×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 986

Kisah dan Curhat

Kisah dan Curhat (46)

Wednesday, 06 September 2017 07:00

First Time

Written by

Untuk pertama kalinya Aku dapat mengunjungi dan menikmati keindahan Kota Malang. Di kota yang terkenal dengan Apel Malangnya ini Aku diberikan kesempatan untuk berjuang membawa nama baik Kampus dalam Lomba MTQMN. MTQMN yaitu kepanjangan dari “Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional” adalah Lomba Tingkat Nasional yang diadakan setiap dua tahun sekali dan dikhususkan untuk seluruh Mahasiswa Jenjang S1 seluruh Indonesia. Lomba ini diadakan oleh KEMENRISTEKDIKTI. Pada tahun ini MTQMN ke 15 dilselenggarakan di Kota Malang yaitu di Universitas Malang (UM) dan Universitas Brawijaya (Unibraw). MTQMN XV 2017 memiliki Jargon yaitu “Salam Pemuda Qurani.”

Setelah diadakannya Seleksi Calon Kafilah dari pihak Kampus, akhirnya terpilihlah Kafilah MTQMN XV yang mewakili Kampus Nurul Fikri. Kami para Kafilah MTQMN XV Kampus Nurul Fikri pergi ke Kota Malang dengan menggunakan Kereta Api Indonesia (KAI). Untuk transport Jakarta - Malang dari pihak Kampus sudah menanggungnya. Karna tempat duduk kami saling berdekatan, untuk mengisi keboringan yang ada karna lamanya perjalanan Jakarta - Malang yaitu selama 16 jam, kami bermain tebak-tebakan yang menyebabkan tawa kami pecah dan membuat heboh satu gerbong kereta. Ada penumpang lain yang merasa keberisikan dan ada juga yang memikirkan jawaban dari teka-teki yang kami mainkan.

Setelah 16 jam didalam kereta, akhirnya kami sampai di Stasiun Malang. Saat kaki ini menginjak Kota Malang, Kota yang baru pertama kali Aku injak, Aku mengucapkan Syukur Alhamdulillah karna diberikan keselamatan dan diberikan kesempatan sampai di Kota Malang. Ternyata kami sudah dijemput oleh Panitia MTQMN XV yang juga menjadi LO dari Kampus Nurul Fikri. Para Kafilah MTQMN XV dari seluruh Indonesia diberikan fasilitas menetap di Asrama Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Disini semua hal tercukupi, makan diberikan selalu 3 kali sehari plus buah dan puding, transportasi yang mengangkut para Kafilah untuk pergi ke Universitas Brawijaya atau Universitas Malang sangat memadai dan cukup banyak, untuk para Akhwat disediakan mobil dari Asrama Akhwat ke Masjid tempat berkumpul, jadi tidak terlalu capek berjalan jauh, bahkan jika malam hari di Asrama UIN ini dibuka kantin yang menjual snack dan minuman hangat yang cocok untuk ngemil dengan harga murah.

Bukan hanya lomba saja, tapi di MTQMN XV 2017 ini ada berbagai macam acara yang tak kalah seru, yaitu Kajian yang dibawakan oleh ustadz-ustadz luar biasa contohnya Taqy Malik, Syekh Ali Jaber dan lainnya, Parenting dengan pembicara-pembicara yang sangat ahli dibidang Parenting, dan juga Bazzar yang menyediakan banyak barang-barang yang berbau MTQMN dan oleh-oleh khas Malang. Dan juga disediakan sepedah gratis yang dapat digunakan hanya di lingkungan Universitas Brawijaya.

Pada malam harinya setelah kami tiba di Kota Malang diadakanlah pembukaan MTQMN XV 2017. Saat tiba di Panggung Utama kami semua terkagum karna panggung utamanya sangatlah besar dan dekorasi dari panggungnya sangatlah indah. Kafilah dari cabang lomba lain sangatlah terkagum kagum, tapi bagi tim MSQ panggung sebesar ini menambah ke khawatiran kami, karna Lomba MSQ ditampilkan di Panggung Utama.

Serangkaian acara ditampilkan pada Pembukaan MTQMN XV 2017. Penampilan-penampilan yang luar biasa membuat kami kagum sampai bengong melihatnya. Karna waktu sudah cukup malam, kami pun memutuskan untuk pulang ke Asrama UIN, tetapi ada satu hal yang membuat kami ingin kembali ke panggung utama yaitu penampilan dari Opick. Dia menyanyikan sebuah lagu yang membuat kami ragu dan bimbang antara pulang atau kembali ke panggung, tetapi kami memilih pulang. Jika saat ini tidak bisa melihat Opick, saat penutupan nanti kami bisa melihat Fatin Sidqia Lubis.

Pada MTQMN XV 2017 ada 13 cabang lomba, dan cabang lomba yang Aku pilih adalah Musabaqah Syarhil Quran (MSQ). MSQ ini berbentuk sebuah tim yang terdiri dari Pensyahr (pidato), Tilawah, dan Puitisasi, dan aku pada bagian Puitisasi. Sebelum lomba MTQMN ini dimulai, tim MSQ sudah berlatih selama kurang lebih 2 bulan dan kami tim MSQ disuruh memilih 5 tema dari 10 tema yang diberikan oleh panitia dan harus membuat 5 naskah dari 5 tema yang sudah dipilih.

Tim MSQ mendapatkan urutan tampil pada hari Ahad dan masih ada satu hari untuk latihan kembali. Saatnya pun tiba, tema baju tim MSQ kami adalah coklat susu. Aku yang ditugaskan untuk mengambil nomor urut tampil, “Bismillahirrahmanirrahim”, yeay Alhamdulillah nomor urut “035” itu yang artinya nomor urut 2 dari terakhir dan kami bisa berlatih dan mempedalam kembali tema yang akan kami bawakan.

Tibalah waktu tampil kami dengan rasa gugup karna tampil di atas Panggung Utama yang sangatlah besar, tapi kami akan menampilkannya dengan sebaik mungkin. Dan akhirnya Alhamdulillah, semuanya lancar walaupun ada beberapa kesalahan tapi menurut yang lainnya itu sudah sangatlah bagus. Selain MSQ, Tartilil dan Tilawatil dari Kafilah Kampus Nurul Fikri tampil pada hari Ahad.

Ada 122 tim yang mendaftar pada Lomba MSQ, dan yang masuk Final hanyalah 6 tim. Setelah semua peserta MSQ tampil, pengumuman pun tiba, dan Takdir Allah berkata bahwa untuk tahun ini tim MSQ kami belum masuk Final tapi Insya Allah masuk Final pada MTQMN XVI 2019. Aamiin. Walaupun sedih, tapi yang namanya perlombaan pasti ada yang menang dan ada yang kalah, apalagi saingannya Kafilah dari seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, walaupun nilainya beda tipis itu sangatlah berpengaruh. Perlombaan ini Aku jadikan pengalaman dan pembelajaran untuk kedepannya.

Sebelum para Kafilah pulang ke daerahnya masing-masing, Panitia MTQMN XV mengadakan agenda wisata yaitu pergi ke Pantai Balekambang dan Pantai Goa Cina. Dan ini untuk pertama kalinya juga Aku pergi ke pantai dengan pemandangan yang sangat indah. Aku sangat suka dengan pemandangan di pantai ini, Masya Allah apalagi Pantai Goa Cina yang menyajikan pemandangan ombak yang tinggi dan kencang. Selama di pantai Aku sangat senang bermain basah-basah dan menyeburkan diri ke pantai. Pengalaman dan Kenangan di Kota Malang ini sangatlah indah dan menyenangkan, terlebih lagi Aku menemukan keluarga baru yang mensupport satu sama lain, merasakan senang dan sedihnya bersama-sama selama satu minggu di Kota Apel ini.

Tuesday, 05 September 2017 02:51

Unforgottable Moments In Malang City

Written by

Malang? Itu adalah sebuah Kota indah yang belum pernah terpikirkan sedikitpun untuk dikunjungi. Karena sebenarnya ada destinasi tempat yang harus Aku kunjungi yang tertera dalam buku resolusiku. Kala itu sedang duduk santai menikmati nada bersahutan yang berasal dari handphone akibat masuknya pesan dari Whatsapp. Ketika Aku buka, sempat tidak percaya waktu membacanya. Karena pesannya adalah terpilihnya Aku sebagai Delegasi Musabaqah Cabang Tartilil Qur’an Kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Sontak gembira dan langsung Aku kabari Ibuku yang sedang memasak di dapur. Reaksi Bersyukur, Positif, Haru, Bangga dan Bahagia pun muncul dari raut wajahnya.

Mulai saat itu, peraturan – peraturan pun mulai dibuat oleh Ibuku sampai jadwal belajar pun diatur oleh Ibuku. Tidak boleh makan ini, tidak boleh minum itu sampai hari perlombaan itu tiba. Yaaa sempet kesel sih karena tidak bisa makan sesuka nafsu dan minum sesuka hati. Tapi Aku yakin itu yang terbaik untukku. Setiap pagi harus jalan – jalan di luar untuk memperpanjang napas sehingga nanti Aku saat lomba tidak kehabisan napas. Benar saja, beberapa kali Aku lakukan, Alhamdulillah suaraku mulai merdu dan tajwid mulai lebih baik dari sebelumnya begitu juga napasku lebih panjang dari sebelumnya. Selain dibimbing oleh Ibuku, Kampus STT NF pun memfasilitasi Ustadz yang ahli dibidangnya untuk membimbing Musabaqoh Cabang Tartilil dan Tilawatil.

Alhamdulilah Allah swt permudah segalanya hingga tanggal yang aku nanti – nantikan itu hadir. Yap! Kemarin adalah Tanggal 27 Juli 2017. Aku belum sempat packing dari sebelumnya karena memang numpuknya aktivitas pada saat itu, hingga akhirnya harus packing di hari H. Aku mendapat kereta jam 18.16 wib di Stasiun Pasar Senen. Dan saat hari H itu, grup yang diberi nama Peserta MTQ MN XV itu sangat ramai. Dan Official kami yaitu Kak Nina dan Kak Yudho sangat membantu kami mulai dari tibanya kami di Stasiun Pasar Senen sampai pulang ke rumah. Aku mulai langkahkan kaki dengan tingginya tas karena Aku membawa cariel dan tas selempang kecil di depan ke Stasiun Pasar Senen. Dan akhirnya sampailah di Stasiun Pasar Senen sekitar jam 16.00 wib. Disana kami janjian dengan Delegasi Cabang lain dan akhirnya bertemu. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wib, dan teman kami belum juga menunjukkan batang hidungnya yaitu Akmal. Gelisah mulai melanda. Dan akhirnya kami memutuskan untuk masuk sebagian ke kereta dan meninggalkan satu teman kami untuk menunggu Akmal.

Kami kumpulkan tiket kereta dan ktp kami, dan saat itu satu teman kami terlihat bingung mencari keberadaan tiketnya. Dan akhirnya dia pun bilang kalau tiketnya hilang. Kami pun kaget dan mulai kacau, akhirnya dia hampir pasrah untuk tidak ikut ke Malang, tapi akhirnya Agung membantu mencarinya dan akhirnya ketemu. Yap! Tiketnya diselipan tasnya dan dia nyari di dompet yaa jelas tidak ketemu lah hehe. Akhirnya kami langsung bergegas masuk ke kereta dan mencari no kursi yang sesuai dengan yang tertera di tiket kereta. Kami pun menunggu Akmal dan Nendi yang menunggu Akmal di Stasiun Pasar Senen, dan akhirnya sampailah mereka di dalam kereta.

Alhamdulillah Allah swt selalu mempermudah langkah kami. Setelah itu kami terus menikmati perjalanan yang ditemani oleh suara gujes gujes selama kurang lebih 16 jam. Dengan bangku yang super serius kalau kata Chai, kami nyaman disana karena adanya kebersamaan yang menurutku indah dan tidak bisa dilupakan. Selama perjalanan bangku yang diduduki kami selalu ramai dengan celotehan Agung, pertanyaan yang tidak berfaedahnya Agung dan jawaban yang tidak berfaedahnya kami hehe. Sampai akhirnya orang – orang yang duduk disekeliling kami ikut merasakan kebahagiaan. Akhirnya tulisan “Malang” pun muncul di depan kereta kami dan tandanya kami sudah sampai di kota tujuan.

Kami pun bergegas merapikan bawaan kami dan menggendong apa yang kami bawa sampai kami bertemu dengan Panitia yang membimbing Kampus kami selama di Malang. Kami naik ke elf dan sepanjang perjalanan menuju UIN Malang, bahasan kami adalah bakso dan makanan karena kondisi perut yang sudah harus diisi hehe. Di saat itu, kami sudah mendapat jadwal tampil kami dan rasanya jantung berasa sedang jatuh cinta terus – menerus karena detakannya yang terlalu cepat. Dan aku mendapat jadwal tampil di Hari Ahad di sesi pertama dari jam 07.00 – 12.00 wib di Universitas Brawijaya. Sesampainya di UIN, kami segera mencari Asrama kami dan disitulah kami berpisah dengan teman Ikhwannya karena area Ikhwan dan Akhwat yang terpisah lumayan jauh. Kami bawa barang – barang kami menuju Asrama Fatimah, karena kata LO kami, kamar kami di Asrama Fatimah. Sesampainya di Asrama Fatimah, kami mendapat kamar di lantai 4 paling atas.

Menaiki tangga dan membawa segudang perlengkapan itu luar biasa dan sampailah kami di depan kamar 51. Kami melihat nama yang tertempel di pintu kamar, ternyata tidak ada nama kami, akhirnya kami mengecek Asrama kami di handphone, dan ternyata Asrama kami Asma bukan Fatimah. Sungguh luar biasa perjuangan hari itu. Sesampainya di dalam kamar, kami rebahkan tubuh kami yang mulai butuh dengan Kasur. Kami sekamar dengan mahasiswi dari UNS (Universitas Negeri Solo) karena jumlah kami sedikit hanya bertiga. Mulai hari itu, kami mulai latihan dengan cabangnya masing – masing dan Aku dibantu sama Ibuku belajar menggunakan Video Call.

Ahad pun tiba, pagi hariku sudah rapi dengan Almamater Biruku dan Aku kalungkan Id Card Musabaqahku. Tak lupa Aku bawa Qur’an yang Ibuku pesan. Aku latihan terus menerus dan perasaan mulai tidak karuan sulit untuk dijelaskan. Sungguh luar biasa detakan jantung pada saat itu. Aku langkahkan kaki menuju Unibraw dan sampailah di gedung dimana aku akan lomba yaitu Gedung UB TV. Aku masuk ke ruangan itu ditemani dengan Dua Official Kampusku. Maa syaa Allah melihat gedung itu, suasana itu panggung itu dan juri itu membuatku ingin pulang saja. Tapi Aku ingat dengan nasihat – nasihat Ibuku kalau Aku harus menampilkan yang terbaik.

Sesi pertama pun dimulai, Aku mendapat no urut 112 dan dipersilahkan duduk di tempat peserta. Lagi – lagi detakan jantungku tidak karuan setelah melihat peserta demi peserta tampil. Dan tibalah saat giliranku, Aku pun dipersilahkan duduk di tempat khusus pertanda setelah ini adalah no urut ku. Dan Aku dipersilahkan untuk mengambil Maqra’ atau bacaan yang akan Aku baca nantinya. Rasa takut, senang, haru, was - was , deg - degan campur aduk kala itu. Aku di breafing oleh Panitia dan MC menyebutkan no urutku pertanda Aku harus masuk ke ruangan kaca itu. Aku pun berjalan menuju ruangan kaca itu dimana seluruh kampus yang terdaftar dalam musabaqoh cabang ini, duduk ditempat itu.

Tidak ada suara sama sekali yang terdengar dalam ruangan itu, Aku hanya melihat lampu pertanda Aku harus memulai bacaanku. Awalnya grogi, tapi lama – kelamaan Aku menikmati membaca di dalam ruangan itu, ternyata tidak segrogi yang Aku bayangkan. Lampu sudah berwarna merah pertanda bacaanku mulai diselesaikan. Dan Alhamdulillah sekali lagi Allah swt permudah segalanya. Aku serahkan segala ikhtiarku padaNya. Saat itu pertama kalinya Aku menikmati udara segar di Kota Malang dengan detakan jantung yang normal karena lepasnya tanggung jawab besarku saat itu.

Akhirnya kami pun menentukan tujuan jalan – jalan kami, karena di setiap MTQMN ternyata ada saat jalan – jalannya. Bersyukur sekali Aku pada saat itu bisa merasakan indahnya Pantai di Malang. Tidak terasa 8 hari sudah kami lewati bersama. Dan Tanggal 3 Agustus pun tiba, tandanya kami harus bersiap – siap kembali ke Jakarta. Rasanya ingin berlama – lama disana dengan suasana yang teduh karena Lantunan Al Qur’an dan sejuknya Kota Malang, tapi perjuangan kami belum selesai di Jakarta. Nilai pun mulai keluar satu per satu dan Allah swt masih belum memberikan Kampus kami STT NF masuk ke Final. Tapi kami tidak berputus asa, bahkan kami bertekad untuk ikut pada MTQ MN selanjutnya. Karena menurut kami, bukan karena kami tidak layak untuk masuk ke Final , tetapi Allah swt tahu waktu yang tepat untuk Kampus kami STT NF terpilih ke babak Final.
Wallahu a’lam bisshowaf

Monday, 04 September 2017 03:17

MTQ MN XV 2017

Written by

Semua berawal ketika ada info MTQMN (Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional) XV 2017, saya pun mencoba mendaftarkan diri untuk diseleksi dari kampus. Pada hari yang telah ditentukan seleksi pun dimulai, kami diminta untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Banyak dari kami yang mendapatkan koreksi dari penguji termasuk saya guna kembali memperbaiki bacaan kami karna sangat penting mengingat apa yang akan kita baca adalah mukjizat terbesar Rasulullah SAW dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Alhamdulillah saya terpilih untuk mewakili STT Terpadu Nurul Fikri dengan kategori tartilil Qur’an. Karena masih memiliki waktu sampai hari berlangsungnya MTQ MN di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang maka kami pun melakukan pelatihan baik itu yang sudah disediakan oleh kampus maupun latihan individu masing-masing, baik itu dengan guru kami maupun tilawah setiap harinya agar lidah kami selalu terbiasa dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Telah tiba waktu untuk pergi ke kota Malang dimana MTQMN digelar, saya pun berangkat dengan ojek online menuju st. Tanjung barat karena telah ditunggu oleh mahasiswa/i STT NF yang menjadi peserta MTQ MN juga untuk berangkat ke st. Pasar senen karena keberangkatan kami dari sana. Setiba di st. Pasar senen kami pun menunggu kereta kami yang akan berangkat pukul 17.30 dan akan tiba di Malang pukul 10.00. Waktu perjalanan selama 16 jam tidak terasa di kereta karena diisi dengan canda tawa dari kami untuk menenangkan hati agar tidak gugup saat sampai di Kota Malang. Sesampainya di Malang kami pun disambut oleh LO (Liason Officer) kami yang bernama mas Musleh Kadafy dengan ramah untuk mengantarkan kami ke asrama kami di UIN Maliki (Maulana Malik Ibrahim). Setelah sampai di asrama kami pun bersiap untuk sholat jum’at, setelah itu kami di briefing oleh official kami yaitu bang yudo dan kak nina tentang situasi perlombaan besoknya. Malam hari tiba kami pun pergi ke Universitas Brawijaya untuk menyaksikan pembukaan MTQ MN XV 2017, sebuah pembukaan yang spektakuler yang masih terbayang di ingatan saya. Bagaimana pesembahannya, pencahayaannya, dan penampilan qori yang menggetarkan hati kami semua.

Hari telah berganti, setelah selesai sholat shubuh berjama’ah di Masjid UIN Maliki kami pun bersiap untuk menuju Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) menggunakan bus yang telah disediakan oleh panitia MTQMN untuk mengikuti babak penyisihan. Karena kategori yang berbeda kami pun berpisah untuk menuju tempat seleksi masing-masing. Untuk Kategori Tartilil Qur’an yang mewakili STTNF ada 2 mahasiswa yaitu saya dan Afifah Sausan yang juga menjadi teman sekelas saya di Kampus STTNF, kami pun didampingi oleh kak nina selaku official kami. Setiba di tempat penyisihan kami pun diminta untuk registrasi ulang dan mengambil nomor urut tampil kami dan dipersilakan duduk untuk menunggu giliran pengambilan maqro bacaan kami.

Sambil menunggu dimulainya babak penyisihan saya pun mencoba menenangkan hati dengan membaca Al-Qur’an. Pada pukul 08.00 babak penyisihan pun dimulai oleh MC di kategori tartilil qur’an, setelah pembukaan selesai MC pun memanggil peserta pertama untuk mengambil maqro bacaan dan bersiap untuk naik ke panggung. Waktu terus berlalu dan peserta mulai bergantian melantunkan ayat suci Al-Qur’an sesuai maqro bacaan yang mereka ambil. Sesaat sebelum saya maju untuk mengambil maqro ternyata ada break selama 15 menit, saya menggunakan waktu tersebut untuk berwudhu lagi untuk menenangkan hati saya. Pada pukul 10.10 penyisihan pun dimulai kembali dan nama saya pun dipanggil untuk mengambil maqro bacaan, dan saya pun mendapat maqro QS. Al-Hajj ayat 1-5.

Saya pun dipersilakan untuk naik ke panggung dan masuk kedalam ruangan kaca yang kedap suara. Gugup yang saya rasakan sesaat sebelum tampil membuat saya kurang percaya diri saat akan memulai bacaan. Lampu hijau telah menyala pertanda diizinkannya memulai bacaan. Saya pun mulai membaca dengan hati-hati agar tidak ada kesalahan dalam bacaan saya, pada ayat terakhir saya melakukan kesalahan kecil yang menyebabkan pengurangan terhadap nilai saya. Lampu merah telah menyala menandakan akhir dari bacaan, saya pun mengakhiri bacaan saya. Alhamdulillah tidak ada kesalahan fatal terhadap bacaan saya, walaupun sempat terpeleset di ayat terakhir dikarenakan kurang menarik nafas saat akan memluai bacaan kembali, tapi saya tidak menyesal karena telah berani tampil dan sudah memberikan yang terbaik untuk STT NF. Saat selesai di kategori tartilil kami pun melihat seleksi kategori yang lain dan disana kami bertemu dengan LO kami lainnya yaitu mba Ulyl. Setelah kami semua selesai melaksanakan seleksi di hari itu kami pun kembali ke asrama masing-masing.

Hari pun terus berganti, Tak lupa kami pun diberikan penawaran untuk sekadar jalan-jalan dibeberapa objek wisata di Kota Malang oleh panitia MTQMN, kami pun setuju untuk memilih Pantai Balekambang dan Pantai Goa Cina. Tiba hari dimana kami akan pergi jalan-jalan di Kota ngalam (Malang) begitu sebutan orang sana, mereka sering membalik perkataan mereka seperti “arek malang” menjadi “kera ngalam”, “singo edan” menjadi “ongis nade” dan banyak lagi. Kami diminta untuk berkumpul di depan masjid UIN Maliki untuk menunggu bus keberangkatan menuju destinasi tujuan kami bersama dengan peserta MTQMN lainnya oleh panitia Seharian penuh kami bermain pasir dan air di kedua pantai tersebut, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 16.00 yang menandakan kami harus kembali ke bus kami untuk perjalanan pulang menuju asrama kami di UIN Maliki.

Hari kembali berganti, jam menunjukkan pukul 04.30 kami pun disambut dengan lantunan adzan shubuh dan udara dingin kota Malang dan kami pun bersiap untuk sholat shubuh. Setelah sarapan pagi kami pun kembali menuju Universitas Brawijaya untuk melihat pengumuman seleksi dan berjalan-jalan di bazaar MTQMN untuk membeli buah tangan. Kabar hasil pengumuman kami sudah kami terima dan Alhamdulillah Allah belum mengizinkan kami untuk melaju ke babak final, mungkin ini adalah teguran dari Allah agar kami terus belajar dan berjuang lagi dikemudian harinya. Kekalahan tersebut tidak membuat kami berkecil hati, karena seperti kata official kami “ngga usah sedih dan nyesel mungkin Allah belum mengizinkan kalian masuk ke babak final tapi Allah sudah mengizinkan kalian untuk mendapatkan pengalaman berharga ini yang ngga bisa di dapetin sama mahasiswa Nurul Fikri lainnya, tetep semangat belajar Al-Qur’an nya semoga MTQMN selanjutnya Allah mengizinkan kalian lagi untuk kembali ikut serta dan bisa masuk final”. Pengalaman yang sudah kami dapat dari Malang tersebut In Syaa Allah menjadi modal kami dan mahasiswa Nurul Fikri lainnya untuk MTQMN XVI 2019.

Tidak terasa sepekan sudah kami di Kota Malang, kami pun harus kembali ke Kota Depok untuk kembali melakukan aktivitas kami disana. Saat akan pulang kami pun berpamitan dengan LO kami disana, sayangnya kami hanya dapat bertemu dengan mas musleh karena mba ulyl masih ada urusan di Universitas Brawijaya. Sebelum naik ke mobil yang akan mengantarkan kami ke st. Malang Kota baru saya dan nendi sempat berfoto dengan mas musleh untuk mengabadikan momen terakhir kami di MTQMN XV 2017 tersebut.

Demikian sedikit kisah saya saat berada di Malang dalam Kompetisi Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional ke-15 Tahun 2017 (MTQ MN XV 2017), Semoga kisah singkat tersebut dapat menginspirasi siapa saja yang membacanya.

Friday, 09 June 2017 04:37

Rest Area Bersih dan Nyaman

Written by

Kebutuhan mahasiswa akan tempat yang bersih dan nyaman ketika belajar menjadi penunjang dalam menciptakan kreativitas dan untuk mendapatkan nilai yang baik. STT Nurul Fikri merupakan Kampus IT yang mencetak generasi muda untuk menjadi Technopreneur, Jago IT, dan serta mempunyai Karakter yang baik, dengan adanya tempat santai untuk belajar dengan dilengkapi fasilitas wifi akan membantu mahasiswa meraih prestasinya.

1

Rest Area STT Terpadu Nurul Fikri terdapat di beberapa lokasi yakni di Gedung B1 di depan musola dan kantin, dan di Gedung B2 di samping pos satpam serta tersedia di samping kiri dan kanan Kampus Nurul Fikri.

Layanan ini diberikan kepada mahasiswa STT NF agar ketika mengerjakan tugas dan tempat berkumpul bisa dijalankan di Rest Area Kampus STT NF, tanpa harus mencari lokasi lain yang lebih jauh. Hal inilah yang menjadikan mahasiswa nyaman untuk berada di kampus dan terus berkarya dalam mengerjakan tugasnya. Kebiasaan mahasiswa Nurul Fikri selain di jam kuliah mereka suka ngoprek bareng, di mulai dengan membuat sebuah Aplikasi atau mengerjakan tugas kuliah yang berkaitan dengan coding sehingga mahasiswa bisa menambah pemahaman lebih di luar jam kuliah mereka.

Selain buat belajar, Rest Area dipakai untuk rapat temen-temen mahasiswa organisasi kampus dalam merancang dan merumuskan sebuah kegiatan agar berjalan lancar. Selain itu Rest Area juga sering dipakai untuk mentoring dan berbagai aktivitas lain karena tempat yang bersih dan nyaman cocok untuk berkumpul.

Kebiasaan yang sering kita lakukan sesungguhnya berasal dari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan. Kemudian kita mencoba melakukan suatu aktifitas, yang apabila kita merasa nyaman didalamnya, maka aktifitas tersebut pun akan sering kita lakukan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Namun, kebiasaan yang selama ini kita lakukan tidak semuanya berpengaruh baik bagi masa depan kita.

Dalam kata lain, ada satu atau lebih kebiasaan buruk yang sering kita lakukan dan harus segera dihilangkan. Menghilangkan kebiasaan buruk tidak serta merta hanya dengan niat saja, melainkan harus dengan tindakan yang konkrit. Kabar baiknya, di Kampus STT NF ini ada mata kuliah pembentukan karakter yang mana akan mahasiswa dapatkan di semester 2.

Dalam mata kuliah yang diajarkan oleh pak Adji ini, salah satunya juga melatih mahasiswa untuk membangun karakter yang baik. Salah satu yang dilakukan beliau adalah dengan memberi tugas kepada mahasiswa untuk menemukan kebiasaan buruk ataupun kebiasaan yang tidak bermanfaat bagi setiap mahasiswa. Kemudian, mahasiswa dihimbau untuk mengenali dan mencatat setiap kali tanda ketika ingin melakukan kebiasaan tersebut muncul.

Jika mahasiswa sudah tahu kebiasaan apa yang hendak dihilangkan, barulah mahasiswa memikirkan kebiasaan apa yang dapat menggantikan kebiasaan tersebut atau kebalikan dari kebiasaan buruk yang biasanya dilakukakan. Supaya terlihat perkembangannya, pak Adji memberi lembar kerja kepada masing-masing mahasiswa. Dalam pelaksanaanya, mahasiswa memberi menuliskannya pada kolom yang tersedia. Tanda centang jika dalam sehari tidak melakukan kebiasaan buruk, dan tanda strip jika hari itu masih melakukan kebiasaan buruk tersebut.

Setelah 3 minggu berlalu, mahasiswa mempresentasikan lembar kerjanya di depan kelas. Adapun hal-hal yang dipresentasikan itu meliputi kebiasaan apa yang hendak dihilangkan, apa tanda-tanda kemunculannya, mengapa ingin mengubah kebiasaan buruk tersebut, kemudian kebiasaan baru apa yang hendak dilakukan untuk mengubah kebiasaan lama itu, dan apa pengaruh atau reward bagi diri sendiri setelah berhasil lepas dari kebiasaan buruk tersebut.

Mata kuliah pembentukan karakter yang diampu oleh Bapak Adi Wahyu Adji akan memasuki pertemuan ke 14 (terakhir) di semester 2 ini. Pada pertemuan ke 7, mahasiswa semester 2 mendapat tugas project kelompok untuk merealisasikan Karakter NICE. Perlu diingat kembali, bahwa NICE merupakan singkatan dari Novelty, Integrity, Care, Excellent. Yang mana merupakan nilai-nilai karakter yang ditekankan di Kampus STT NF ini. Adapun makna keseluruhannya, yaitu keceriaan dan kebahagiaan dalam setiap aktivitas keluarga besar STT NF dalam semangat inovasi, integritas, kepedulian dan hasil terbaik.

Dalam satu kelas dibagi menjadi empat kelompok, yakni berdasarkan pada jumlah karakter yang ada. Setiap kelompok terdiri dari 8 sampai 10 mahasiswa. Dimana masing-masing mahasiswa masuk ke dalam kelompok yang telah dibuat oleh Pak Adji tersebut. Dalam merealisasikan nilai-nilai karakter tersebut, setiap kelompok bebas menentukan hal apa yang akan dikembangkan di STT NF, sehingga berdampak baik setelah dilakukan aktivitas tersebut. Salah satu kelompok di kelas Teknik Informatika angkatan 2016, yang mana kelompok tersebut mendapat karakter “Integrity”, sepakat melakukan hal yang sekiranya dapat membawa kebiasaan baik di STT NF ini. Adapun aktivitas yang mereka tekankan adalah merapikan sandal dan sepatu di Mushola STT NF.

Dalam merealisasikan tugas ini, mereka bekerja sama antar anggota kelompok. Ada yang bertugas membuat proposal kegiatan, slide presentasi, mendesain, print dan laminating poster serta menempelnya di spot-spot yang telah ditentukan. Kegiatan merapikan sandal dan sepatu telah dilakukan dalam kurun waktu 5 hari, yaitu dari Senin hingga Jumat. Dalam satu hari dilakukan dalam dua waktu, yakni saat waktu shalat Dzuhur dan Ashar.

Selain merapikan sandal dan sepatu, mereka juga menempelkan poster di spot-spot yang sesuai, dimana isinya menghimbau warga STT NF untuk meletakan sandal dan sepatu pada rak sepatu dan atau secara tertib. Spot-spot tersebut, yaitu Mushola Gedung B1 dan Mushola Gedung B2 STT NF.

Kegiatan yang dilakukan tidak lebih dari 5 hari tersebut, adalah agar supaya sandal dan sepatu tertata rapi, sehingga menjadi acuan untuk hari-hari berikutnya. Dengan dibuatnya poster yang isinya “Mau Sukses? Rapikan Dulu Sandal dan Sepatumu. Karena Sukses Berawal dari Hal Kecil.” diharapkan seluruh warga STT NF ataupun masyarakat yang singgah ke mushola, agar dapat meletakan sandal dan sepatunya secara tertib.

Kenalin, nama lengkap aku Umul Sidikoh biasanya orang-orang panggil dengan sebutan Umul. Bisa dibilang, salah satu mahasiswa yang masih berumur sangat muda, karena di umur 19 tahun sudah memasuki semester 6 di STT Nurul Fikri. Aku lahir di Tangerang, 13 Mei 1997. Tempat tinggal aku masih di Tangerang, cuma sekarang udah mulai nge-kost di daerah Depok. Cita-cita aku sih jadi pengusaha karena sifatnya fleksibel dan tidak dituntut oleh atasan, dan menjadi penulis buku atau novel. Hobi aku pertama menulis, yang lainnya olahraga, travelling, touring, baca-baca. Kalo ditanya tentang motto hidup, ya aku jawabnya " Lakukanlah yang terbaik, atau tidak sama sekali ( Do be The Best, or Nothing) ".

Berlatar belakang Siswa SMA jurusan IPA, di salah satu Sekolah Negeri di Kota Tangerang. Sejak SMA, pelajaran yang paling disuka yaitu Kimia (Chemistry). Entah, padahal itu pelajaran lumayan sulit, dimana harus hafal ikatan-ikatan kimia, yang pasti bukan ikatan aku dan kamu *eh. Namanya juga SMA Negeri, ya pastinya pas lulus SMA maunya juga kuliah di Universitas/Kampus Negeri. Dari SD-SMA memang Sekolahnya Negeri, makanya ingin nantinya Kuliah Negeri juga. Sekolah Dasar di SDN BOJONG 04, Sekolah Menengah Pertama di MTSN Cipondoh Tangerang, dan Sekolah Menengah Atas di SMAN 9 Tangerang.

Menjelang Ujian Nasional (UN) formulir pendaftaran dan kelengkapan berkas untuk mendaftar di kampus-kampus favorit-pun disiapkan, dan pilihan jurusan pastinya jurusan kimia. Berniat menjadi seorang kimia analyst, biar bisa menemukan ramuan anti galau (eh salah, biar kesukaan terhadap pelajaran kimia lebih tersalurkan dan juga lebih dalam lagi ilmunya).

Daftar melalui jalur SNMPTN, yaitu lewat nilai Raport. Namun belum menjadi rezeki aku. Dan akhirnya mencoba dijalur SBMPTN, dan ternyata masih belum lolos juga. Melihat teman-teman pada lolos di PTN, rasanya hati gundah gulana. Tidak cuma sampai disitu, tiap PTN punya jalur untuk penerimaan mahasiswa barunya. Misalnya di Universitas Indonesia (UI) ada SIMAK UI dan dikampus lainnya tidak jauh beda. Dan akhirnya aku mencoba di UIN Syarif Hidayatullah, berangkat bareng-bareng sama temen-temen SMA. Pas di pengumuman kelulusan, kenapa mereka lolos seleksi dan aku engga? Sempet ngedrop perihal masuk PTN tersebut, dana akhirnya berniat untuk mengikuti tes di tahun berikutnya saja.

Oke, selang beberapa bulan lulus. Tidak kuliah, rasanya jadi manusia engga jelas dirumah. Dan tiba-tiba dapet info dari salah satu Ustadz, ada Beasiswa Studi Berprestasi di STT Nurul Fikri, Depok. Dan aku berfikir, mungkin ini salah satu jawaban do’a aku selama ini.

Tanpa berfikir dengan waktu yang lama, berkas-berkas yang merupakan syarat untuk lolos jadi mahasiswa BEASTUDI pun dipersiapkan. Oke, and then itu pertama kalinya ke Depok sendirian untuk serah berkas ke kampus. Selang beberapa hari, ternyata buka website nurulfikri.ac.id aku lolos seleksi berkas. Langkah selanjutnya dari seleksi berkas adalah seleksi akademik dan seleksi wawancara.

Sempat kaget sih, anak IPA tiba-tiba ketika seleksi akademik ternyata soal-soalnya jauh berbeda dengan pelajaran di SMA dahulu. Waktu tes wawancara diselingi dengan tes baca Qur’an, masih inget banget dulu yang tes Bapak Mgs Hendri (Alm), semoga beliau bahagia di Surga-Nya sekarang. Aamiin.

Langsung ke intinya, akhirnya aku Umul Sidikoh lolos Beastudi Penuh S1 di Kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Pokoknya bersyukur banget, ternyata Allah punya jalan-Nya sendiri biar aku bisa kuliah dan engga gundah gulana. Disaat orang-orang pusing mikirin biaya kuliah yang katanya melangit, aku udah engga pusing mikirin hal itu, yang penting aku bisa kontribusi dan jalanin apa yang ada pada surat perjanjian Beasiswa Penuh S1 tersebut.

Awalnya aku bangga, dengan beasiswa yang aku dapatkan itu. Tapi semenjak masuk ke dunia perkuliahan, kok aku malah malu menerima beasiswa tersebut. Kesannya aku ngerasa berbeda dengan teman-teman lainnya yang bisa biaya kuliah dengan bayaran mereka sendiri. Mulai dari ngumpul-ngumpul, ngerjain tugas, ngobrol asik, dsb. Seperti ada kubu tersendiri dengan mahasiswa regular biasa dan mahasiswa beastudi.

Akhirnya kesan tak nyaman pun terasa, aku ngerasa perbedaan itu mulai muncul. Entah, apa yang melandasi hal itu sehingga timbul kubu-kubu seperti itu. Nah aku malah engga mau ambil pusing perihal hal-hal kaya gitu, jadi mulai di abaikan. Memang niatnya dikampus untuk kuliah, menimba ilmu dan berprestasi. Kenapa harus malu jadi Mahasiwa/i Beastudi? Sedangkan kamu sudah dijamin untuk kuliah tanpa harus memikirkan biaya kuliah yang kini melangit. Seharus kamu-kamu yang mendapatkan kesempatan itu, bersyukur. Karena banyak dari teman-teman kalian, yang kuliah hanya menjadi angan-angan mereka. Dan sekarang, ketika diberikan kesempatan untuk kuliah, maka maksimalkan kesempatan itu.

Di STT ada beberapa jabatan dan organisasi yang udah aku pilih dan laksanakan. Tahun 2015, aku menjabat sebagai staff Departemen Kemuslimahan LDK SENADA STT NF dan merangkap jabatan sebagai Staff Pendidikan & Keilmuan BEM STT NF 2015, aku pernah menjadi salah satu pegurus terbaik periode September-Oktober BEM STT NF 2015. Di tahun 2016, aku dapet amanah menjadi Kepala Komisi (III) Kelembagaan dan Kaderisasi DPM STT NF 2016. Dan di tahun 2017 ini, aku masih melanjutkan amanah di DPM, yaitu Kepala Komisi Kaderisasi Dewan SANUBARI DPM STT NF 2017.

Pada bulan Mei 2015, aku pernah menjadi Volunteer (Sukarelawan) di acara se-Asia yaitu GNOME. Asia Summit 2015. Dan karena acara itu penyelenggaranya dari Komunitas GLiB (GNU/Linux Bogor), aku akhirnya gabung di komunitas itu sampai sekarang.

Dan pada bulan Agustus 2015, aku jadi perwakilan kampus pada acara Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional yang dilaksanakan oleh Kemenristek Dikti tiap dua tahun sekali. Aku mewakili kampus pada cabang lomba Tilawatil Qur’an, dan masa karantina 8 hari di Makara Universitas Indonesia selama pelaksanaan lomba berlangsung.

Dan diakhir 2015, tepatnya pada bulan November. Aku mendapatkan tugas sebagai Ketua Pelaksana acara Seminar Teknologi, dimana pada acara tersebut mampu menghadirkan perwakilan dari Kominfo yaitu Pak Bambang (biasa di sapa dengan Pak Ibenk) dan StartUp E-fishery.

Pada bulan Oktober 2016, aku menjadi salah satu pembicara di acara Se-Asia yaitu OpenSUSE Asia Summit 2016, yang bertempat di Jogja. Mengangkat judul pada presentasi yang disampaikan yaitu “Women Contribution In Technology Era’s”.

Dan di tahun 2016, aku menjadi salah satu Ambassador Kampus, yaitu Baidu Campus Ambassador Batch 2. Bukan hanya itu, karena kegemaran aku dalam menulis. Pernah menjadi salah satu penulis pada tahun 2016 di Technomuslim.com dan sekarang sedang menjadi penulis paruh waktu pada salah satu dosen di kampus. Dan ketika semester 4, aku pernah menjadi Asistan Dosen Lab pada mata kuliah Basis Data 1.

Pada rilis BlankOn X Tambora, aku sebagai salah satu Tim Dokumentasi pada rilis tersebut. BlankOn apa? Itu salah satu Operating System Opensource karya para pemuda Indonesia.

Di tahun 2017 ini belum ada hal-hal berkesan dan menarik. Sekarang aku lagi sibuk mengerjakan skripsi, karena aku pengen lulus 3,5 tahun. Target aku yaitu umur 20 tahun udah punya gelar S.Kom. Setiap orang punya mimpinya masing-masing, ya salah satu mimpi aku itu. Kalo punya mimpi, yang dibuat target, dilaksanakan, jangan cuma sekedar mimpi dan angan-angan. Dan jangan lupa, do’anya juga diperkuat, karena penentu akhir dari Kuasa-Nya.

Jangan malu, kamu jangan jadi mahasiswa apa adanya. Tapi jadi mahasiswa yang ada apanya ( punya keahlian atau prestasi khusus, karena masa muda tidak bisa diulang kembali). Mahasiswa regular biasa, maupun mahasiswa beastudi, kalian semua sama. Tidak ada perbedaan derajat, terkadang hanya diri kalian yang membuat perbedaan tersebut.

Mulai-lah beraksi, dan jadikan hidup yang berarti..

Akan ada banyak jalan menuju Roma! Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan pribahasa tersebut. Namun, setiap kata atau pribahasa ataupun yang lebih tren saat ini seperti Quotes tidak akan ada efek atau bermakna, jika diri sendiri belum mengalami atau sesuai dengan rangkaian kata – kata tersebut. Namaku Nadya Yutrianti, yang biasa dipanggil Nadya atau Iya oleh keluarga atau orang rumah. Anak ke-4 dari 6 bersaudara di keluarga rantauan dari Aceh & Padang. Pada kesempatan ini, aku ingin berbagi cerita mengenai perjalananku hingga bisa menempuh Sekolah Tinggi di STTNF ini.


Pendidikan yang umumnya di Indonesia ini diawali dengan masuk TK (Taman Kanak – Kanak) merupakan kesempatan yang mahal untukku. Kebetulan tempat tinggalku dekat dengan sebuah TK. TK yang bisa dibilang cukup elit dan sudah berdiri sejak lama ini membuatku sedih. Kenapa tidak, disaat anak – anak sebayaku bermain dan belajar disana, aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Berada di keluarga yang merantau jauh dari kampung halaman, membuat orang tuaku harus berrpikir realistis dan tidak banyak keinginan, dan yang penting bisa menyekolahkan anak – anaknya. Bahkan bisa dibilang keadaan keluargaku yang serba kekurangan dan melarat tapi tetap berusaha untuk bertahan hidup di tengah kota yang sedang berkembang ini.


Walaupun aku tidak merasakan masa kanak – kanak di TK. Aku tetap belajar 'Calistung' setiap harinya sebelum masuk ke SD. Kebetulan tanteku selalu bersedia mendampingi belajar dan mendaftarkan sekolah ke SD dekat rumahnya juga. Karena umurku dan kakak-kakakku tidak terlampau jauh dan masih kecil-kecil, membuat keprihatian dari saudaraku atau tetangga sekitar. Ketika masuk SD, aku sangat senang. Namun, tidak cukup percaya diri karena keadaanku yang 'orang susah' berpengaruh dengan pertemanan di kelas. Masa SD adalah masa – masa yang tidak pernah aku lupakan sampai kapanpun. Karena di SD lah aku merasakan susahnya hidup sebagai 'orang susah', yaitu di saat aku tidak bisa membeli buku, tidak ada yang mau meminjamkan jika guru tidak menyuruh dan juga karena aku dari kalangan bawah mereka semakin enggan meminjamkan. Ketika aku kelas 3 SD, Orang tuaku tidak membayar SPP selama 3 bulan, aku dipanggil ke ruang guru dan berada di tengah – tengah ruangan serta ditanyakan banyak hal oleh hampir semua guru kenapa belum membayar SPP, aku hanya bisa menangis dan tidak tahu dengan semua pertanyaan mereka. SD ku negeri, namun saat itu belum banyak bantuan – bantuan seperti saat ini dan semua masih harus dibayar. Hingga pada kelas 6 SD, ada seorang guru dari Maluku yang membangkitkan semangatku untuk sekolah dan belajar dan mau membantu setiap siswanya yang kesusahan, baik kepada pihak sekolah maupun kepada Dinas Pendidikan. Beliau adalah sosok kehidupan dan juga menyelamatkan masa SD ku yang cukup mengerikan itu.


Setelah lulus SD, keinginanku hanyalah masuk ke SMP Negeri, karena sudah ada bantuan dari Pemerintah saat itu. Namun karena nilai UN ku yang tidak mencukupi, terpaksa aku mencari SMP swasta yang murah namun baik pendidikannya. SMP Kesuma Bangsa di daerah Tanah Baru inilah yang menjadi titik balik semangat pendidikanku. Di sana aku cukup rajin masuk peringkat 1 – 3, dan yang mendapatkan peringkat selalu mendapat potongan biaya SPP sehingga dapat meringankan beban orang tuaku. Disana juga aku mendapatkan teman – teman yang tidak memandang latar belakang keluarga, kita sama, si kaya, si miskin bergaul bareng – bareng.


Setelah lulus SMP, aku tetap berkeinginan masuk Sekolah Negeri, karena sudah mendapatkan bantuan sekolah gratis oleh Pemerintah. Namun, karena terlambatnya aku mendaftar dan kuotanya sudah banyak yang penuh, memaksa diriku mendaftar ke SMK swasta. Ya, aku memilih SMK karena berharap setelah lulus nanti langsung kerja dan memiliki keahlian. SMK ku ini cukup bagus dan berstandar ISO. Namun, aku salah perhitungan, karena SMK ini termasuk sekolah yang elit. Bahkan untuk membayar SPP, orangtuaku selalu datang setiap mau UTS atau UAS untuk meminta kelonggaran dari bulan – bulan sebelumnya. Beruntung, dari awal masuk sampai lulus aku masih mempertahankan prestasi akademik dan mendapatkan potongan SPP dan bantuan dana BOS dari Pemerintah setiap akhir tahun.
Karena hal itu, aku berpikir untuk langsung kerja setelah lulus SMK nanti, atau kuliah sambil bekerja atau kuliah dengan beasiswa full sehingga tidak memberatkan orang tua ku sama sekali.


Banyak hal yang aku temukan dan alami setelah UN. Waktu menunggu ijazah, langsung kumanfaatkan untuk melamar kerja dan mencari info beasiswa di kampus negeri maupun swasta. Mulai dari menghadiri job fair di Depok sampai di Senayan. Dengan memanfaatkan uang tabungan yang pas - pasan, aku mempersipkan semua berkas – berkas yang dibutuhkan untuk melamar kerja atau mendaftar kuliah. Tidak terasa waktu selama Empat bulan terlewati dengan cukup banyak rintangan. Dimana hampir semua jalur masuk perguruan tinggi negeri seperti PMDK, SNMPTN, SBMPTN yang ada uang pendaftarannya pun belum ada yang lolos (pendaftaran sebesar seratus ribu rupiah hasil kolektif dari kakak – kakakku menjadi harapan terakhir). Hal ini kusadari karena minimnya persiapan menghadapi ujian dan mengetahui passing grade jurusan yang ada di masing - masing PTN. Jika saja ada satu PTN yang lolos, aku sudah mengantongi salah satu beasiswa PTN yang cukup menjanjikan. Namun takdir berkata lain, lamaran kerja yang suah aku applypun belum menemui titik terang. Akupun masih mencari beasiswa lain, salah satunya Kursus di Kampung Inggris, Pare. Alhamdulillah tes I lolos, namun karena tes ke II wawancara langsung kesana & tidak ada persiapan, dengan terpaksa aku mundur dan akhirnya didiskualifikasi.


Sebagai manusia biasa, aku sudah berada diamang keputusasaan, dimana aku merasa lelah dan sedih dengan usahaku yang belum membuahkan hasil. Ditambah lagi, uang tabunganku yang sudah sangat menipis dan tidak memungkinkan untuk meminta ke orang tua. Sampai suatu hari, abangku menshare info beasiswa Sarjana Dhuafa Berprestasi di STT-NF. Awalnya aku ragu, karena sudah mengalami banyak kegagalan. Namun, dengan niat yang masih ingin berusaha, aku mencobanya. Dengan uang yang tersisa, aku maksimalkan untuk melengkapi berkas - berkas dibutuhkan dan langsung aku kirim ke Kampus A yang saat itu masih di Jl. Margonda. Tidak lama kemudian, telepon dari kampus STTNF mengabarkan bahwa aku lolos seleksi berkas dan diminta untuk ikut tes akademik dan wawancara di kampus B STTNF.

MasyaAllah, benar – benar di luar dugaan, saat awal wawancara yang pertama dilakukan adalah membaca Al – Quran. Alhamdulillah, aku merasa bahwa lingkungan di kampus STTNF aman dan nyaman. Setelah itu, aku menunggu info akhir dari rangkaian tes yang sudah dijalani. Kabar bahwa aku diterima di kampus STTNF tidak bisa diungkapkan dengan kata -kata. Aku hanya terdiam dan langsung mengabarkan ke orang tua bahwa aku akan mulai Ormik sebagai salah satu syarat mahasiswi baru kuliah disana. Mereka kaget dan bertanya bagaimana bisa? Ya, selama aku melakukan tes - tes beasiswa atau masuk kuliah dan melamar kerja, hanya meminta izin dan doa yang terbaik. Aku berjanji pada diri sendiri, hanya akan mengabarkan kepastian jika aku diterima di salah satu tes – tes yang aku ikuti tersebut. Hal itu kulakukan, agar mereka tidak kecewa jika aku ditolak dari tes -tes tersebut.


Alhamdulillah, sudah memasuki tahun ke tiga ini aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswi kampus STTNF dengan berbagai pengalaman baru. Seperti ikut organisasi, yang belum pernah aku ikuti semasa SMK dulu. Lingkungannya pun sangat agamis dan terdapat Mentoring yang dapat menjadi recharge imanku. Dan uang saku yang diberikan dari program beastudi ini sangat membantu. Aku dan keluarga sangat bersyukur dengan adanya Beastudi dan para donatur yang berbaik hati membantu anak – anak yang ingin menggapai mimpinya walau terbatas dari kemampuan ekonomi.
Semoga STTNF dapat menjadi jawaban dari setiap anak – anak yang mau menggapai impian dan cita -citanya yang didukung dengan lingkungan yang bersahabat, nyaman, dan agamis.

Sebuah kisah dimulai ketika pagi hari, kala matahari baru sepenggalah naik, seorang remaja perempuan, yang baru selesai menamatkan pendidikan di bangku sekolah menengah atas, mengikuti kegiatan orientasi akademik atau disingkat ormik, di salah satu kampus swasta yang bernuansa islam, STT Terpadu Nurul Fikri tepatnya.

Wajah baru yang sebelumnya tidak pernah ia temui, kini membaur menjadi satu, untuk bersama membangun kekompakkan dalam satu tim bernama kelompok merah maroon.

Tugas hari pertama selesai ia lalui, dengan memakai pakaian berwarna putih serta rok hitam dengan berbalut jilbab berwarna hitam pula, tidak lupa memakai nametag juga atribut kelompok. Sepatu hitam tak lupa ia kenakan bak tentara hendak berjuang ke medan perang. Semangat yang menggelora nampak pada syair lagu yang ia nyanyikan bersama rekan seperjuangannya itu, walaupun ada perasaan was-was karena belum sempat menghafal baris dari setiap bait lirik lagunya.

 Syarat bawaan pribadi yang harus dibawanya hari itupun tidak mudah ia dapatkan. Ketika waktu menunjukkan pukul 7 malam, ia belum juga menemukan pocong hijau yang seharusnya sudah memenuhi tempat bekal makan siang untuk keesokan harinya. Namun, Allah memudahkan jalannya, Sang Maha Kuasa mengulurkan bantuan-Nya melalui seorang malaikat di dunia, bernama teman. Yaa, temannya itu yang membelikannya sebuah lontong dengan ukuran yang tidak terlalu besar di area Pasar Minggu. Dan alhasil, tidak ada hukuman yang ia terima, karena semua barang bawaan pribadi maupun kelompok dengan rapi telah ia susun di tas merah yang digendongnya.

 Tiba hari terakhir masa orientasi akademik, ia berpenampilan layaknya seorang eksekutif muda yang memperlihatkan kepiawaiannya dalam berkarya. Dengan perasaan senang, ia mengenakan atribut berupa pin yang berlabel "ORMIK". Sekotak hadiah yang terbungkus rapi di dalam kertas kado, digenggamnya dan kemudian ia berikan kepada salah satu panitia ormik. Bukan untuk memperingati hari kelahiran seseorang, melainkan untuk bertukar kado dengan seluruh peserta ormik di ruang yang terbatas dinding itu.

Sebelum adzan maghrib berkumandang, kedua mata dari peserta ormik ditutup dengan menggunakan slayer, kemudian diberi arahan satu persatu untuk berjalan mengambil satu dari gundukan kado yang menggunung di sudut tengah ruangan.

Tiba gilirannya untuk berjalan menyusuri kegelapan, menyeberangi celah dari barisan peserta ormik lainnya. Hingga saat semakin dekat dengan gundukan kado, ia tak sengaja menabrak titik yang mengisi barisan itu, dimana seharusnya mampu ia lewati tanpa harus menyentuhnya. Namun, hal itu tak membuatnya berhenti melangkah, ia terus berjalan dalam kegelapan dengan mengikui arahan dari salah satu panitia ormik.

 Tak butuh waktu lama, ia pun berada tepat diantara kado-kado yang sebenarnya terpampang secara nyata, namun karena tak terlihat, sehingga memaksanya untuk terus berjuang mengambil salah satu diantaranya. Tidak hanya dengan sekali sentuh, ia terus meraba-raba, hingga tangannya menggapai sebuah kado, yang menurutnya, Allah telah menggariskan bahwa dirinyalah yang beruntung mendapatkan kado yang saat ini didekapnya. Kemudian kembali ke titik dimana ia berada diantara barisan itu.

 Detik-detik waktu menuju pembukaan kado semakin dekat saja. Riuh, terdengar dari setiap sudut hingga melebar ke tengah ruangan yang pecah mengiringi munculnya sebuah titik terang, Yaa.. itulah secercah cahaya yang mulai menampakkan kilaunya saat pelupuk matanya secara perlahan naik, bak matahari terbit dari ufuk timur. Ditandai dengan lengkingan suara panitia ormik, yang terdengar begitu kompak, berseru "Tiga, dua, satuuu!", mengisyaratkan bahwa kado yang dipegang oleh masing-masing peserta ormik boleh segera dibuka.

Ia bergegas membuka kado yang terbungkus oleh beberapa lapis kertas, yang mana menghalangi pandangannya terhadap benda yang kini menjadi miliknya itu. Ekspresinya menggambarkan kebingungan seketika ia berhasil membuka selebaran kertas yang membungkus kadonya itu. Bukan hanya dia, bahkan peserta ormik lainnya pun terheran-heran melihat apa yang ia dapatkan. Salah satu kakak panitia ormik yang melihat benda itu, kemudian memecah suasana, dengan melepaskan tawanya berlalu lalang diantara orang-orang yang berada di ruangan. Ia mendapat kado sepatu hitam, dengan jahitannya yang terlihat kokoh, berukuran 42. Agak sedikit lucu memang, karena ukuruan sepatu yang biasa ia kenakan hanya sebesar 37. Ia tak mempermasalahkan hal itu, justru menanggapinya dengan mengernyitkan bibir ke samping atas kanan kirinya, pertanda bahwa ia menerima dan mensyukuri apapun yang ia dapatkan itu.

Dalam hatinya, terbersit ribuan kata yang sempat terangkai menjadi beberapa bait paragraf, bahwa dari kejadian selama masa orientasi akademik itu, ia dapat mengambil pelajaran dari setiap hal yang ia lalui. Melihat perjuangannya dari hari pertama yang tak mudah ia lalui, sampai pada hari terakhir orientasi akademik, yang mana pada hari itu ia mendapatkan sebuah kado, sebagai pengganti atas kesungguhan dan kerja kerasnya mentaati seluruh aturan selama masa orientasi akademik berlangsung, hingga berusaha tepat waktu berpacu dengan terbitnya matahari sampai sekembalinya ke peradabannya di ufuk barat.

Sepatu hitam yang ia peroleh dari hasil tukar kado, ia memaknainya sebagai kesiapan yang diberikan oleh Allah, untuk menapaki hari-hari selama ia belajar di kampus STT Nurul Fikri ini. Warna hitam dan jaitannya yang kokoh itu, mengingatkannya bahwa ia tak boleh menyerah ketika dihadapkan pada kesulitan, seperti halnya saat ia menabrak salah seorang peserta ormik saat hendak mengambil kado, ia tak serta merta berhenti, melainkan terus berjalan hingga menggapai apa yang menjadi tujuannya itu, dengan tekad yang kuat tentunya.

 Dilihat dari ukuran sepatu, yang akan terlihat kedodoran saat ia memakainya, menandakan bahwa Allah ingin ia lebih bersabar dan melapangkan hatinya, saat setiap kali ia bertemu dengan aral ketika menggapai cita-cita di kampus tercinta ini.

Ia mendapat kado berupa sepatu, pun bukan berarti ia hanya mendapatkan sebelahnya saja, melainkan sepasang kanan dan kiri. Pun, meski memiliki manfaat yang sama, namun sepasang sepatu itu tak bisa digunakan untuk berjalan beriringan setiap waktu. Itu artinya bahwa ia tak sendirian, ada orang lain yang memiliki tujuan sama dengan kesibukan yang berbeda. Mereka tak bisa saling menunggu untuk menjadikan tujuan itu menjadi nyata, melainkan dengan saling mengingatkan, menguatkan, dan saling membantu dalam kesulitan, serta bersama-sama meninggalkan jejak kemalasan. Mereka adalah teman seperjuangan.

Tali sepatu yang memenuhi celah lubang diatas punggung sepatu, yang mana kemudian melilitkan tubuhnya untuk menjaga agar tetap kokoh dan tidak mudah lepas saat digunakan, Remaja perempuan itupun mengambil pelajaran daripadanya, yakni terhadap Sang Pencipta, yang kemanapun langkahnya pergi, niat karena Allah lah yang harus menjadi akhir dari setiap tujuannya, dan kemudian dengan erat menggenggam-Nya di dalam hati.

Mulai hari itu, ia pun bertekad untuk menyelesaikan setiap semester yang ia lalui dengan sungguh-sungguh. Berbekal dari pengalaman yang ia dapatkan hari itu, ia menjalaninya dengan harapan dapat mewujudkan cita-citanya, yakni menjadi manusia yang bermanfaat untuk sesama dengan mengamalkan ilmu yang ia peroleh dari kesehariannya belajar di Kampus STT NF ini.

Pada hari minggu, 4 Desember 2016, Hendra Aditiyawijaya salah satu alumni STT Nurul Fikri angkatan pertama mendapat undangan untuk mengisi training di Griya Tahfidz yang dikelola oleh Zakat Center Kota Cirebon. Zakat Center merupakan lembaga pengelola dana Zakat, Infaq, dan Shodaqoh yang memiliki visi mengentaskan keterpurukan hidup kaum dhuafa melalui program peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi produktif. Dimana salah satunya adalah program beasiswa tahfidz bagi anak-anak dari kaum dhuafa.

Pada kesempatan tersebut, Hendra juga didampingi oleh tim trainer dari Ekacipta Teknologi Solutama, yaitu Hendri Mahesa dan Kiky Malik Ibrahim. Hendra dipercaya untuk membawakan materi tentang Literasi Media dan Motivasi Berwirausaha Sejak Dini Melalui Media Sosial. Sementara Hendri dan Kiky memberikan materi terkait dasar pemrograman web dan kostumisasi wordpress untuk membuat Online Shop. Acara training berlangsung sejak jam 9 pagi hingga jam 3 sore di Griya Tahfidz yang berlokasi di dalam komplek Pertamina EP Cirebon.

Hendra 1

Ustadz Anwar selaku pimpinan Zakat Center Cirebon sangat mengapresiasi adanya acara ini, “Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Saudara Hendra, Hendri, dan Kiky yang telah jauh datang dari Jakarta untuk memenuhi undangan kami. Saya berharap acara seperti ini akan berkelanjutan diadakan untuk menambah wawasan dan keterampilan para santri dalam menyongsong era teknologi ke depannya.”

Hendra, salah satu trainer dan alumni STT Nurul Fikri, mengakui bahwa, “Saya merasa bahagia dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman saya sebagai seorang system analyst kepada adik-adik santri di Griya Tahfidz, Zakat Center Cirebon. Saya pun ikut menularkan semangat entrepreneur kepada mereka sebagai mana nilai-nilai yang pernah ditularkan oleh almamater kampus semasa kuliah di STT Nurul Fikri. Saya berharap, kelak akan lahir para entrepreneur hebat yang hafal Qur’an untuk bersama membangun Indonesia.”

Page 1 of 4