Belum lama ini, sebuah perusahaan di negeri sakura, Jepang, berhasil membuat piyama cerdas untuk pasien di rumah sakit, khususnnya pasien yang menderita demensia. Demensia itu sendiri merupakan sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan, dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Sindrom ini umumnya menyerang orang-orang lansia di atas 65 tahun.

Xenoma, nama sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pakaian cerdas, diketahui sedang mencari cara untuk mengintegrasikan teknologi tersebut ke kehidupan sehari-hari. Melalui konsepnya, yakni dengan menggunakan sensor untuk membantu pelaku medis dalam mengawasi para pasien. Pada saat dilakukan observasi, pasien biasanya harus berdiam di dalam ruangannya. Dengan adanya piyama cerdas ini, observasi kini bisa dilakukan dimana saja, hal ini dikarenakan terdapat sensor pada pakaian tersebut (informasi ini di dapat dari engadget).

Seperti piyama-piyama pada umumnya, dimana piyama cerdas ini juga terdiri dari baju dan celana. Dimana dari masing-masing bagian piyama, terdapat sensor yang diatur sedemikian rupa untuk mencatat input tertentu. Misalnya, sensor pada pinggul dan kaki didesain untuk mendeteksi gerakan. Dengan begitu, pelaku medis bisa megetahui bahwanya pasien sedang bergerak.

Sementara pada bagian baju, sensor dibuat untuk memonitor tanda-tanda seperti pernafasan. Pada bagian ini juga dapat dipasang sepasang port yang mampu terhubung dengan EKG. Salah satu inovasi yang paling menarik dari Xenoma adalah sensor pakaian yang tidak memerlukan cairan khusus agar bisa terhubung dengan kulit.

Selain itu, Xenoma juga mengatakan bahwa pakaian baru akan mengalami kerusakan setelah dicuci sebanyak lebih dari 100 kali, sama seperti pakaian biasa. Pada baju bagian depan, terdapat disk plastik yang menyimpan beberapa piranti, seperti halnya baterai, unit bluetooth, akselerometer dan giroskop. Baterai tersebut mampu bertahan dalam kurun waktu delapan jam dalam satu kali pengisian baterai.

Dalam waktu dekat ini, Xenoma akan melakukan pengujian terhadap piyama cerdas buatannya itu kepada salah satu rumah sakit di Jerman. Diharapkan, pakaian jenis ini sudah akan bisa digunakan pada tahun 2020 mendatang, dengan harga per pakaian kurang dari USD100 (Rp1,3 juta). Semoga bermanfaat.

Published in Artikel
Kamis, 02 November 2017 12:44

Mahasiswi STT Nurul Fikri di Tokyo, Jepang

Siapa yang tak kenal dengan Negeri Sakura itu?

 

         Ketika diumumkan bahwa kegiatan openSUSE.Asia Summit 2017 di Jepang, saya langsung berfikir “Kesempatan untuk bertemu dengan para pengguna, pengembang serta komunitas openSUSE dari berbagai macam negara dan berkunjung ke Tokyo, Jepang.”

           Pendaftaran Call of Paperuntuk menjadi salah pembicara pada acara tersebut dibuka pada Tanggal 7 Juli dan batas pengumpulan terakhir pada 14 Agustus 2017. Selama masa pendaftaran tersebut, rasanya ingin mengumpulkan (submit) ide, namun ada rasa bimbang dalam hati “Apakah ide tersebut akan lolos seleksi?” dan “Apakah ide ini perlu dan menarik untuk disampaikan?”.

          Seminggu sebelum pendaftaran ditutup, terus mengecek dan membuka website pendaftaran, tapi dengan hasil kosong. Akhirnya bertanya-tanya dengan teman yang lain, namun masih satu komunitas dengan saya yaitu GliB. Mendapat dorongan untuk mendaftar dan beberapa teman sebelumnya sudah mengumpulkan idenya.

            Akhirnya saya memutuskan mengumpulkan ide pada tanggal 14 Agustus 2017, tepat pada hari terakhir pendaftaran “Call of Paper” tersebut. Saya memilih untuk membawakan materi tentang LibreOffice”, dengan judul Write Your Story with OpenSource”.

              Rasanya tak sabar, menunggu kabar pengumuman melalui e-mail. Pengumuman diumumkan pada tanggal 4 September 2017. Pada malam pengumuman beberapa teman bercerita telah mendapat pesan konfirmasi bahwa idenya lolos. Dalam hati “Kok saya belum ada e-mail masuk ya, apa tidak lolos?”, dan selang beberapa puluh menit kemudiansaya mendapatkan pesan masuk baru pada e-mail. Allhamdulillah, pesannya berupa konfirmasi dari Fominobu Takeyama bahwa ide saya lolos dan akan menjadi salah satu pembicara pada acara openSUSE.Asia Summit 2017 di Tokyo, Jepang.

            Sejak pemberitahuan itu saya dapatkan, saatnya mulai urus surat-surat untuk keberangkatan. Dibantu dengan Om Edwin Zakaria dan beberapa teman lainnya. Dimulai dari Passport (maklum belum punya) dan kemudian pesan tiket pesawat, penginapan dan terakhir mengurus Visa kunjungan ke negera Jepang. Setelah semuanya terurus, saatnya menyelesaikan presentasi yang akan saya bawakan pada acara tersebut.

          Bahagia rasanya bisa mengunjungi Jepang dan menjadi salah satu pembicara pada acara openSUSE. Asia Sumiit 2017. Jepang sejak dulu menjadi salah satu negara yang ingin saya kunjungi, dan akhirnya saya bisa merasakannya.

          Finally, pokoknya banyak banget pengalaman yang didapat dari acara tersebut. Kenangan-kenangan yang terjadi disana akan sulit untuk dilupakan.

Terima kasih semua untuk semuanya, terutama panitia lokal yang telah bekerja keras untuk berlangsungnya acara keren tersebut.

 

 

          Udah telat belum ya?. Pasti banyak yang bertanya-tanya, “Apa itu openSUSE. Asia Summit?”. Oh iya, sebelumnya saya ingin menjelaskan tentang openSUSE. Asia Summit. openSUSE Asia Summit adalah acara yang mempertemukan kontributor dan pengguna openSUSE. Acara yang diadakan setiap tahun ini dilaksanakan pada tiap tempat yang berbeda dimulai dan dilaksanakan selama dua hari.

                Di sini mereka bisa saling berbagi pengalaman, belajar teknologi perangkat lunak bebas dan open source, hingga bincang-bincang bebas terutama mempromosikan openSUSE di seluruh dunia dan di Indonesia khususnya, supaya semakin banyak orang yang tertarik dengan openSUSE dan berusaha jadi pengguna maupun kontributor, menyatukan pengguna openSUSE di Indonesia dan Asia untuk meningkatkan kualitas jaringan dan kolaborasi, memperluas penetrasi openSUSE di sektor bisnis dan pemerintahan, serta menginspirasi orang-orang mengenai kebebasan di dunia FLOSS.

               openSUSE.Asia Summit sudah tiga kali dilaksanakan, dan pada tahun ini akan segera terlaksana kembali. Sebelumnya, tahun 2014 di Beijing/Tiongkok kemudian tahun 2015 di Taipei, tahun 2016 dilaksanakan di Yogyakarta Indonesia tepatnya di UIN Sunan Kalijaga dan pada tahun 2017 ini dilaksanakan di Tokyo Jepang tepatnya di Universitas Komunikasi Elektro. Pada tahun 2017, kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21-22 Oktober 2017.

 

 

Sampai jumpa di tahun depan.

Senang bisa berjumpa dengan kalian!

Published in Kegiatan Kampus