak, Google kini menghadirkan fitur Suggested Sharing dan Shared Libraries, yang baru-baru ini diumumkan dalam gelaran Google I/O, di Indonesia. "Suggested Sharing dan Shared Libraries ruang baru untuk berbagi foto dengan orang-orang yang Anda sayangi secara cepat dan mudah, sehingga Anda dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk menikmatinya," kata Google

Suggested Sharing menggunakan pembelajaran mesin (machine learning) yang secara otomatis dapat mengidentifikasi foto dan menyarankan penerima yang dituju. Pengguna juga dapat semakin mudah untuk mengirim dan menerima foto satu sama lain dengan Shared Libraries, yang dapat mengatur dan berbagi foto mana yang ingin dibagikan secara otomatis.

Untuk menggunakan fitur Suggested Sharing, di bagian atas Sharing Tab Google Photos terlihat saran berbagi yang dibuat berdasarkan kebiasaan berbagi foto Anda. Google Photos dapat mengenali momen penting seperti liburan sekolah atau acara pernikahan, Google Photos juga dapat memilih foto yang tepat, dan menyarankan siapa yang mungkin ingin melihat foto Anda.

Sebelum mengirimkannya Anda pun dapat mengubah penerima yang telah disarankan. Dengan Google Photos, Anda tidak perlu khawatir untuk berbagi dengan siapa saja sekalipun mereka tidak menggunakan Google Photos, karena Anda dapat menggunakan alamat email atau nomor telepon mereka.

Jika Anda sedang bersama teman dan keluarga Anda yang menggunakan Google Photos, mereka akan mendapat pengingat untuk menambahkan foto mereka ke dalam album yang terkait. Lalu Anda akan diperingatkan ketika ada foto baru yang ditambahkan dan dapat melihat semua foto di satu tempat.

Sementara itu, untuk menggunakan fitur Shared Libraries dapat dimulai dengan menu di kiri atas, memilih "Share your library" dan memasukkan alamat email teman Anda. Setelah teman Anda menerima undangan tersebut, dia dapat melihat foto yang telah Anda bagian. Saat Anda mengambil lebih banyak foto bersama teman Anda, Google Photos akan memberi tahu teman Anda saat ada foto baru dan membagikannya secara otomatis.

Teman Anda dapat memilih untuk menyimpan semua foto atau hanya foto tertentu secara otomatis. Foto ini akan tersimpan dan muncul di film, kolase, dan kreasi lainnya yang dibuat oleh Google Photos milik teman Anda. Suggested Sharing dan Shared Libraries dapat dinikmati di Android, iOS dan web.

Published in Artikel
Monday, 03 July 2017 07:49

Aplikasi Triangle

Aplikasi yang berjalan di latar belakang sering tidak disadari memakan banyak data internet. Mungkin hal ini tidak terlalu menjadi masalah bagi mereka yang menggunakan jaringan Wi-Fi setiap hari, namun hal tersebut adalah mimpi buruk bagi mereka yang mengandalkan kuota internet bulanan yang terbatas. Tapi masalah tersebut dapat diatasi oleh aplikasi terbaru milik Google.

Baru-baru ini Google menghadirkan aplikasi baru bernama Triangle yang dapat menyelamatkan data bulanan Anda dari aplikasi-aplikasi rakus yang berjalan di latar belakang. Google sendiri tengah menguji aplikasi tersebut di negara tetangga Filipina dengan menggandeng dua operator seluler Global dan Smart.

Triangle akan menunjukkan kepada Anda aplikasi mana saja yang menyantap banyak data baik di home maupun background. Di sisi lain, aplikasi Triangle ini juga bertindak sebagai Data Saver dengan membatasi aplikasi tertentu agar tidak online selama lebih dari 10 atau 30 menit.

Sebenarnya, semua informasi ini sudah bisa didapatkan oleh pengguna Android secara manual dengan masuk ke pengaturan. Namun bagi pengguna yang tidak terlalu tahu tentang handset mereka atau ingin cara yang lebih praktis, tentu aplikasi Triangle layak untuk dipasang.

Global dan Smart yang merupakan operator seluler pra-bayar di Filipina memungkinkan pelanggan melacak saldo data bulanan prabayar mereka yang tersisa melalui aplikasi. Selain itu, pelanggan dapat memperoleh data gratis yang dapat dikreditkan ke akun mereka dengan mengunjungi situs web tertentu.

Sayangnya belum diketahui apa yang direncanakan Google dengan meluncurkan aplikasi ini. Namun mengingat aplikasi ini memiliki kegunaan yang terbilang penting, cukup menarik mengikuti perkembangan dari aplikasi Triangle ini.

Published in Artikel
Wednesday, 31 May 2017 09:23

Teknologi sebagai Alat Pengajaran?

Siswa di Newton Bateman Elementary School di Chicago menggunakan laptop bertenaga Google dan Aplikasi Pendidikan Google untuk pekerjaan kelas. Lebih dari separuh pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dan lebih dari 30 juta anak menggunakan Aplikasi Pendidikan Google.


Bagaimana Google menaklukkan pendidikan di Amerika? Di Sekolah yang ada di Amerika, keseimbangan mendapatkan lebih banyak daripada apa yang mereka berikan. Ketika kehilangan satu generasi siswa, maka anak-anak tersebut sudah terlacak dengan teliti oleh Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya karena data pribadi mereka sudah ada di Google. Ini adalah untuk membuat mereka bebas dari gangguan komersial saat berada di sekolah. Sebenarnya, perusahaan-perusahaan ini sudah tahu lebih banyak tentang anak-anak dalam beberapa hal daripada orang tua mereka.


Silicon Valley mengatakan bahwa ketika kita membayar sesuatu, ada yang menjadi produknya. Bila kita mendapatkannya secara gratis, maka kita adalah produknya. Pada saat-saat sulit ini bagi distrik, ini benar-benar menjadi pertanyaan apakah kita menggunakan Google dan Chromebook dan menerima apa yang mereka inginkan. Sayangnya, pendidikan publik Amerika bergoyang dari satu mode ke mode lainnya. Chromebook hanya mode terbaru. Ada sedikit bukti bahwa komputer di kelas menghasilkan hasil siswa yang lebih unggul daripada metode pengajaran tradisional, setidaknya ketika teknologi tersebut digunakan dengan benar. Sekolah swasta elit memiliki komputer, namun tidak jauh dari proses pendidikan. Sebaliknya, ukuran kelas yang lebih kecil dan guru yang lebih baik ditekankan. Namun, biayanya jauh lebih mahal daripada Chromebook.


Ada sebuah sekolah dasar yang setiap muridnya memiliki akun Google. Murid - murid tersebut telah belajar banyak bagaimana menggunakan pengolah kata, membuat spreadsheet, membuat dan memberi presentasi, dan menggunakan email. Mereka dapat masuk ke akun mereka dari mana saja, melakukan pekerjaan rumah mereka bahkan menghemat pekerjaan mereka secara otomatis setiap beberapa detik, berkomunikasi dengan guru dan teman sekelas mereka, dan bahkan mengirimkan pekerjaan rumah mereka secara online. Semua pekerjaan mereka diselamatkan dan dapat diakses dimana saja, kapan saja. Mereka memiliki ponsel dan juga dapat mengakses akun mereka di ponsel mereka.


Chromebook mungkin membuat pekerjaan guru lebih mudah, tapi jangan terkecoh dengan pemikiran bahwa mereka akan menghasilkan warga berpendidikan lebih baik dan lebih bertanggung jawab, anak yang lebih kreatif atau memiliki angkatan kerja yang sangat terampil. Jika Google serius menyediakan alat yang berguna bagi siswa, maka seharusnya Google membatasi siswa untuk bisa mengakses ke semua web, tidak mengizinkan semua situs kecuali situs yang memiliki nilai pendidikan tinggi. Sekarang, Google telah hampir memberikan Chromebook seperti lolipop. Ia tahu betul bahwa godaan untuk menyimpang dari pekerjaan sekolah menjadi cybertainment tidak akan terelakkan, memberi Google peluang penjualan dan riset pemasaran yang tak terbatas.

Published in Artikel
Page 1 of 4