Kisah dan Curhat

Kisah dan Curhat (66)

Rizka Amalia Apriliani, mahasiswa jurusan Sistem Informasi di STT-NF yang sedang menjalani perkuliahan di Semester 4. Seperti mahasiswa lainnya, Rizka memiliki banyak cita-cita yang ingin dicapai. Salah satu cita-cita terbesarnya adalah ia sangat ingin memberikan mahkota dan jubah emas untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak dengan cara menghafal Al-Quran.

Ketika SMA ia sudah mulai menghafal Al-Quran karena tempat ia bersekolah memiliki program menghafal Al-Qur'an. Setelah lulus SMA ia tetap melanjutkan hafalan Al-Quran, namun tidak semudah ketika ia masih berada di SMA karena kesibukanya di kuliah sangat banyak. Walaupun begitu ia berusaha untuk tetap menghafal Al-Qur’an karena ia memiliki motivasi yang sangat tinggi untuk bisa memberikan mahkota dan jubah emas bagi kedua orang tuanya di akhirat nanti.

Selama tiga semester Rizka mencari-cari tempat untuk bisa memudahkan menghafal Al-Qur'an walaupun sambil kuliah, akhirnya ia mendapatkan informasi tentang RumTa (Rumah Tajwid), dimana RumTa memiliki program untuk belajar tajwid dan hafalan. Ia sangat tetarik untuk mengikti program RumTa tersebut. Di RumTa tersebut ia bisa kuliah sambil fokus menghafal Al-Qur’an.

Rizka mencoba mendaftar melalui jalur beasiswa RumTa, untuk bisa lulus ia harus mengikuti beberapa seleksi, mulai dari seleksi berkas, seleksi wawancara sampai seleksi adaptasi selama dua minggu tinggal di asrama. Ada 11 dari 20 orang yang diterima sampai seleksi wawancara.

Setelah pengumuman wawancara, Rizka dan sepuluh orang yang diterima mulai mengikuti tes selanjutnya yaitu tinggal di asrama RumTa selama dua minggu sebagai seleksi adaptasi, karena dari seleksi adaptasi hanya sembilan orang yang akan diterima di RumTa.

Setelah dua minggu tinggal di RumTa, akhirnya ia kembali ke rumah sambil menunggu hasil akhir dari seleksi adaptasi tersebut. Alhamdulillah di akhir seleksi ia di terima di RumTa. Ia merasa sangat senang, “Karena RumTa Insya Allah cita-cita aku tercapai insya Allah ” ujar Rizka.

Diterima di RumTa membuat dirinya merasa senang karena bisa menghafal Al-Quran dengan teman-teman yang satu visi dan juga ia tidak memberatkan orang tuanya, karena ia tidak perlu biaya untuk mengikuti program-program di RumTa tersebut. Namun terkadang ia juga sedih karena harus jauh dari keluarga, sejak SMA ia sudah jauh dari keluarga karena ia bersekolah di Boarding School di daerah Bandung.

“Mulailah Menghafal Al-Qur’an, karena dengan menghafal Al-Qur’an Insya Allah kita akan memberikan hadiah terindah untuk kedua orang tua kita”, pesan Rizka.

Semoga Rizka bisa selalu istiqomah untuk terus menghafal Al-Quran dan mencapai cita-citanya untuk memberikan mahkota emas untuk kedua orangtuanya, Aamin.

Yuli Hardianti atau biasa dipanggil ole merupakan mahasiswa STT-NF angkatan 2015 jurusan Sistem Informasi, kali ini ole akan berbagi beberapa pengalaman dan knowledge tentang Developer Student Clubs atau disingkat DSC.

Apasih Developer Student Club itu?

Developer Student Club merupakan program dari Google Developers yang dirancang untuk membantu mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan dan pengetahuan dalam pengembangan aplikasi mobile dan web yang dijalankan oleh Google. Developer student club bertujuan untuk meningkatkan ekosistem developer, meningkatkan skill development dan berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah melalui teknologi mobile dan web. Program DSC ini sukses meningkatkan ekosistem di India, maka dari itu, Google mencoba untuk merealisasikannya untuk mahasiswa di Indonesia. DSC akan memilih satu mahasiswa dari setiap kampus sebagai perwakilan untuk menjadi DSC Leader. Saat ini, terdapat 20 mahasiswa yang terpilih menjadi Pilot DSC Leader, dan 40 mahasiswa lainnya menjadi DSC Leader. Total, ada sebanyak 60 mahasiswa di 60 universitas di Indonesia yang menjadi DSC Leader.

Tidak hanya itu, Google juga mengajak para karyawan Google dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam menyambut DSC Indonesia. Dari 20 pilot DSC Leader yang ada di Indonesia, 8 DSC Leader diberikan kesempatan untuk Lighting Talk tentang tema yang sudah ditentukan.

Gimana Kesan Bergabung di DSC?

Saya senang bisa ikut berpartisipasi disini sebagai salah satu DSC Co-Manager Chapter STT-NF bersama team aBraindcode yang diketuai oleh Muh Isfhani Ghiyath sekaligus leader DSC chapter STT NF. Saya diamanahkan dari google untuk sharing tentang Introduce New Tech To Others, selama satu tahun ini aBraindcode akan berkolaborasi dengan DSC dan mengadakan oprek setiap hari sabtu dikampus STT-NF baik belajar mengembangkan aplikasi mobile ataupun web.

Pesan Untuk Mahasiswa STT-NF?

 

Saya berharap seluruh mahasiswa STT NF ikut mengembangkan aplikasi bersama team aBraindcode terutama untuk para perempuan, saya sangat berharap semuanya ikut belajar bersama karena saat ini developer perempuan itu sangat sedikit, maka dari itu kami dari team aBraindcode sangat berharap teman-teman bisa bergabung dan belajar bersama. Cewe juga harus bisa ngoding kan?.

“Belajar memang melelahkan tapi akan jauh lebih melelahkan jika kita tidak belajar dari sekarang, heheh happy coding guys!", ujarnya diakhir wawancara.

Sabtu, 07 April 2018 02:55

Isfahani dan Google DSC Leader

Written by

Halo kamu, iya kamu, kamu mahasiswa IT. Gimana kabarnya kodingan? Pastinya lancar dong. Oh iya, kamu pasti pernah denger DSC kan ? iya DSC (Developer Student Club). DSC adalah program Google yang ditunjukan kepada mahasiswa dan mahasiswi di Indonesia yang ingin belajar lebih mandalam tentang pengembangan aplikasi mobile dan web. Program ini terbuka bagi seluruh mahasiswa maupun mahasiswi dengan semua tingkatan kemampuan, dari developer pemula yang baru belajar hingga mereka yang sudah menjadi developer tinngkat lanjut yang ingin mengembangkan kemampuannya. DSC ini telah memiliki program di 60 kampus se-indonesia, salah satunya adlah STT Terpadu Nurul Fikri.

Jika ngomongin soal DSC, pastinya sudah tidak asing lagi mendengar nama Isfahani Ghiath. Dia adalah DSC Lead dari Kampus STT Terpadu Nurul Fikri, Jakarta Selatan. Dari sekian banyak DSC lead se-indonesia, Ishahani adalah salah satu mahasiswa yang memilki jam terbang padat. Tentu saja sangat wajar bagi mahasiswa seperti dia yang memilki segudang prestasi.

Sejak kecil, Mahasiswa kelahiran Sulawesi Selatan, 28 Juni 1997 yang akrab di panggil Isfa itu telah banyak menorehkan prestasi terutama dibidang IT. Bagaimana tidak, sejak SD dia sudah mulai belajar pemrograman dasar yang pada saat itu belum memilki fasilitas sendiri. Dia belajar masalah pemrograman di warnet. Tidak seperti anak lainnya yang datang ke warnet hanya untuk bermain, dia menghabiskan jam per jam di warnet untuk belajar pemrograman. Sampai saat menginjak SMA, dia telah berhasil menuai banyak prestasi dibidang IT.

Hingga saat ini, prestasinya kian meningkat bahkan menjadi salah satu Google DSC Leader wilayah Jabodetabek. Baru beberapa hari kebelakang, google DSC wilayah Yogyakarta mengadakan acara “Kartini Developer” yang diadakan oleh DSC UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan DSC UPN Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Hartini. Acara yang digelar pada tanggal 18 Maret 2018 itu mengahdirkan sejumlah pemateri ahli diantaranya Anggit Yuniar Pradito (Founder Omnicreativore Studio), Sendy Aditya Suryana (Software Enginer at PrismApp) dan Isfahani Ghiath (DSC Lead STT Nurul Fikri, Jakarta). Dari sekian banyak DSC Lead se-indonesia, Isfahani terpilih menjadi pemateri dalam acara besar tersebut beserta pemateri ahli lainnya.

Isfa menaruh harapan besar kepada seluruh mahasiswa hsusunya mahasiswa IT, untuk senantiasa semangat dan proaktif dalam belajar dan berkomunitas. Dia juga mennaruh harapan supaya mahasiswa IT bisa menjadi penerus DSC Lead ini terutama bagi Mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri “saya berharap Mahasiswa STT NF ini ada yang bisa menjadi penerus saya di DSC Lead ini.” Ujarnya pada saat pers di STT Terpadu Nurul Fikri. Tentu saja hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri untuk senantiasa belajar dan proaktif dalam berkomunitas untuk meneruskan jejak langkah Isfa sebagai DCS Lead. “saya berharap juga semoga seluruh mahasiswa STT NF ini lebih semangat untuk meningkatkan kualitas dan menjadi developer yang handal karna Indonesia ini memerlukan kita sebagai penerus bangsa” Tambahnya pada saat Pers STT Terpadu Nurul Fikri 22 Maret 2018.

Bukan masalah pintar atau tidak, tapi semua ini tentang Belajar dan Proaktif untuk bisa menjadi developer yang handal. Tentusaja Isfahani Ghiath juga tidak langsung ahli dalam bidang IT, tapi ada proses belajar terlebih dahulu. Hal inilah yang akan membedakan setiap mahasiswa IT terhadap prestasinya. Seberapa tekun dia belajar, seberapa aktif dia dalam berorganisasi, itulah yang akan menjadi kunci keberhasilannya. Bukan hanya menjadi seperti Isfahani, tapi lebih daripada itu tergantung diri sendiri

Kisah inspiratif datang dari laki-laki yang sedang mengalami tranformasi dari remaja menuju dewasa, Muhammad Luqni Baehaqi. Memiliki banyak mimpi dan keinginan untuk mewujudkan mimpinya, pria berkelahiran Pemalang 1 Desember 1996 ini merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Bermula dari SMP hingga kuliah di STT-NF, Luqni menceritakan kisahnya yang menemukan cinta dan kasih sayang Allah kepadanya begitu indah dan menyentuh, hingga akhirnya memutuskan untuk berhijrah dan mendalami Agama Islam.

Awal SMP dirinya adalah seorang murid laki-laki yang nakal, susah diatur dan malas belajar. Namu dibalik sifat buruk luqni ternyata dirinya merupakan seorang pria yang sangat menyangi keluarga terkhusus ibunya. Berawal dari nasihat sang ibu agar anaknya suatu hari nanti tidak menjadi seperti dirinya dan menjadi seorang anak yang dapat dibanggakan oleh keluarga, disinilah awal mula dirinya mulai berubah dan lebih serius mengejar mimpi. Berbekal nasihat ibunya, akhirnya berubah menjadi anak yang rajin dan baik hingga dirinya mendapatkan peringkat 1 di sekolah dan masuk sebagai 10 besar peringkat terbaik sekecamatan.

Allah kembali memberikan kasih sayang sehingga Luqni dapat melanjutkan SMA. Kehidupan SMA yang dilaluinya cukup membuat dirinya menjadi seseorang yang dipercaya di sekolah untuk menjadi seorang ketua ROHIS SMA. Memiliki sifat sederhana, banyak teman yang nyaman untuk mengajak dirinya berdiskusi atau hanya sekedar bercanda. Menjadi orang yang cukup berpengaruh di masa SMA, tidak membuat dirinya sombong, namun Luqni tetap giat berdoa dan belajar untuk meraih mimpinya. Semua kegiatn di sekolah membuat dia belajar dan yakin bahwa Allah sebagai pelindung dan pengatur segala urusan.

Memasuki tahap tes SNMPTN dan SBMPTN untuk melanjutkan jenjang perkulaiahan, segala persiapan dan kerja keras telah dilakukan dengan maksimal, namun ternyata Allah berkehendak lain sehingga dirinya belum berhasil meraih kampus favoritnya. Hasil dari tes SNMPTN dan SBMPTN yang gagal sempat membuat dirinya frustasi dan tidak percaya bahkan merasa putus asa. Namun Allah merupakan sebaik-baik perencana sehingga Luqni mendapatkan kesempatan untuk kuliah di STT-NF melalui jalur Beasiswa.

Setelah menyadari pemikirannya yang salah terhadap nikmat Allah, membuat dirinya malu dan akhirnya yakin kembali bahwa rencana Allah lebih indah. M. Luqni Baehaqi menjadi Mahasiswa aktif di Jurusan Sistem Informasi dengan berbagai bakat dan hasil nilai yang selalu memuaskan, serta bisa mempertahankan beasiswa yang dimilikinya selama tiga tahun.

Memiliki kesempatan untuk tetap dan terus berkuliah di STT NF menjadikan dirinya memiliki banyak pengalaman berkesan salah satunya yaitu Bertemu dengan orang-orang baru yang ada diasrama STT-NF, baginya mereka merupakan orang terbaik yang berasal dari berbagai daerah dan berkumpul di satu tempat. Tak lupa, Luqni juga memberikan pesan yang sangat menarik untuk Mahasiswa STT-NF "Jangan sekali-kali teman teman minder untuk berkuliah ditempat swasta, karena yang dilihat adalah proses belajarnya bukan tempat belajarnya".

Senin, 02 April 2018 03:04

Kuliah sambil Ngafal ? Siapa Takut !!

Written by

Menghafal Al-Quran ditengah-tengah kesibukan kuliah merupakan tantangan yang berat bagi sebagian orang, namun berbeda dengan mahasiswi STT NF jurusan sistem informasi yang baru menginjak semester 2 ini. Sebut saja Deva, deva adalah seorang mahasantri (mahasiswa + santri) yang agenda kegiatan nya begitu padat. Di sela-sela kesibukan nya kuliah, ia tak lupa untuk selalu berinteraksi dengan ayat-ayat cinta yaitu Al-Quran. Deva ini tinggal di asrama Quran Laskar UI semenjak 1,5 tahun lalu. Sebelum memutuskan untuk kuliah di stt nf, ia bertekad untuk mewujudkan mimpi nya yaitu sebagai keluarga nya Allah Subhanahu Wata’ala di akherat kelak dan memberikan mahkota kebanggaan untuk kedua orang tua nya nanti.

Deva ini berasal dari daerah Subang dan memiliki 3 saudara dan ternyata Deva memiliki kembaran. Nama nya gak jauh beda sama Deva yaitu Devi Dirgantini yang tinggal diasrama yang sama. Namun beda kampus. Mereka adalah kakak beradik yang sama-sama lagi menghafal Al-Quran juga.

Deva selalu memanfaatkan waktu nya dengan sebaik mungkin. Saat jam kuliah, ia akan fokus untuk kuliah dan ketika ada jam istirahat, ia akan menggunakan waktu istirahat nya untuk menghafal. Begitu pun sebalik nya, jika diasrama ia akan fokus menghafal.

Nah, lalu bagaimana untuk mengerjakan tugas tugas kuliah ?

Untuk tugas tugas kuliah ia biasa mengerjakan nya selesai kegiatan diasrama sekitar jam 10 malam. Dan ia mengerjakan tugas tugas kuliah nya hingga larut malam.

Kenapa sih Deva gak fokus dulu ke hafalan Qur’an nya ?

Deva mengatakan ” bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim hingga akhir hayat nya, Nah ! Dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dibangku kuliah menjadikan kita memahami betul isi kandungan Al-Quran. Seperti pembuktian tanda-tanda kebesaran-Nya.

Deva selalu ingat pesan Al-Quran yang terdapat pada surah Tha-ha ayat 20 yang bunyi nya :

“Wahai Muhammad, al-Qur’an ini kami turunkan kepadamu bukanlah untuk menjadikan kamu sengsara karena tidak sanggup melaksanakannya “

So jangan jadikan Al-Qur’an sebagai beban dalam segala aktifitas yang kita lakukan.

Menjadi mahasiswa yang belum memiliki penghasilan bukan suatu kondisi yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk tidak menabung. Menabung merupakan sebuah tindakan yang optional, dalam artian apabila tidak dilakukan pun tak mengapa. Disisi lain, bagi sebagian orang kegiatan semacam ini telah menjadi suatu habits yang telah melekat pada dirinya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan pengaruh ajaran yang dibawanya sejak kecil ataupun kesadaran dari dalam diri.

Dalam hal ini masing-masing orang memiliki tujuan, kapabilitas, serta target yang berbeda-beda saat hendak memulai kebiasaan menabung. Meskipun demikian, peristiwa yang dilakukan tetaplah sama, yakni menyisihkan sebagian uang ataupun benda yang tidak digunakan. Adapun jenis strategi menabung yang dipilih pun tidak selalu sama antar tiap-tiap individu, terlebih lagi bagi seorang mahasiswa yang sebagian besar belum bekerja. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menabung bagi mereka, yakni dengan cara menyisihkan sebagian dari uang saku yang diberikan oleh orang tuanya.

Kondisi ini tidak jauh berbeda seperti yang dialami oleh salah seorang mahasiswa STT NF, Kuati Septiani (TI, 2016). Dia punya cara tersendiri untuk bisa membagi pengeluaran dengan sedikitnya menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung. Mahasiswa yang aktif di organisasi LDK Senada STT NF ini, memiliki satu kebiasaan yang jarang dilakukan oleh kebanyakan orang di sekitarnya, yakni memiliki hobi memburu uang logam 1000-an.

Karena kesukaannya pada uang logam 1000-an ini, ia menyadari bahwa strategi yang cocok baginya untuk mulai menabung adalah dengan mengumpulkan uang logam 1000-an. Hal ini dilakukannya, karena ia merasa tidak menggunakan uang logam 1000-an untuk membeli keperluannya. Oleh karena itu, setiap ia memperoleh uang kembalian berupa uang logam 1000-an dari pedagang ataupun kasir, ia akan bergegas menyimpannya di box merah, tempat ia mengumpulkan logam-logamnya itu. Bahkan seringkali ia menukarkan uang kertasnya dengan uang logam 1000-an milik teman-temannya. “Ada uang logam 1000-an? Aku tukar yaa hehe :)”, sering kali kalimat itu terdengar setelah membeli makanan bersama teman-teman.

Dari kebiasaan yang sederhana ini, ia mampu mengumpulkan sejumlah uang yang sewaktu-waktu dapat ia gunakan jika membutuhkannya. Selain itu, dengan berbagi cerita tersebut diatas, ia juga berharap dapat menginspirasi pembaca untuk memiliki kebiasaan yang sama, apapun strategi yang digunakan, menabung adalah kebiasaan yang baik.

Ayu Amalia merupakan salah satu mahasiswa tingkat awal di STT-NF yang berasal dari Purwokerto. Setelah dua tahun lulus dari bangku SMA, akhirnya Ayu berkesempatan untuk kuliah di STT-NF, di sela-sela kekosongan sebelum masuk perkuliahan, Ayu mengisi waktu luangnya dengan mengikuti berbagai kegiatan. 

Memasuki dunia perkuliahan, kegiatan sehari-harinya mulai bertambah. Saat ini ayu mengikuti berbagai kegiatan mulai dari mengikuti organisasi di kampus, lalu juga mengikuti beberapa komunitas di luar kampus, seperti Rumah Berdaya yang berada di Cimanggis Depok, Komunitas Enjuku yang mempelajari theater, serta Komunitas URUP Project Purwokerto dan Scholarion.

Dengan mengikuti banyak kegiatan di luar kampus tentu saja Ayu harus bisa membagi waktu agar tidak bentrok antara tugas kuliah dengan kegiatan didalam maupun diluar kampus. Hari Senin sampai jumat Ayu memfokuskan waktunya untuk kuliah dan belajar, setiap ada tugas kuliah ia langsung kerjakan pada hari itu karena ia tidak ingin menunda-nunda dalam mengerjakan tugas kuliahnya. Hari sabtu dan minggu Ayu meluangkan waktunya untuk komunitas yang diikuti karena memang jadwal kegiatan diluar kampus bertepatan pada hari sabtu dan minggu.

Selain mengikuti organisasi dan komunitas, Ayu mengisi waktu kosong di sela-sela perkuliahan untuk bekerja part time dengan menjaga kantin di STT-NF sekaligus menambah uang jajan. Di sela-sela menjaga kantin ia juga menyempatkan dirinya untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang belum diselesaikan.

Saat ini, Ayu sedang mengikuti program Student Exchange Scholarion. Program ini merupakan program pertukaran budaya ke Thailand yang diadakan oleh Scholarion Semarang. Test mengikuti program tersebut sudah dimulai sejak bulan Februari dan ia sudah lulus sebagai finalis, saat ini ia sedang menunggu hasil dari tahap test kreatifitas salah satunya dengan membuat video kreatifitas. Jika berhasil di tahap test kreatifitas, maka ia akan pergi ke Thailand selama 3 hari untuk pertukaran budaya di Thailand.

Video kreatifitas Ayu bisa di lihat disini. Dukung Ayu Amalia dengan support dan doa agar bisa mengikuti program Student Exchange Scholarion.

Semoga Ayu lulus di tahap terakhir, Amin.

Muh Isfhani Ghiath, teman-teman biasa memanggil isfa atau ippang. Lahir di Sungguminasa 28 Juni 1997 dan dibesarkan di gowa, tepatnya di bontoramba, Sulawesi selatan. Dibesarkan dari keluarga sunda-makassar, ayah asli dari jeneponto, sedangkan ibu asli dari Jakarta-bogor.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMP di SMPN 1 Sungguminasa, isfa mencoba untuk merantau di pinggiran ibu kota Jakarta, Depok. Lulus dari jenjang SMP, isfa menempuh pendidikan selanjutnya di sekolah kejuruan SMK Al Muhajirin jurusan teknik komputer jaringan. Setelah menyelesaikan sekolah kejuruan, Isfa meneruskan pendidikan ke jenjang perkuliahan di STT Terpadu Nurul Fikri jurusan Teknik Informatika.

Kehidupan di dunia perkuliahan membuat dirinya termotivasi untuk terus mengasah kemampuan dan pengetahuan. Giat dan rajin mengikuti beberapa komunitas di Indonesia untuk menambah pengalaman dan eksplorasi, antara lain aBraincode Indonesia, lead community di Google Developer Student Clubs di Kampus, lalu contributor di GDG Devs Group (Chapter Depok dan Jakarta), Jakarta JS, React Native ID, Kotlin Indonesia, CodeAndroid Indonesia, FOSS Indonesia, dan ADB Bandung.

Berteman dan Berkumpul dengan para pegiat komunitas membuat dirinya bersemangat untuk mencoba membangun company sendiri pada bidang software house yang berlokasi di Depok, Jawa Barat. Tidak hanya software houses, dirinya juga aktif dalam research and development tentang fintech dan blockchain di perusahaan Singapore, Frypto Ltd. Selain itu isfa juga dipercaya untuk menjadi lead technology (CTO) di Halalin.asia, sebuah marketplace islam pertama di Indonesia. Tidak hanya itu saja, ternyata Isfa mendapatkan kesempatan dari google India sebagai campaign lead pada program Google Crowdsource di Indonesia.

Hal yang sangat disukai Isfa dari dunia koding adalah kebebasan. Kebebasan sendiri memiliki makna bahwa kita bebas merealisasikan ide kapanpun tanpa batasan waktu, kita punya privileges lebih untuk mengenal dunia lebih cepat, kita bisa secara terbuka berkenalan dan mempunyai relasi baru sesama engineer yang ada di seluruh dunia. Hal yang paling penting kita secara leluasa untuk membantu banyak orang.

Ketika ditanya kenapa dirinya sangat aktif dalam membantu teman – teman, baik secara individu maupun kelompok (komunitas), ternyata berawal dari cuplikan hadits yang ada dibawah ini yang terus membuat dirinya terus membantu teman-temannya:

  1. “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.” (HR. Ar-Rabii’)
  2. “Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim)

Saat ini kesibukan Isfa mengembangkan daeng.id (CV Daeng Indonesia) yang merupakan startup dalam dunia development, lalu mengatur sebuah fintech yang akan launch di Singapore-Indonesia, serta sebagai pioner Developer Google untuk perwakilan kampus dari Google.

Isfa berpesan untuk seluruh teman teman yang baru atau sedang mempelajari dunia permrograman "jangan patah semangat, terus berkarya, dan jangan pernah puas dengan apa yang sudah didapatkan saat ini. Ilmu berkembang dengan pesat, apalagi ilmu komputer, semakin hari semakin ada teknologi baru (framework baru, paradigma baru, atau apapun itu). Jangan mudah kenyang, tetaplah lapar dan haus akan ilmu".

Ada satu hal yang di pegang teguh oleh Isfa dari dulu hingga saat ini “Keterbatasan tidak menutup untuk meraih kesuksesan”, hal tersebut telah ia rasakan, dari yang awalnya ngoding di warnet hingga saat ini alhamdulillah sudah bisa membeli laptop MacBook dari hasil jerih paya sendiri, ini merupakan salah satu kebanggan dan keberhasilan yang telah ia raih.

Salam ngoding!, ujarnya.

Ady Mulyono merupakan mahasiswa semester 8 di STT Terpadu Nurul Fikri jurusan Teknik Informatika. Mulai menyusun skripsi dari semester 7 dengan judul yang diangkat adalah “Merancang Aplikasi Sembako Berbasis Android”. Topik yang diambil membuat kesulitan pada tahap implementasi karena Ady belum mampu untuk membuat aplikasinya hingga saat ini dan masih berusaha dalam membuatnya. Progress yang sudah tercapai kurang lebih 50%, namun itu belum masuk ke dalam pembuatan aplikasi melainkan masih tahapan teori.

Di tengah perjalanan dalam mengerjakan skripsi, Ady sangat merasakan perjuangan mulai dari jarak yang lumayan jauh dari Manggarai ke Depok, semangat yang terkadang turun naik bahkan godaan malas untuk mengerjakan skripsi. Akhirnya Ady mulai semangat melanjutkan skripsi ketika teman-teman yang lain sudah mulai menyelesaikan skripsi yang ditandai dengan telah melakukan sidang akhir. Pada saat itu Ady mulai kembali bangkit dan bersungguh-sungguh mengerjakan skripsi agar dapat lulus bersama teman-teman yang lain.

Menurut Ady skripsi adalah sesuatu yang sangat membutuhkan perjuangan. Biasanya ada waktu luang untuk bermain game, selama proses skripsi berlangsung saya mengurangi waktu bermain game saya. Tetapi saya yakin aka ada saatnya saya bisa menyelesaikan skripsi ini dan dapat bermain game seperti semula. STT Terpadu Nurul Fikri membagi sidang skripsi dalam 2 kali sidang yaitu seminar hasil dan sidang akhir. Strategi itu cukup membantu Ady dalam mengerjakan skripsi karena dikerjakan secara mencicil.

Ady menyamapikan pesan kepada mahasiswa lain yang ingin mengambil skrpsi "Bahwa teman-teman mahasiswa harus sering melakukan bimbingan karena itu yang membuat kalian terbantu dalam pengerjaan skripsi jika mengalami kendala". Semangat Semuanya, ujarnya di akhir kata.

Dzaki Mahfuzh Hamadah merupakan Mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri, pria tinggi dan berkulit sawo matang yang lahir di Bogor, 13 Oktober 1997. Dzaki dikenal dengan karakter yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Terbukti dengan prestasi yang dimiliki menjadi Ketua Angkatan 2015, selain menjadi ketua angkatan, Dzaki memiliki kharisma dalam organisasi, hal tersebut terbukti dirinya terlibat langsung dan menjabat di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) selama dua periode, hal tersebut diungkapnya pada wawancara tanggal 23 Januari 2018 di Ruang BEM. Dzaki mengatakan “Kemampuan yang dapat di tonjolkan dalam organisasi menurut saya adalah Menajerial. Menajarial sebuah ilmu dalam mengatur segala sesuatunya dengan benar, kemampuan manajerial dapat diaplikasikan dalam dunia kerja dan bisnis dimana ilmu tersebut didapatkan di organisasi kampus sehingga membawa perubahan besar dalam hidup”.

Berkat bantuan dan doa kedua orangtua, Dzaki masuk STT Terpadu Nurul Fikri dengan bakat kepemipinan yang mengantarkan dirinya suskes mengembangkan dan membantu organisasi yang ada STT Terpadu Nurul Fikri. Dzaki sendiri merupakan seorang pekerja keras dan tidak pantang menyerah dalam menemukan masa depan serta menentukan masa depan yang ingin dicapai.

Kesibukan saat ini yang sedang digeluti yaitu membangun sebuah startup, melalui startup tersebut Dzaki berharap dapat menyukseskan indonesia menuju negara yang berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) dengan mendukung minimal 2% rakyat indonesia berwirausaha. Kebab Kelinci Nusantara menjadi kesibukannya sekarang, dengan berbisnis kebab kelinci Dzaki memperkenalkan daging kelinci yang rendah lemak dan tinggi protein dibandingkan dengan daging lainnya, selain rendah lemak dan tinggi protein daging kelinci memiliki tekstur yang lembut dan unik. Kesibukan dan bisnis yang dijalani saat bukanlah penghalang baginya untuk tetap berkiprah dan mengabdikan dirinya untuk STT Terpadu Nurul Fikri dengan menjadi ketua DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) periode tahun 2018-2019.

Halaman 1 dari 5