×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 986

Kisah dan Curhat

Kisah dan Curhat (40)

Kenalin, nama lengkap aku Umul Sidikoh biasanya orang-orang panggil dengan sebutan Umul. Bisa dibilang, salah satu mahasiswa yang masih berumur sangat muda, karena di umur 19 tahun sudah memasuki semester 6 di STT Nurul Fikri. Aku lahir di Tangerang, 13 Mei 1997. Tempat tinggal aku masih di Tangerang, cuma sekarang udah mulai nge-kost di daerah Depok. Cita-cita aku sih jadi pengusaha karena sifatnya fleksibel dan tidak dituntut oleh atasan, dan menjadi penulis buku atau novel. Hobi aku pertama menulis, yang lainnya olahraga, travelling, touring, baca-baca. Kalo ditanya tentang motto hidup, ya aku jawabnya " Lakukanlah yang terbaik, atau tidak sama sekali ( Do be The Best, or Nothing) ".

Berlatar belakang Siswa SMA jurusan IPA, di salah satu Sekolah Negeri di Kota Tangerang. Sejak SMA, pelajaran yang paling disuka yaitu Kimia (Chemistry). Entah, padahal itu pelajaran lumayan sulit, dimana harus hafal ikatan-ikatan kimia, yang pasti bukan ikatan aku dan kamu *eh. Namanya juga SMA Negeri, ya pastinya pas lulus SMA maunya juga kuliah di Universitas/Kampus Negeri. Dari SD-SMA memang Sekolahnya Negeri, makanya ingin nantinya Kuliah Negeri juga. Sekolah Dasar di SDN BOJONG 04, Sekolah Menengah Pertama di MTSN Cipondoh Tangerang, dan Sekolah Menengah Atas di SMAN 9 Tangerang.

Menjelang Ujian Nasional (UN) formulir pendaftaran dan kelengkapan berkas untuk mendaftar di kampus-kampus favorit-pun disiapkan, dan pilihan jurusan pastinya jurusan kimia. Berniat menjadi seorang kimia analyst, biar bisa menemukan ramuan anti galau (eh salah, biar kesukaan terhadap pelajaran kimia lebih tersalurkan dan juga lebih dalam lagi ilmunya).

Daftar melalui jalur SNMPTN, yaitu lewat nilai Raport. Namun belum menjadi rezeki aku. Dan akhirnya mencoba dijalur SBMPTN, dan ternyata masih belum lolos juga. Melihat teman-teman pada lolos di PTN, rasanya hati gundah gulana. Tidak cuma sampai disitu, tiap PTN punya jalur untuk penerimaan mahasiswa barunya. Misalnya di Universitas Indonesia (UI) ada SIMAK UI dan dikampus lainnya tidak jauh beda. Dan akhirnya aku mencoba di UIN Syarif Hidayatullah, berangkat bareng-bareng sama temen-temen SMA. Pas di pengumuman kelulusan, kenapa mereka lolos seleksi dan aku engga? Sempet ngedrop perihal masuk PTN tersebut, dana akhirnya berniat untuk mengikuti tes di tahun berikutnya saja.

Oke, selang beberapa bulan lulus. Tidak kuliah, rasanya jadi manusia engga jelas dirumah. Dan tiba-tiba dapet info dari salah satu Ustadz, ada Beasiswa Studi Berprestasi di STT Nurul Fikri, Depok. Dan aku berfikir, mungkin ini salah satu jawaban do’a aku selama ini.

Tanpa berfikir dengan waktu yang lama, berkas-berkas yang merupakan syarat untuk lolos jadi mahasiswa BEASTUDI pun dipersiapkan. Oke, and then itu pertama kalinya ke Depok sendirian untuk serah berkas ke kampus. Selang beberapa hari, ternyata buka website nurulfikri.ac.id aku lolos seleksi berkas. Langkah selanjutnya dari seleksi berkas adalah seleksi akademik dan seleksi wawancara.

Sempat kaget sih, anak IPA tiba-tiba ketika seleksi akademik ternyata soal-soalnya jauh berbeda dengan pelajaran di SMA dahulu. Waktu tes wawancara diselingi dengan tes baca Qur’an, masih inget banget dulu yang tes Bapak Mgs Hendri (Alm), semoga beliau bahagia di Surga-Nya sekarang. Aamiin.

Langsung ke intinya, akhirnya aku Umul Sidikoh lolos Beastudi Penuh S1 di Kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Pokoknya bersyukur banget, ternyata Allah punya jalan-Nya sendiri biar aku bisa kuliah dan engga gundah gulana. Disaat orang-orang pusing mikirin biaya kuliah yang katanya melangit, aku udah engga pusing mikirin hal itu, yang penting aku bisa kontribusi dan jalanin apa yang ada pada surat perjanjian Beasiswa Penuh S1 tersebut.

Awalnya aku bangga, dengan beasiswa yang aku dapatkan itu. Tapi semenjak masuk ke dunia perkuliahan, kok aku malah malu menerima beasiswa tersebut. Kesannya aku ngerasa berbeda dengan teman-teman lainnya yang bisa biaya kuliah dengan bayaran mereka sendiri. Mulai dari ngumpul-ngumpul, ngerjain tugas, ngobrol asik, dsb. Seperti ada kubu tersendiri dengan mahasiswa regular biasa dan mahasiswa beastudi.

Akhirnya kesan tak nyaman pun terasa, aku ngerasa perbedaan itu mulai muncul. Entah, apa yang melandasi hal itu sehingga timbul kubu-kubu seperti itu. Nah aku malah engga mau ambil pusing perihal hal-hal kaya gitu, jadi mulai di abaikan. Memang niatnya dikampus untuk kuliah, menimba ilmu dan berprestasi. Kenapa harus malu jadi Mahasiwa/i Beastudi? Sedangkan kamu sudah dijamin untuk kuliah tanpa harus memikirkan biaya kuliah yang kini melangit. Seharus kamu-kamu yang mendapatkan kesempatan itu, bersyukur. Karena banyak dari teman-teman kalian, yang kuliah hanya menjadi angan-angan mereka. Dan sekarang, ketika diberikan kesempatan untuk kuliah, maka maksimalkan kesempatan itu.

Di STT ada beberapa jabatan dan organisasi yang udah aku pilih dan laksanakan. Tahun 2015, aku menjabat sebagai staff Departemen Kemuslimahan LDK SENADA STT NF dan merangkap jabatan sebagai Staff Pendidikan & Keilmuan BEM STT NF 2015, aku pernah menjadi salah satu pegurus terbaik periode September-Oktober BEM STT NF 2015. Di tahun 2016, aku dapet amanah menjadi Kepala Komisi (III) Kelembagaan dan Kaderisasi DPM STT NF 2016. Dan di tahun 2017 ini, aku masih melanjutkan amanah di DPM, yaitu Kepala Komisi Kaderisasi Dewan SANUBARI DPM STT NF 2017.

Pada bulan Mei 2015, aku pernah menjadi Volunteer (Sukarelawan) di acara se-Asia yaitu GNOME. Asia Summit 2015. Dan karena acara itu penyelenggaranya dari Komunitas GLiB (GNU/Linux Bogor), aku akhirnya gabung di komunitas itu sampai sekarang.

Dan pada bulan Agustus 2015, aku jadi perwakilan kampus pada acara Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional yang dilaksanakan oleh Kemenristek Dikti tiap dua tahun sekali. Aku mewakili kampus pada cabang lomba Tilawatil Qur’an, dan masa karantina 8 hari di Makara Universitas Indonesia selama pelaksanaan lomba berlangsung.

Dan diakhir 2015, tepatnya pada bulan November. Aku mendapatkan tugas sebagai Ketua Pelaksana acara Seminar Teknologi, dimana pada acara tersebut mampu menghadirkan perwakilan dari Kominfo yaitu Pak Bambang (biasa di sapa dengan Pak Ibenk) dan StartUp E-fishery.

Pada bulan Oktober 2016, aku menjadi salah satu pembicara di acara Se-Asia yaitu OpenSUSE Asia Summit 2016, yang bertempat di Jogja. Mengangkat judul pada presentasi yang disampaikan yaitu “Women Contribution In Technology Era’s”.

Dan di tahun 2016, aku menjadi salah satu Ambassador Kampus, yaitu Baidu Campus Ambassador Batch 2. Bukan hanya itu, karena kegemaran aku dalam menulis. Pernah menjadi salah satu penulis pada tahun 2016 di Technomuslim.com dan sekarang sedang menjadi penulis paruh waktu pada salah satu dosen di kampus. Dan ketika semester 4, aku pernah menjadi Asistan Dosen Lab pada mata kuliah Basis Data 1.

Pada rilis BlankOn X Tambora, aku sebagai salah satu Tim Dokumentasi pada rilis tersebut. BlankOn apa? Itu salah satu Operating System Opensource karya para pemuda Indonesia.

Di tahun 2017 ini belum ada hal-hal berkesan dan menarik. Sekarang aku lagi sibuk mengerjakan skripsi, karena aku pengen lulus 3,5 tahun. Target aku yaitu umur 20 tahun udah punya gelar S.Kom. Setiap orang punya mimpinya masing-masing, ya salah satu mimpi aku itu. Kalo punya mimpi, yang dibuat target, dilaksanakan, jangan cuma sekedar mimpi dan angan-angan. Dan jangan lupa, do’anya juga diperkuat, karena penentu akhir dari Kuasa-Nya.

Jangan malu, kamu jangan jadi mahasiswa apa adanya. Tapi jadi mahasiswa yang ada apanya ( punya keahlian atau prestasi khusus, karena masa muda tidak bisa diulang kembali). Mahasiswa regular biasa, maupun mahasiswa beastudi, kalian semua sama. Tidak ada perbedaan derajat, terkadang hanya diri kalian yang membuat perbedaan tersebut.

Mulai-lah beraksi, dan jadikan hidup yang berarti..

Akan ada banyak jalan menuju Roma! Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan pribahasa tersebut. Namun, setiap kata atau pribahasa ataupun yang lebih tren saat ini seperti Quotes tidak akan ada efek atau bermakna, jika diri sendiri belum mengalami atau sesuai dengan rangkaian kata – kata tersebut. Namaku Nadya Yutrianti, yang biasa dipanggil Nadya atau Iya oleh keluarga atau orang rumah. Anak ke-4 dari 6 bersaudara di keluarga rantauan dari Aceh & Padang. Pada kesempatan ini, aku ingin berbagi cerita mengenai perjalananku hingga bisa menempuh Sekolah Tinggi di STTNF ini.


Pendidikan yang umumnya di Indonesia ini diawali dengan masuk TK (Taman Kanak – Kanak) merupakan kesempatan yang mahal untukku. Kebetulan tempat tinggalku dekat dengan sebuah TK. TK yang bisa dibilang cukup elit dan sudah berdiri sejak lama ini membuatku sedih. Kenapa tidak, disaat anak – anak sebayaku bermain dan belajar disana, aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Berada di keluarga yang merantau jauh dari kampung halaman, membuat orang tuaku harus berrpikir realistis dan tidak banyak keinginan, dan yang penting bisa menyekolahkan anak – anaknya. Bahkan bisa dibilang keadaan keluargaku yang serba kekurangan dan melarat tapi tetap berusaha untuk bertahan hidup di tengah kota yang sedang berkembang ini.


Walaupun aku tidak merasakan masa kanak – kanak di TK. Aku tetap belajar 'Calistung' setiap harinya sebelum masuk ke SD. Kebetulan tanteku selalu bersedia mendampingi belajar dan mendaftarkan sekolah ke SD dekat rumahnya juga. Karena umurku dan kakak-kakakku tidak terlampau jauh dan masih kecil-kecil, membuat keprihatian dari saudaraku atau tetangga sekitar. Ketika masuk SD, aku sangat senang. Namun, tidak cukup percaya diri karena keadaanku yang 'orang susah' berpengaruh dengan pertemanan di kelas. Masa SD adalah masa – masa yang tidak pernah aku lupakan sampai kapanpun. Karena di SD lah aku merasakan susahnya hidup sebagai 'orang susah', yaitu di saat aku tidak bisa membeli buku, tidak ada yang mau meminjamkan jika guru tidak menyuruh dan juga karena aku dari kalangan bawah mereka semakin enggan meminjamkan. Ketika aku kelas 3 SD, Orang tuaku tidak membayar SPP selama 3 bulan, aku dipanggil ke ruang guru dan berada di tengah – tengah ruangan serta ditanyakan banyak hal oleh hampir semua guru kenapa belum membayar SPP, aku hanya bisa menangis dan tidak tahu dengan semua pertanyaan mereka. SD ku negeri, namun saat itu belum banyak bantuan – bantuan seperti saat ini dan semua masih harus dibayar. Hingga pada kelas 6 SD, ada seorang guru dari Maluku yang membangkitkan semangatku untuk sekolah dan belajar dan mau membantu setiap siswanya yang kesusahan, baik kepada pihak sekolah maupun kepada Dinas Pendidikan. Beliau adalah sosok kehidupan dan juga menyelamatkan masa SD ku yang cukup mengerikan itu.


Setelah lulus SD, keinginanku hanyalah masuk ke SMP Negeri, karena sudah ada bantuan dari Pemerintah saat itu. Namun karena nilai UN ku yang tidak mencukupi, terpaksa aku mencari SMP swasta yang murah namun baik pendidikannya. SMP Kesuma Bangsa di daerah Tanah Baru inilah yang menjadi titik balik semangat pendidikanku. Di sana aku cukup rajin masuk peringkat 1 – 3, dan yang mendapatkan peringkat selalu mendapat potongan biaya SPP sehingga dapat meringankan beban orang tuaku. Disana juga aku mendapatkan teman – teman yang tidak memandang latar belakang keluarga, kita sama, si kaya, si miskin bergaul bareng – bareng.


Setelah lulus SMP, aku tetap berkeinginan masuk Sekolah Negeri, karena sudah mendapatkan bantuan sekolah gratis oleh Pemerintah. Namun, karena terlambatnya aku mendaftar dan kuotanya sudah banyak yang penuh, memaksa diriku mendaftar ke SMK swasta. Ya, aku memilih SMK karena berharap setelah lulus nanti langsung kerja dan memiliki keahlian. SMK ku ini cukup bagus dan berstandar ISO. Namun, aku salah perhitungan, karena SMK ini termasuk sekolah yang elit. Bahkan untuk membayar SPP, orangtuaku selalu datang setiap mau UTS atau UAS untuk meminta kelonggaran dari bulan – bulan sebelumnya. Beruntung, dari awal masuk sampai lulus aku masih mempertahankan prestasi akademik dan mendapatkan potongan SPP dan bantuan dana BOS dari Pemerintah setiap akhir tahun.
Karena hal itu, aku berpikir untuk langsung kerja setelah lulus SMK nanti, atau kuliah sambil bekerja atau kuliah dengan beasiswa full sehingga tidak memberatkan orang tua ku sama sekali.


Banyak hal yang aku temukan dan alami setelah UN. Waktu menunggu ijazah, langsung kumanfaatkan untuk melamar kerja dan mencari info beasiswa di kampus negeri maupun swasta. Mulai dari menghadiri job fair di Depok sampai di Senayan. Dengan memanfaatkan uang tabungan yang pas - pasan, aku mempersipkan semua berkas – berkas yang dibutuhkan untuk melamar kerja atau mendaftar kuliah. Tidak terasa waktu selama Empat bulan terlewati dengan cukup banyak rintangan. Dimana hampir semua jalur masuk perguruan tinggi negeri seperti PMDK, SNMPTN, SBMPTN yang ada uang pendaftarannya pun belum ada yang lolos (pendaftaran sebesar seratus ribu rupiah hasil kolektif dari kakak – kakakku menjadi harapan terakhir). Hal ini kusadari karena minimnya persiapan menghadapi ujian dan mengetahui passing grade jurusan yang ada di masing - masing PTN. Jika saja ada satu PTN yang lolos, aku sudah mengantongi salah satu beasiswa PTN yang cukup menjanjikan. Namun takdir berkata lain, lamaran kerja yang suah aku applypun belum menemui titik terang. Akupun masih mencari beasiswa lain, salah satunya Kursus di Kampung Inggris, Pare. Alhamdulillah tes I lolos, namun karena tes ke II wawancara langsung kesana & tidak ada persiapan, dengan terpaksa aku mundur dan akhirnya didiskualifikasi.


Sebagai manusia biasa, aku sudah berada diamang keputusasaan, dimana aku merasa lelah dan sedih dengan usahaku yang belum membuahkan hasil. Ditambah lagi, uang tabunganku yang sudah sangat menipis dan tidak memungkinkan untuk meminta ke orang tua. Sampai suatu hari, abangku menshare info beasiswa Sarjana Dhuafa Berprestasi di STT-NF. Awalnya aku ragu, karena sudah mengalami banyak kegagalan. Namun, dengan niat yang masih ingin berusaha, aku mencobanya. Dengan uang yang tersisa, aku maksimalkan untuk melengkapi berkas - berkas dibutuhkan dan langsung aku kirim ke Kampus A yang saat itu masih di Jl. Margonda. Tidak lama kemudian, telepon dari kampus STTNF mengabarkan bahwa aku lolos seleksi berkas dan diminta untuk ikut tes akademik dan wawancara di kampus B STTNF.

MasyaAllah, benar – benar di luar dugaan, saat awal wawancara yang pertama dilakukan adalah membaca Al – Quran. Alhamdulillah, aku merasa bahwa lingkungan di kampus STTNF aman dan nyaman. Setelah itu, aku menunggu info akhir dari rangkaian tes yang sudah dijalani. Kabar bahwa aku diterima di kampus STTNF tidak bisa diungkapkan dengan kata -kata. Aku hanya terdiam dan langsung mengabarkan ke orang tua bahwa aku akan mulai Ormik sebagai salah satu syarat mahasiswi baru kuliah disana. Mereka kaget dan bertanya bagaimana bisa? Ya, selama aku melakukan tes - tes beasiswa atau masuk kuliah dan melamar kerja, hanya meminta izin dan doa yang terbaik. Aku berjanji pada diri sendiri, hanya akan mengabarkan kepastian jika aku diterima di salah satu tes – tes yang aku ikuti tersebut. Hal itu kulakukan, agar mereka tidak kecewa jika aku ditolak dari tes -tes tersebut.


Alhamdulillah, sudah memasuki tahun ke tiga ini aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswi kampus STTNF dengan berbagai pengalaman baru. Seperti ikut organisasi, yang belum pernah aku ikuti semasa SMK dulu. Lingkungannya pun sangat agamis dan terdapat Mentoring yang dapat menjadi recharge imanku. Dan uang saku yang diberikan dari program beastudi ini sangat membantu. Aku dan keluarga sangat bersyukur dengan adanya Beastudi dan para donatur yang berbaik hati membantu anak – anak yang ingin menggapai mimpinya walau terbatas dari kemampuan ekonomi.
Semoga STTNF dapat menjadi jawaban dari setiap anak – anak yang mau menggapai impian dan cita -citanya yang didukung dengan lingkungan yang bersahabat, nyaman, dan agamis.

Sebuah kisah dimulai ketika pagi hari, kala matahari baru sepenggalah naik, seorang remaja perempuan, yang baru selesai menamatkan pendidikan di bangku sekolah menengah atas, mengikuti kegiatan orientasi akademik atau disingkat ormik, di salah satu kampus swasta yang bernuansa islam, STT Terpadu Nurul Fikri tepatnya.

Wajah baru yang sebelumnya tidak pernah ia temui, kini membaur menjadi satu, untuk bersama membangun kekompakkan dalam satu tim bernama kelompok merah maroon.

Tugas hari pertama selesai ia lalui, dengan memakai pakaian berwarna putih serta rok hitam dengan berbalut jilbab berwarna hitam pula, tidak lupa memakai nametag juga atribut kelompok. Sepatu hitam tak lupa ia kenakan bak tentara hendak berjuang ke medan perang. Semangat yang menggelora nampak pada syair lagu yang ia nyanyikan bersama rekan seperjuangannya itu, walaupun ada perasaan was-was karena belum sempat menghafal baris dari setiap bait lirik lagunya.

 Syarat bawaan pribadi yang harus dibawanya hari itupun tidak mudah ia dapatkan. Ketika waktu menunjukkan pukul 7 malam, ia belum juga menemukan pocong hijau yang seharusnya sudah memenuhi tempat bekal makan siang untuk keesokan harinya. Namun, Allah memudahkan jalannya, Sang Maha Kuasa mengulurkan bantuan-Nya melalui seorang malaikat di dunia, bernama teman. Yaa, temannya itu yang membelikannya sebuah lontong dengan ukuran yang tidak terlalu besar di area Pasar Minggu. Dan alhasil, tidak ada hukuman yang ia terima, karena semua barang bawaan pribadi maupun kelompok dengan rapi telah ia susun di tas merah yang digendongnya.

 Tiba hari terakhir masa orientasi akademik, ia berpenampilan layaknya seorang eksekutif muda yang memperlihatkan kepiawaiannya dalam berkarya. Dengan perasaan senang, ia mengenakan atribut berupa pin yang berlabel "ORMIK". Sekotak hadiah yang terbungkus rapi di dalam kertas kado, digenggamnya dan kemudian ia berikan kepada salah satu panitia ormik. Bukan untuk memperingati hari kelahiran seseorang, melainkan untuk bertukar kado dengan seluruh peserta ormik di ruang yang terbatas dinding itu.

Sebelum adzan maghrib berkumandang, kedua mata dari peserta ormik ditutup dengan menggunakan slayer, kemudian diberi arahan satu persatu untuk berjalan mengambil satu dari gundukan kado yang menggunung di sudut tengah ruangan.

Tiba gilirannya untuk berjalan menyusuri kegelapan, menyeberangi celah dari barisan peserta ormik lainnya. Hingga saat semakin dekat dengan gundukan kado, ia tak sengaja menabrak titik yang mengisi barisan itu, dimana seharusnya mampu ia lewati tanpa harus menyentuhnya. Namun, hal itu tak membuatnya berhenti melangkah, ia terus berjalan dalam kegelapan dengan mengikui arahan dari salah satu panitia ormik.

 Tak butuh waktu lama, ia pun berada tepat diantara kado-kado yang sebenarnya terpampang secara nyata, namun karena tak terlihat, sehingga memaksanya untuk terus berjuang mengambil salah satu diantaranya. Tidak hanya dengan sekali sentuh, ia terus meraba-raba, hingga tangannya menggapai sebuah kado, yang menurutnya, Allah telah menggariskan bahwa dirinyalah yang beruntung mendapatkan kado yang saat ini didekapnya. Kemudian kembali ke titik dimana ia berada diantara barisan itu.

 Detik-detik waktu menuju pembukaan kado semakin dekat saja. Riuh, terdengar dari setiap sudut hingga melebar ke tengah ruangan yang pecah mengiringi munculnya sebuah titik terang, Yaa.. itulah secercah cahaya yang mulai menampakkan kilaunya saat pelupuk matanya secara perlahan naik, bak matahari terbit dari ufuk timur. Ditandai dengan lengkingan suara panitia ormik, yang terdengar begitu kompak, berseru "Tiga, dua, satuuu!", mengisyaratkan bahwa kado yang dipegang oleh masing-masing peserta ormik boleh segera dibuka.

Ia bergegas membuka kado yang terbungkus oleh beberapa lapis kertas, yang mana menghalangi pandangannya terhadap benda yang kini menjadi miliknya itu. Ekspresinya menggambarkan kebingungan seketika ia berhasil membuka selebaran kertas yang membungkus kadonya itu. Bukan hanya dia, bahkan peserta ormik lainnya pun terheran-heran melihat apa yang ia dapatkan. Salah satu kakak panitia ormik yang melihat benda itu, kemudian memecah suasana, dengan melepaskan tawanya berlalu lalang diantara orang-orang yang berada di ruangan. Ia mendapat kado sepatu hitam, dengan jahitannya yang terlihat kokoh, berukuran 42. Agak sedikit lucu memang, karena ukuruan sepatu yang biasa ia kenakan hanya sebesar 37. Ia tak mempermasalahkan hal itu, justru menanggapinya dengan mengernyitkan bibir ke samping atas kanan kirinya, pertanda bahwa ia menerima dan mensyukuri apapun yang ia dapatkan itu.

Dalam hatinya, terbersit ribuan kata yang sempat terangkai menjadi beberapa bait paragraf, bahwa dari kejadian selama masa orientasi akademik itu, ia dapat mengambil pelajaran dari setiap hal yang ia lalui. Melihat perjuangannya dari hari pertama yang tak mudah ia lalui, sampai pada hari terakhir orientasi akademik, yang mana pada hari itu ia mendapatkan sebuah kado, sebagai pengganti atas kesungguhan dan kerja kerasnya mentaati seluruh aturan selama masa orientasi akademik berlangsung, hingga berusaha tepat waktu berpacu dengan terbitnya matahari sampai sekembalinya ke peradabannya di ufuk barat.

Sepatu hitam yang ia peroleh dari hasil tukar kado, ia memaknainya sebagai kesiapan yang diberikan oleh Allah, untuk menapaki hari-hari selama ia belajar di kampus STT Nurul Fikri ini. Warna hitam dan jaitannya yang kokoh itu, mengingatkannya bahwa ia tak boleh menyerah ketika dihadapkan pada kesulitan, seperti halnya saat ia menabrak salah seorang peserta ormik saat hendak mengambil kado, ia tak serta merta berhenti, melainkan terus berjalan hingga menggapai apa yang menjadi tujuannya itu, dengan tekad yang kuat tentunya.

 Dilihat dari ukuran sepatu, yang akan terlihat kedodoran saat ia memakainya, menandakan bahwa Allah ingin ia lebih bersabar dan melapangkan hatinya, saat setiap kali ia bertemu dengan aral ketika menggapai cita-cita di kampus tercinta ini.

Ia mendapat kado berupa sepatu, pun bukan berarti ia hanya mendapatkan sebelahnya saja, melainkan sepasang kanan dan kiri. Pun, meski memiliki manfaat yang sama, namun sepasang sepatu itu tak bisa digunakan untuk berjalan beriringan setiap waktu. Itu artinya bahwa ia tak sendirian, ada orang lain yang memiliki tujuan sama dengan kesibukan yang berbeda. Mereka tak bisa saling menunggu untuk menjadikan tujuan itu menjadi nyata, melainkan dengan saling mengingatkan, menguatkan, dan saling membantu dalam kesulitan, serta bersama-sama meninggalkan jejak kemalasan. Mereka adalah teman seperjuangan.

Tali sepatu yang memenuhi celah lubang diatas punggung sepatu, yang mana kemudian melilitkan tubuhnya untuk menjaga agar tetap kokoh dan tidak mudah lepas saat digunakan, Remaja perempuan itupun mengambil pelajaran daripadanya, yakni terhadap Sang Pencipta, yang kemanapun langkahnya pergi, niat karena Allah lah yang harus menjadi akhir dari setiap tujuannya, dan kemudian dengan erat menggenggam-Nya di dalam hati.

Mulai hari itu, ia pun bertekad untuk menyelesaikan setiap semester yang ia lalui dengan sungguh-sungguh. Berbekal dari pengalaman yang ia dapatkan hari itu, ia menjalaninya dengan harapan dapat mewujudkan cita-citanya, yakni menjadi manusia yang bermanfaat untuk sesama dengan mengamalkan ilmu yang ia peroleh dari kesehariannya belajar di Kampus STT NF ini.

Pada hari minggu, 4 Desember 2016, Hendra Aditiyawijaya salah satu alumni STT Nurul Fikri angkatan pertama mendapat undangan untuk mengisi training di Griya Tahfidz yang dikelola oleh Zakat Center Kota Cirebon. Zakat Center merupakan lembaga pengelola dana Zakat, Infaq, dan Shodaqoh yang memiliki visi mengentaskan keterpurukan hidup kaum dhuafa melalui program peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi produktif. Dimana salah satunya adalah program beasiswa tahfidz bagi anak-anak dari kaum dhuafa.

Pada kesempatan tersebut, Hendra juga didampingi oleh tim trainer dari Ekacipta Teknologi Solutama, yaitu Hendri Mahesa dan Kiky Malik Ibrahim. Hendra dipercaya untuk membawakan materi tentang Literasi Media dan Motivasi Berwirausaha Sejak Dini Melalui Media Sosial. Sementara Hendri dan Kiky memberikan materi terkait dasar pemrograman web dan kostumisasi wordpress untuk membuat Online Shop. Acara training berlangsung sejak jam 9 pagi hingga jam 3 sore di Griya Tahfidz yang berlokasi di dalam komplek Pertamina EP Cirebon.

Hendra 1

Ustadz Anwar selaku pimpinan Zakat Center Cirebon sangat mengapresiasi adanya acara ini, “Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Saudara Hendra, Hendri, dan Kiky yang telah jauh datang dari Jakarta untuk memenuhi undangan kami. Saya berharap acara seperti ini akan berkelanjutan diadakan untuk menambah wawasan dan keterampilan para santri dalam menyongsong era teknologi ke depannya.”

Hendra, salah satu trainer dan alumni STT Nurul Fikri, mengakui bahwa, “Saya merasa bahagia dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman saya sebagai seorang system analyst kepada adik-adik santri di Griya Tahfidz, Zakat Center Cirebon. Saya pun ikut menularkan semangat entrepreneur kepada mereka sebagai mana nilai-nilai yang pernah ditularkan oleh almamater kampus semasa kuliah di STT Nurul Fikri. Saya berharap, kelak akan lahir para entrepreneur hebat yang hafal Qur’an untuk bersama membangun Indonesia.”

Seorang remaja Saudi yang tinggal di Jerman telah mengusulkan dan merancang emoji jilbab.

Rayouf Alhumedhi, 15 tahun, telah mengirimkan proposal untuk The Unicode konsorsium, sebuah lembaga nirlaba yang mengembangkan berbagai emoji baru.

Gagasan tersebut memperoleh dukungan dari pendiri forum diskusi online Reddit, Alexis Ohanian. Jika disetujui, emoji nya akan release di tahun 2017.

Proposal datang dari negara-negara diseluruh Eropa yang bergulat dengan masalah jilbab - dalam segala bentuknya.
Perdebatan yang berisi kebebasan beragama, kesetaraan perempuan, tradisi - tradisi sekuler dan bahkan ketakutan akan terorisme.

Edisi kerudung ini menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas tentang multikulturalisme di Eropa, karena banyak politisi berpendapat bahwa perlu ada upaya yang lebih besar untuk mengasimilasi minoritas etnis dan agama.

Jilbab dan Islam di seluruh Eropa, 'Emoji ada di mana-mana' Rayouf Alhumedhi mengatakan kepada BBC bahwa ketika berada di grup chat bersama teman – temannya di media sosial, dia telah menyadari tidak ada emoji yang mewakili dirinya, seorang wanita yang mengenakan jilbab.

Setelah membaca artikel tentang desain emoji, ia menulis email yang berisi tentang sebuah ide kepada Unicode.
Penasaran, anggota subkomite Unicode menjawab dan menawarkan untuk membantu menyusun lamaran resmi. “Saat ini, usia ialah representasi yang sangat penting” katanya yang merupakan alasan dibalik proyek ini.

“orang-orang ingin diakui, terutama di era teknologi. Kesempatan besar emoji ini tersebar secara luas”.
“Ada begitu banyak wanita muslim di dunia ini yang mengenakan jilbab. Mungkin hal ini terlihat sepele, namun dapat menjadi perubahan yang besar.

Yang berada di keyboard di seluruh dunia, hal itu benar-benar hebat.”
Untuk meningkatkan dukungan, Mr. Ohanian, Host Reddit berinisiatif mengadakan diskusi online secara live pada hari Selasa, dimana pengguna Reddit bisa berdialog langsung dengan Rayouf Ahumedhi tentang gagasannya itu.

Dan beberapa orang yang ikut bisa terlibat dan mendukung, dimana orang lain masih saja sibuk dan mempertanyakan kebutuhan akan jilbab, yang berasumsi bahwa jilbab merupakan alat yang mengunci kreatifitas seorang perempuan. Panitia yang dibentuk berharap agar proposal yang diajukan kepada Unicode bisa sampai final pada bulan November.

Sumber : http://www.bbc.com/news/world-middle-east-37358719

Hal utama yang di inginkan setiap manusia yakni menjadi orang yang sukses, baik di medan apapun setiap kita pasti menginginkan kesuksesan. Yang sering di kenal dengan manusia hero adalah manusia yang sukses atau dikenal dengan manusia super hero dengan arti manusia super sukses. Berikut penjelasan makna dari Hero itu sendiri mari di simak dengan baik.

Hero merupakan kepanjangan dari Hope, Efficacy, Resiliency dan Optimism. Berikut akan di jelaskan satu-persatu makna dari hal diatas, Hope dengan arti harapan. Yang berisi tentang harapan seseorang, harapan masa depan untuk menjadi lebih baik, harapan positif dalam hidup, pokoknya semua harapan yang ingin di capai di masa depan.

Jika harapan itu tumbuh dengan niat yang baik, maka harapan itu akan memberikan semangat untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dengan harapan itu pula kita masih bisa merasakan nikmatnya kebahagiaan, karna tanpa harapan yang jelas, maka hidup ini terasa membosankan dan akan terlihat hidup tanpa tujuan, oleh karena itu ciptakan harapan dan tujuan yang baik dalam meraih masa depan yang lebih baik untuk menjadi manusai super.

Efficacy adalah rasa percaya diri pada kemampuan dan skill yang dimiliki. Sudah jelas bukan, tanpa rasa percaya diri maka kita tidak akan maju dan berkembang, apalagi tidak mempunyai skill yang baik, maka mustahil kita bisa maju dan berkemabang saat ini. dengan keyakinan percaya diri yang tumbuh dengan baik serta di imbangi dengan skill dan kempuan yang dimiliki, maka kita sudah melangkah untuk menjadi manusai super Hero.

Resiliency adalah kegigihan untuk terus bergerak dan tidak mudah menyerah di tengah jalan. Banyak orang menyebutkan resiliency adalah pilar paling krusial untuk sukses. Hal ini merupakan daya yang paling mantap untuk terus action dan bergerak sesuai dengan visi dan misa serta tjuan yang sudah di rencanakan sebelumnya. Dengan terus bergerak dan jangan putus menyerah, maka kesukesan untuk menjadi seorang super Hero akan segera tercapai.

Optimism adalah sikap optimis yang tumbuh dalam diri, bagaimana sikap optimis tersebut terus tumbuh sehingga apa yang di inginkan yakin akan terwujud dengan jalan yang baik. Maka sikap ini harus tertanam dengan baik untuk menjadi manusia super Hero.

Menjadi manusia super hero ternyata tidak susah bukan, kalau dapat di rangkum dengan singkat, langkah awal apa yang harus di kerjakan yakni buatlah visi dan misi hidup anda dengan jelas, lalu asahlah kemampuan diri dengan kondisi yang terjadi, lalu jangan pantang menyerah sebelum semuanya tercapai dan terakhir anda harus yakin dengan semua yang sudah di rencanakan sebelumnya dan teruslah kejar sampai harapan dan cita-cita tersebut tercapai.

Dengan begitu kita sudah menjadi manusia super yang siap memberikan kemakmuran bagi lingkunganmasyarakat sekitar dan siap berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Terlahir dengan nama Sani Zulviah, dara kelahiran Sukabumi tahun 1993, biasa disapa Sani oleh kawan-kawannya. Sebagai anak dari keluarga petani yang sederhana tidak membuatnya berkecil hati untuk meraih prestasi dan memiliki impian mengenyam pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Sani kecil dikenal sebagai anak yang semangat dan aktif dalam belajar, sehingga banyak prestasi sudah ia raih sejak kecil. Sejak Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Kejuruan, namanya selalu masuk dalam deretan peringkat 3 terbaik.

Prestasi dan semangatnya terus membara hingga ia beranjak dewasa, meski di tengah keterbatasan ekonomi keluarga rasanya sulit untuk mewujudkan cita-citanya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi mulai terbuka kala datang kesempatan untuk mengikuti program Beastudi Dhuafa Berprestasi di kampus STT NF. Program beastudi yang diberikan secara penuh untuk keluarga dhuafa ini memberi kesempatan bagi Sani mewujudkan impiannya menjadi seorang sarjana. Anak ketiga dari empat bersaudara ini memiliki harapan menjadi cahaya dalam keluarganya. Berbekal ilmu yang didapatkan dari kampus STT NF serta gelar sarjana yang dimilikinya, insya Allah dapat membantu upayanya meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan mendapatkan pekerjaan layak.

Kuliah di STT NF notabene jauh dari rumah keluarga, tidak membuat ia takut untuk menjalani kehidupan di kota. Jauh dari keluarga dan bersaing dengan mahasiswa lain membuat ia sadar, butuh kerja keras untuk mengarungi kehidupan demi meraih cita-cita. Semua itu ia lalui demi mewujudkan mimpi besar dalam hidupnya, yaitu belajar dan mengasah diri agar menjadi insan bermanfaat.

Saat menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai organisai kemahasiswaan ataupun organisasi sosial di luar kampus. Puncaknya, ia terpilih sebagai Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa di tahun 2015 dan berhasil membawa perubahan signifikan di tubuh BEM STT NF dengan berbagai terobosan. Ia juga memiliki kelompok yang diberi nama D’Big, yaitu proyek penyadaran publik untuk mengelola sampah, hingga akhirnya menjadi juara 1 dalam kegiatan kepemimpinan LAMPP di kampus. Karena prestasi itu, ia sempat beberapa kali mendapat kesempatan diundang sebagai narasumber dalam kegiatan sosialisasi pelestarian lingkungan.

Aktivitas padat sebagai aktivis organisasi tidak membuat ia lupa akan tanggungjawab utama sebagai mahasiswa. Sesulit apapun keadaan yang sedang dihadapi, ia berusaha untuk memprioritaskan kewajiban kuliah. Berkat kegigihan dan manajemen waktu yang luar biasa, Sani dapat menyelesaikan pendidikan di STT NF hanya dalam waktu 3,5 tahun (7 semester).

Di sela kesibukannya menyelesaikan skripsi, ia masih aktif menjalani aktivitas sebagai Wakil Presiden BEM, bahkan dalam kurun dua pekan setelah sidang akhir skripsi, ia bisa menyelesaikan laporan pertanggungjawaban BEM STT NF 2015 di hadapan mahasiswa. Selain itu, ia aktif mengajar pada sebuah Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Kesibukan yang ia jalani sejak kuliah tingkat awal untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan mengisi waktu luang.

Dengan segala kepadatan aktivitasnya, prestasi Sani di bidang akademik sangat memuaskan. Sejak semester awal hingga akhir perkuliahan selalu meraih IPK diatas 3.0 dan menuntaskan studi dengan predikat cumlaude. Beberapa hari pasca sidang yudisium, ia diterima bekerja di perpustakaan Universitas Muhammadiyah, Sukabumi. Sebagaimana cita-cita besar dalam hidupnya, ingin mengabdi dan bermanfaat dalam bidang pendidikan.

"Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari program Beastudi Dhuafa Berprestasi STT NF. Di STT NF saya ditempa berbagai ilmu dan keterampilan sebagai bekal masa depan. Harapan saya melalui program Beastudi, semoga akan terus lahir insan-insan berguna dan memiliki pondasi diri nan kuat, sehingga lebih siap dan mampu menjadikan Indonesia lebih baik," ujar Sani. (Hendri Nurdiansyah)

Muhammad Agus Arianto atau biasa disapa Agus, begitulah sapaan akrab baik oleh keluarga maupun oleh rekan-rekan mahasiswa, dosen dan seluruh kalangan civitas akademik di STT Terpadu Nurul Fikri. Anak ke dua dari tiga bersaudara ini terlahir dari keluarga yang cukup sederhana. Ayahnya sebagai pensiunan wiraswasta dan ibu yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa membuat ia setelah lulus sekolah tingkat atas hanya mampu bekerja sebagai buruh kasar di salah satu SPBU milik asing sebagai pelayan pelanggan hampir satu tahun. Ia merasa bekerja sebagai pegawai SPBU tidak lantas membuatnya patah semangat untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ke jenjang perguruan tinggi. Atas dasar semangat untuk meningkatkan taraf hidup dan menaikkan derajat pendidikan inilah yang menjadi motivasi utamanya untuk berjuang menampuh pendidikan.

Perjalanan terjal dan berliku pun ditempuh untuk bisa melanjutkan pendidikan tinggi, dari mulai mencoba kuliah malam setelah pulang dari kerja hingga mencari informasi ke kampus-kampus untuk sekedar mengetahui informasi bagaimana bisa berkuliah layaknya orang yang dapat menjadi mahasiswa seutuhnya tanpa harus berletih-letih menghirup harum bensin yang mulai mengisi ruang paru-paru dalam tubuhnya. Demi bisa mewujudkan impiannya tersebut ia rela menjajaki ratusan bahkan ribuan kilometer, panas dan , hujan bahkan badai pun ia terjang dengan kendaraan sepeda besi tua nya hingga pada akhirnya berlabuhlah pada sebuah takdir yang mengantarkan ia pada sebuah kampus yang menjadi titik tolak dalam hidupnya. Diterima salah satu kampus sebagai penerima beastudi mungkin merupakan jawaban atas doa dan kerja kerasnya di sebuah perguruan tinggi yang baru seumur bijih jagung namun sangat berarti besar dalam titik ledak perubahan hidupnya kampus tersebut adalah STT Terpadu Nurul Fikri.

Beda dulu beda sekarang, seiring bergulirnya waktu , kini pria yang memiliki perawakan kecil mungil ini dalam terus proses bermetamorfosis. , sSaat ini ia sedang menyelami dunia baru yang jauh berbeda dari kesibukan yang pernah dilaluinya terdahulu sebelum menerima Beastudi STT Terpadu Nurul Fikri. Kini ia disibukan dalam penitian karier di salah satu IT Konsultan di kota Depok sebagai profesional programmer. dan tTidak hanya sampai disana,itu ia pun mulai menjajaki ketertarikan dan minatnya sebagai seorang internet marketer pada bisnis yang sedang dijalaninya yakni owner sebuah bisnis online yang bergerak di bidang penjualan barang automotive & modification.

Sosok alumni yang menyelesaikan pendidikan S-1 di STT NF dalam kurun waktu 3,5 tahun ini dalam masa perkuliahannya tidak seperti kebanyakan mahasiswa yang hanya berfokus pada akademik saja, pria kelahiran 23 Februari 1993 ini berusaha menyeimbangkan antara menjadi sosok mahasiswa yang tidak hanya sibuk berorientasi dengan kegiatan akademik yang cenderung kebanyakan mahasiswanya tertutup, kurang pergaulan serta jarang bersosialisasi dan sosok mahasiswa aktivis di lingkungan organisasi kampus. Ia adalah sosok mahasiswa yang dikenal memiliki prestasi cukup baik dibidang akademik dan organisasi kampus. Di bidang akademik ia meraih hasil yang cukup baik, dengan tidak adanya satupun matakuliah yang mengulang dari awal perkuliahan hingga semester 7., iIa pun pernah menjadi kandidat mahasiswa berprestasi pada tahun 2013, dan menjadi asisten dosen untuk salah satu matakuliah selama satu semester. Hingga pada masa akhir perkuliahan, ia memperoleh hasil IPK yang cukup memuaskan dan tergolong sebagai lulusan mahasiswa yang mendapatkan predikat cummlaude di kampus.

Selain dari sekelebat perjalanan singkat (red:prestasi) yang telah ia catatkan di akademik kampus STT NF, tidak berhenti hanya sampai disitu , ia pun dikampus dikenal sosok mahasiswa yang berjiwa sosial dan gemar berorganisasi. Hampir seluruh masa kuliahnya ia habiskan sebagai seorang aktivis baik organisasi tingkat kampus maupun organisasi non kampus. Saat baru memasuki perkuliahan tingkat 2 tepatnya di semester 3 ia mengemban amanah menjadi Presiden Mahasiswa pertama pada organisasi internal yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa STT NF selama 1,5 tahun. Selanjutnya masuk pada tingkat 3 ia juga tercatat aktif menjabat sebagai ketua komisi I Dewan Perwakilan Mahasiswa ST NF(DPM). Jiwa sosial dan kepeduliaannya tidak hanya berhenti sampai pada organisasi internal kampus saja, namun ia tularkan kepada organisasi luar kampus. Ia menginisasi pembentukan sebuah wadah kepemudaan di lingkungan desa tempat ia tinggal dan pada momentum yang bersamaan ia pun menjabat sebagai ketua karang taruna tingkat RW pada tahun 2014.

“Tidak ada kata yang pantas terucap dari lisan saya selain rasa syukur yang sangat amat mendalam bisa menjadi bagian dari anugerah terbesar Allah S.W.T yaitu sebagai alumni pertama penerima beastudi. dimana akan senantiasa menjadi dorongan semangat dan motivasi saya dalam menapaki masa depan. sebuah kampus yang membekali saya dengan segudang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebuah kampus yang membimbing lahirnya generasi islami dengan karakter-karakter kepemimpinan yang berjiwa teknopreneur. Sebuah kampus yang mengajarkan arti dan makna kehidupan agar bisa hidup dalam kebermanfaatan demi menggapai masa depan yang lebih baik untuk Agama, Bangsa dan Negara tercinta yang lebih baik, itu semua ialah STT TERPADU NURULFIKRI.” Tutup Agus

Wednesday, 15 June 2016 09:27

Pemuda sebagai Tonggak Kemandirian Bangsa

Written by

Oleh: Agung Prayoga

“Indonesia memang negara kaya, tapi orang-orangnya pemalas dan suka melalaikan tanggung jawab yang diberikan”. Mungkin itulah sepatah kalimat yang diberikan oleh orang Jepang atau bangsa lain yang dikenal pekerja keras, jika ditanya tentang Indonesia. Wajar saja jika ‘penghinaan’ itu dilontarkan kepada masyarakat Indonesia, karena memang kenyataannya kita harus mengakui sebagian fenomena itu.

Bagaimana tidak, bangsa indonesia yang ‘katanya’ negara subur makmur tetapi untuk memenuhi sandang dan pangan saja harus impor dari negara lain? Katanya, Indonesia punya beribu-ribu hektar lahan tebu, tapi mengapa untuk minum teh saja harus mengimpor gula dari luar negeri? Yang lebih ironis lagi, adalah Indonesia mengimpor garam dari luar negeri. Padahal dalam peta terpampang jelas, wilayah kita kepulauan dan lautan yang membentang dari Sabang hingga Merauke yang mempunyai lebih dari tujuh belas ribu pulau.

Sering kita baca juga indeks kekayaan wilayah NKRI, yang menyebutkan Indonesia adalah negara maritim yang sebagian besar wilayahnya berupa lautan. Tapi untuk memenuhi kebutuhan dapur saja harus bergantung pada orag lain. Lantas dimana kekayaan yang sering dibanggakan selama ini?

Itu hanya sebagian kecil fakta yang memperlihatkan, betapa tragisnya stabilitas ekonomi negeri ini. Krisis dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa pun tidak dapat terelakkan lagi. Indonesia sudah sangat kompleks menghadapi segala permasalahanya, tidak hanya pada krisis moral dan kepercayaan para pemimpinnya, akan tetapi juga krisis ekonomi yang sangat mempengaruhi perut rakyat. Kemandirian bangsa tinggal cita-cita yang kembang kempis dimakan arus globalisasi yang berkembang pesat.

Tidak bisa dipungkiri Indonesia memang punya sumber daya alam yang berlimpah. Namun, kenyataanya banyaknya SDA tidak bisa menjadikan negara ini lebih unggul. Bahkan, untuk bisa sejajar dengan bangsa lain pun masih sulit. Bisa dibilang Indonesia sudah tertinggal jauh, jika berkaca pada negara -negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Seharusnya kita bisa mengatakan “kita bisa”, bahkan kita seharusnya “lebih bisa” dari mereka, bila dilihat dari sudut sumber daya alam yang kita miliki. Kita punya berbagai macam flora dan fauna yang tersebar di seluruh Nusantara. Akan tetapi, yang jadi pertanyaan adalah mengapa kita “tidak bisa” seperti mereka, bahkan lebih dari mereka? Nah, mungkin jawabannya adalah karena minimnya sumber daya manusia yang mampu mengelola dan meningkatkan pembangunan ekonomi. Semua harus didukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Siapa yang menjadi penopang utama SDM tersebut? Tentu saja para pemuda sebagi penerus dan pemangku cita-cita bangsa. Saat ini, pemuda mempunyai kesempatan. Sebuah kesempatan untuk memperbaiki anjloknya berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam bidang ekonomi.

Sebagai pemuda sudah selayaknya kita mengambil peran kita dalam kehidupan berbangsa. Kita harus bisa menjalankan tugas dan kewajiban sebagai generasi penerus bangsa yaitu mampu melakukan perubahan. Sebagai tulang punggung perekonomian yang memikul tanggung jawab demi memajukan bangsa, pemuda harus bisa melanjutkan dan mengisi perannya untuk pembangunan dan perbaikan bangsa, termasuk dalam bidang ekonomi. dengan menggali kembali eksistensi dalam cita-cita kemandirian bangsa di bidang perekonomian.

Apa yang harus kita lakukan sebagai pemuda untuk mewujudkan kemandiria bangsa?

Pertama, meningkatkan produktivitas dan kualitas dalam proses industri. Tanpa peningkatan tersebut kita tidak akan mampu besaing, karena kenyataanya masyarakat kita lebih percaya pada produk luar. Sebuah kalimat “kemandirian” akan terealisasi, jika sebagai penggerak pembangunan pemudanya mampu meciptakan konsep kreatifitas dan daya saing guna memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri, baik dalam kebutuhan sandang, pangan maupun papan.

Kedua adalah membiasakan untuk menjadi pencipta sesuatu yang selalu muncul dengan gebrakan-gebrakan kreatifitasnya, sehingga kita sebagai pemuda tidak hanya menjadi penikmat konsumsi. Muncul ini ikutan ini, muncul itu ikutan itu. Harus kita akui arus globalisasi yang berkembang dewasa ini meyebabkan kaburnya batasan antar negara. Tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Dalam keadaan seperti itu pemuda dituntut untuk lebih kreatif dalam mengeluarkan ide-idenya.

Untuk menghadapi globalisasi dan perubahan yang semakin pesat dibutuhkan peranan pemuda dalam perencanaan menjadi kelompok inovatif, kreatif, kompetitif, mandiri serta mempunyai ketangguhan untuk tetap bertahan pada persaingan dengan dunia luar. Sebenarnya perlu dibangun oleh bangsa Indonesia adalah kualitas SDM, dimana kekuatan terbesar SDM terletak pada generasi muda

Ketiga, mewujudkan kemandirian dan kemajuan bangsa perlu didukung oleh kemampuan mengembangkan potensi diri dan konsep yang terarah. Konsep kemandirian itu sendiri bisa diartikan sebagai upaya pemenuhan dan pengerjaan segala sesuatu untuk diri sendiri dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Sebisa mungkin tidak bergantung pada orang lain sesuai dengan semangat yang dicita-citakan oleh Bung Karno: berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).

Peranan pemuda dalam pembangunan bangsa, terutama dalam pembangunan perekonomian, sangat dibutuhkan. Pada hakikatnya, pembangunan yang dilakukan adala pembangunan insan-insannya, agar bisa menjadi SDM berkualitas, karena SDA yang melimpah saja tidak cukup jika tidak didukung oleh SDM berkompeten dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kita harus percaya bahwa para pemuda Indonesia lahir dan hidup saat ini bisa membangun perekonomian demi kemajuan dan kemandirian bangsa, serta mampu membwa Indonesia menuju developed country( negara maju) sehingga tidak hanya berada pada status quo sebagai negara berkembang. Karena dengan kemandirian dan eksistensi dalam pembangunan itulah kita akan diakui dan bermartabat dalam pergaulan dunia, dan itu menjadi tugas kita sebagai generasi muda untuk mewujudkannya. Melalui semangat dan eksistensi kita menjadi seorang pemimpin dan penopang harapan di masa depan. []

Mari kita mengenal lebih dekat Alumni STT NF angkatan pertama (tahun 2012) dari jalur Beastudi. Ia adalah pria kelahiran Jakarta, 8 April 1988 yang pernah dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi (MaPres) STT NF selama 2 kali berturut-turut. Hendra Aditiyawijaya, demikian nama lengkapnya, di kampus ia dikenal sebagai sosok yang prestatif serta aktif, baik dalam penelitian akademis maupun kegiatan organisasi. Hendra adalah nama panggilan yang biasa dipanggil di lingkungan kampus, dan dipanggil Siwi di lingkungan tempat tinggalnya di daerah Cilodong Depok.

Ia terlahir dari keluarga sederhana, dari seorang Bapak yang berprofesi sebagai arsitek dan ibu yang sebagai pengelola rumah tangga. Ia merupakan anak pertama dari 3 bersaudara yang sejak kecil selalu ditanamkan nilai-nilai agama dan keilmuwan oleh kedua orang tuanya. Betapa tidak, sejak kecil ia dan adik-adiknya hanya diijinkan menonton televisi selama 3 jam saja dan lewat waktu maghrib adalah waktu untuk mengaji serta belajar. Melalui pola pendidikan yang baik, tanpa pernah ada omelan atau kekerasan dari orang tua, membuatnya secara inisiatif untuk banyak belajar dan dekat dengan orang tua.

Hendra merupakan salah satu mahasiswa berpresatasi selama menjalani perkuliahan di program Studi Sistem Informasi dari jalur Beastudi di STT NF. Setelah mengecap pendidikan selama kurang lebih 3,5 tahun atau 7 semester, ia berhasil lulus dengan mendapatkan predikat cumlaude dengan nilai IPK 3.80.

Ketika di bangku kuliah, selain mendapat kepercayaan sebagai MaPres, ia juga tercatat sebagai mahasiswa yang memiliki minat dalam bidang penelitian. Beberapa hasil penelitiannya bersama salah satu dosen STT NF, Amalia Rahmah yaitu: Penerapan Knowledge Management Berbasis Open Source di STT NF; Cara, Gaya, dan Teknologi Pendukung Pembelajaran dan Peningkatan Knowledge Sharing Untuk Membentuk Jiwa Entrepreneur Pada Kegiatan Mentoring Mahasiswa STT NF Melalui Pengembangan Simentor.

Di kampus STT NF, mahasiswa memang dimotivasi untuk menghasilkan karya. Hal ini karena, dengan menghasilkan karya maka masyarakat akan mengetahui sampai sejauh mana kualitas mahasiswa yang berkuliah di STT NF. Ia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan beasiswa dari STT NF, karena di kampus ini mahasiswa mendapatkan support dan bantuan untuk bisa terus menghasilkan karya.

Ketertarikan di bidang penelitian tidak menyurutkan tekadnya sebagai mahasiswa untuk aktif dalam organisasi kampus maupun sosial kemasyarakatan. Semasa kuliah, ia tercatat aktif dalam Ikatan Mahasiswa STT NF sebagai Kepala departemen Pendidikan dan keilmuwan BEM STT NF tahun 2014, ia juga pernah tercatat sebagai salah satu pendiri dan ketua umum Lembaga Dakwah Kampus, SENADA STT NF yang di dirikan pada tahun 2015. Selain itu, hobinya dalam menulis juga pernah mengantarkannya diundang dalam Seminar Nasional Sistem Informasi, di ITS Surabaya pada 2015 lalu, untuk mempresentasikan makalah ilmiah tentang knowledge sharing. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, Dimana ia juga pernah aktif sebagai volunteer di Dompet Dhuafa dan Pecinta Anak Yatim Jakarta. Semua akivitas ini ia lakukan demi mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ditanamkan di STT NF.

Sebagai seorang mahasiswa yang merasakan nikmatnya pendidikan di bangku kuliah, maka sudah menjadi kewajiban baginya untuk bisa menyebarkan kebermanfaatan atas ilmu yang didapat. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, masyarakat sekitar dan bangsa. Menurutnya, ”Sampai sejauh mana kontribusi seorang mahasiswa adalah cerminan motivasi untuk terus berprestasi. Dimana tingkat kebermanfaatan mahasiswa terlihat tidak hanya di kelas, juga melalui lembaga, komunitas atau bahkan gerakan sosial yang dilakukannya”.

Hobi yang dimiiki oleh pemuda ini adalah blogging, programming, membaca novel, bermain bulutangkis dan mengajar. Salah satu hobinya, yaitu mengajar, berhasil membuatnya mengenal salah satu bidang pekerjaan yang cukup mengasyikkan, itu adalah saat dimana ia dipercaya sebagai trainer Oracle Database di DitJen Pajak dan juga asisten trainer Database di Pusdiklat Keuangan Umum, Kemenkeu. Inilah salah satu jalan yang membuatnya dikenal sebagai mahasiswa dan alumni dari STT NF oleh masyarakat luas dan professional lainnya. Sebuah bekal ilmu yang ia dapatkan sejak kuliah hingga saatnya dipercaya sebagai trainer di lembaga pemerintah adalah nikmat dan peluang baginya untuk mengembangkan diri serta membawa nama kampus agar makin dikenal dengan prestasi. Hingga saat ini setelah ia lulus, ia dipercaya untuk bergabung bersama tim project sebagai Business intelligent Analyst di SKK Migas, bersama tim dari PT. LAPI ITB.

Satu kunci rahasianya selama ini ialah tidak pernah lepas meminta doa restu dari orangtua. Baginya, orang tua sangat berjasa, terutama Ibu. Bagaimanapun kondisinya, ia selalu bercerita dan memohon doa tentang apa yang ia akan kerjakan. Baginya, berikhtiar maksimal untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi orang banyak juga merupakan amal jariyah bagi orangtua.<>

Page 1 of 3