Tuesday, 10 January 2017 02:55

iOS Vs Android

Android dan iOS adalah dua sistem operasi mobile yang berbeda yang diperlukan untuk menjalankan smartphone. Tujuan utama dari keduanya adalah sama, untuk bekerja sebagai sistem operasi untuk smartphone, namun, keduanya bekerja dengan gaya yang berbeda. Perbedaan utama antara Android dan iOS adalah bahwa Android dikembangkan oleh Google dan merupakan sistem operasi open source sementara iOS dikembangkan oleh Apple Inc dan merupakan sistem operasi tertutup dengan beberapa komponen open source

Android adalah sistem operasi mobile yang dikembangkan oleh Google dan didasarkan pada kernel Linux. Ini ditulis dalam C (inti), C ++ dan java dan awalnya dirilis pada 23 September 2008. Hal ini dirancang untuk perangkat mobile touchscreen seperti smartphone, komputer tablet, TV, mobil dan perangkat dpt dipakai.

Android menggunakan sentuhan yang berhubungan dengan tindakan yata seperti menggesekkan dunia, menekan, mencubit, dan reverse mencubit untuk memanipulasi objek di layar, dan keyboard virtual. Meskipun itu terutama dirancang untuk input touchscreen tapi sekarang sedang digunakan dalam game konsol, kamera digital, PC biasa, dan banyak perangkat elektronik lainnya.

Sekarang, ia memiliki dasar terinstal terbesar dari semua sistem operasi. Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2013 mengungkapkan bahwa 71% dari aplikasi pengembang mobile membuat aplikasi untuk Android sementara survei terbaru yang dilakukan pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa 40% dari full-time pengembang profesional melihat Android sebagai ‘prioritas’ platform target.

iOS atau iPhone OS adalah sistem operasi mobile yang dikembangkan oleh Apple hanya untuk hardware Apple. Ini adalah sistem operasi utama yang digunakan di perangkat Apple termasuk iPhone, iPad, dan iPod Touch. Hal ini dirilis pada 29 Juni 2007 untuk iPhone saja dan kemudian telah diperpanjang untuk iPod Touch, iPad, iPad Mini, Apple TV, dll Saat ini ada lebih dari 1,4 juta aplikasi iOS di Apple App Store setengah dari yang untuk iPad .

Kontribusi iOS di unit sistem operasi mobile smartphone di 21%. Antarmuka pengguna iOS didasarkan pada konsep manipulasi langsung, menggunakan multi-touch gestures.Elemen kontrol antarmuka iOS mengandung slider, switch, dan tombol. Interaksi termasuk gerakan seperti menggesek, tekan, mencubit, dan mencubit balik, semuanya memiliki definisi khusus dalam konteks iOS dan antarmuka multi-sentuh.

Sistem operasi Android yang dikembangkan oleh Google sedangkan sistem operasi iOS dikembangkan oleh Apple. Android merupakan sistem operasi open source sementara iOS adalah sistem operasi tertutup dengan beberapa komponen open source.Sistem operasi Android dapat dinyatakan sebagai sistem operasi yang universal seperti itu untuk sebagian besar semua jenis smartphone kecuali hardware Apple. Sementara iOS dibatasi untuk perangkat Apple saja. Android lebih disesuaikan dan dapat mengubah hampir semua hal, sementara iOS terbatas kecuali Jailbroken.Android ditulis dalam C (inti), C ++ dan java (UI). iOS ditulis dalam C, C ++, Objective-C, dan Swift.Keluarga OS Android adalah Unix-seperti sementara keluarga iOS OS Unix-seperti, berdasarkan Darwin (BSD) dan OS X.Pangsa pasar smartphone Android adalah 82% sedangkan iOS itu adalah 15%.

Pendaftaran mahasiswa baru STT NF klik pmb.nurulfikri.ac.id

Published in Artikel
Wednesday, 09 November 2016 03:33

Smartphone Masa Depan Dengan Layar Fleksibel

Kemajuan teknologi saat ini, terbilang sangat pesat dan mendunia. Dengan berbagai inovasi yang memberikan keunggulan dari teknologi tersebut, membuat konsumen berlomba-lomba untuk memiliki keluaran smartphone terbaru yang super canggih.

2a

Antusiasme masyarakat inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong perusahaan teknologi besar semakin tergila-gila untuk mengeluarkan produk smartphone dengan layar yang fleksibel. Salah satu alasan diciptakannya inovasi tersebut, yakni dikarenakan ukuran smartphone yang bisa diubah menjadi ringkas, sehingga memungkinkan untuk dibawa kemanapun.

Kebangkitan layar fleksibel ini, diprediksi akan terus berlanjut dengan inovasi yang lebih maju, terlebih saat ini para produsen hardware ternama, seperti Intel, telah mendeklarasikan dirinya untuk terus memproduksi layar fleksibel melalui teknologi WiDi (Wireless Display).

Tidak hanya Intel, melainkan juga Corning, sebuah perusahaan penyedia lapisan layar terkemuka di dunia, mereka telah membuat layar dengan versi kaca Gorilla Glass super yang lentur, selain itu, kelebihan lainnya yaitu dapat diadaptasikan di banyak permukaan non datar.

Lantas apa saja jenis smartphone yang sudah atau baru akan meluncurkan produk yang berkonsep fleksibel ini? Mungkin itu adalah salah satu pertanyaan yang muncul dibenak teman-teman. Nah untuk itu, saya menulis artikel ini untuk berbagi informasi seputar smartphone yang berkonsep layar fleksibel tersebut diatas.

Kemunculan smartphone layar lengkung ini diawali oleh sebuah perusahaan milik LG dan TV keluarannya yang berkonsep “curved”. Setelah itu, disusul oleh Samsung, yang mulai merintis proyek layar lengkung mereka lewat kehadiran smartphone Galaxy Edge dan sejumlah deretan TV curved mereka.

Selain dua perusahaan itu, ada juga Lenovo yang pada ajang IFA 2016 di Berlin saat itu, mereka memperkenalkan inovasi barunya, yakni berupa smartphone dengan layar fleksibel yang bisa dibengkokkan dipergelangan tangan.

Bahkan sebelum Lenovo meluncurkan produk barunya tersebut, Oppo telah terlebih dahulu memperkenalkan prototype smartphone dengan inovasi yang unik, yakni layarnya yang bisa dilipat.

3a

Tak hanya perusahaan diatas yang mengeluarkan konsep fleksibel, baru-baru ini muncul bocoran gambar konsep smartphone Xiaomi di situs Baidu. Yang mana dalam situs tersebut terlihat smartphone Xiaomi ini bisa ditekuk keberbagai arah, hal ini menandakan layar benar-benar fleksibel.

Namun, jika xiaomi serius akan menciptakan smartphone dengan layar fleksibel, kemungkinan baru akan bisa selesai pada beberapa tahun kedepan. Hal tersebut dikarenakan penciptaan teknologi canggih yang seperti ini akan mengeluarkan biaya produksi yang tinggi ketika diproduksi secara massal.

Published in Artikel
Tuesday, 08 November 2016 06:56

Baterai “Wireless”

Seberapa canggihnya smartphone yang anda miliki, perangkat itu tidak akan berfungsi apabila tidak ada sumber daya didalamnya, yakni sebuah baterai. Pengisian baterai ini dibutuhkan aliran listrik yang membutuhkan transmisi berupa kabel. Namun, berkat perkembangan teknologi saat ini, muncul teknologi wireless charging, yaitu sebuah teknologi pengisian daya tanpa kabel.

Perkembangan teknologi wireless charging ini bertepatan dengan kelahiran baterai sodium yang marak digunakan pada saat ini. Baterai sodium ini ditemukan sebagai pengganti baterai lithium-ion, dimana baterai lithium-ion memiliki kelemahan bagi vendor smartphone saat ini, yakni tidak mampu menghasilkan kapasitas penyimpanan yang besar.

Nah, permasalahan tersebut akhirnya berhasil dipecahkan oleh National Institute of Standards and Technology dari Amerika, dengan karyanya yang tidak sederhana, yaitu membuat baterai baru dengan bahan utama sodium, bukan lagi lithium. Mereka mengklaim bahwa baterai hasil ciptaannya itu dapat menghasilkan energy yang lebih besar dan kuat, serta tetap stabil saat digunakan. Tidak hanya itu, baterai sodium juga memiliki keunggulan lain, seperti misalnya, harga yang terjangkau karena proses pembuatannya lebih sederhana.

Hampir seluruh gadget premium yang baru, saat ini dibekali dengan fitur wireless charging, apalagi dengan dikombinasikannya baterai sodium dan wireless charging, maka dapat berpeluang besar untuk bisa menguasai pasaran. Bahkan, di Indonesia sendiri, teknologi wireless sudah cukup dikenal. Dan sebetulnya, teknologi pengisian daya nirkabel ini juga bukanlah hal yang baru. Ilmuwan Amerika Serikat, Nikola Tesla, pada tahun 1891 telah menjadi orang pertama yang mencoba teknologi transmisi energy nirkabel ini. Saat itu, dia menyalakan lampu listrik tanpa kabel.

Adapun cara kerja dari teknologi wireless charging adalah sebagai berikut, disebut juga pengisian induksi dengan memanfaatkan medan elektromagnetik untuk memindahkan energy diantara dua perangkat. Smartphone yang ingin di charge,kemudian diletakan di dekat alat pengsi daya nirkabel. Saat alat itu dinyalakan, arus listrik menciptakan medan magnet dan menyalurkannya ke kumparan perangkat di dekatnya. Kumparan yang terhubung dengan baterai itu kemudian menciptakan arus listrik. Pengisian daya pun dimulai dan akan terhenti ketika perangkat itu dijauhkan. Namun, lantaran membutuhkan kumparan khusus, tidak semua alat elektronik kompatibel dengan teknologi ini

Anda perlu tahu bahwa untuk saat ini, ada tiga patokan standar wireless charging, yaitu Qi standar, Power Matters Alliance (PMA), dan Aliance for Wireless Power (A4WP). Standar tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang dapat menyokong pertumbuhan produk-produk berbasis wireless charging.

Beberapa produk smartphone sudah memanfaatkannya untuk mengurangi pemakaian kabel sehingga lebih praktis, contohnya adalah Samsung Galaxy Note 5, piranti yang sudah kompatibel dengan pengisi daya nirkabel jenis standar Qi dan PMA.

Published in Artikel