Jumat, 09 Maret 2018 06:45

Mahasiswa STT-NF Mengikuti Kegiatan CLC (Cordofa Leadership Camp) Batch 3 di Baduy

Written by  Laila Nafilah Mahasiswi STTNF
Rate this item
(2 votes)

Tahun ini Dompet Dhuafa kembali mengadakan kegiatan CLC (Cordofa Leadership Camp) untuk batch 3, kegiatan ini dilakukan setiap setahun sekali. CLC batch 3 tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini CLC tidak hanya terbuka untuk LDK (Lembaga Dakwah Kampus) namun juga terbuka untuk BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) bahkan untuk umum seperti komunitas, remaja mesjid, dll. Munculnya kegiatan CLC sendiri bertujuan untuk menciptakan da’i muda yang tidak hanya berdakwah secara personal, tetapi juga secara sosial. Tidak berbeda seperti tahun sebelumnya, ada sebanyak 80 peserta yang mengikuti kegiatan CLC batch 3.

Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri megutus sebanyak 6 mahasiswa sebagai peserta, 3 perwakilan dari BEM STT-NF yaitu Chairin Nashrillah, M Akmal N dan Aufa Billah, 3 perwakilan dari LDK SENADA yaitu Rizka Amalia, Hulwah Zahidah dan Ibrahim Syafiq M. Tidak peserta, mahasiswa STT-NF juga ada yang menjadi Panitia CLC Batch 3 yaitu Nurul Azizah sebagai alumni CLC Batch 2 tahun lalu yang diadakan di Lembang. Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 hari di Suku Baduy luar dari tanggal 2- 6 Maret 2018.

Hari pertama 2 Maret 2018, para peserta berangkat dari tempat masing masing ke meeting point di rangkasbitung. Para peserta tiba di Meeting Point jam 11:00, kemudian dilanjutkan Shalat Jum'at. Setelah Shalat Jum'at para peserta bersiap-siap untuk berangkat ke Cijahe pusat acara CLC Bacth 3 dengan menggunakan KRD. Perjalanan yang menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam dan melalui jalur yang sangat terjal, akhirnya para peserta tiba di Cijahe pada pukul 16.00 WIB.

Sampai di Cijahe, para peserta ikhawan dan akhwat langsung belajar secara praktik bagaimana cara mendirikan tenda dan menggali parit untuk mengantisipasi jika terjadi hujan. Memasuki waktu maghrib, para peserta bersiap-siap untuk melaksanakan shalat maghrib kemudian dilanjutkan pengumuman tentang  informasi-informasi penting yang harus ditaati para peserta selama mengikuti kegiatan tersebut mulai dari pengumpulan hp, arahan kedisiplinan yang harus diikuti panitia, serta yang terakhir pembagian kelompok. Jam 21:00 malam, para peserta langsung diarahakan oleh panitia untuk beristirahat dan bersiap-siap menghadapi hari esok yang akan diisi dengan berbagai materi.

Hari kedua 3 Maret 2018, kegiatan dimulai dengan Qiyamul Lail pada pukul 03:00 dan dilanjut dengan shalat shubuh berjamaah. Pukul 08.00 WIB para peserta mengikuti pemberian materi sampai pukul 21.00 WIB. Ada sebanyak 5 materi yang dibahas di hari kedua tersebut, mulai dari materi tentang Kepemimpinan Islam yang di sampaikan oleh Ustadz Herman Budianto, dilanjutkan materi Manajemen Dakwah yang disampaikan ustadz Ahmad Shonhaji, Diskusi Muslim Negarawan yang di sampaikan oleh ustadz Bambang Suherman, dan terakhir diakhir materi Internalisasi nilai nila DD yang disampaikan Yudha Abadi.

Hari ketiga 4 Maret 2018, kegiatan masih sama seperti hari sebelumnya, para peserta tetap bangun pukul 03:00 pagi untuk melaksanakan shalat tahajud dan dilanjutkan shalat shubuh. Peserta mendapatkan materi yang tidak kalah dari materi hari sebelumnya, penyampaian materi dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB yang di akhiri dengan diskusi peserta. Materi yang dibahas tentang kerelawanan DD Volunteer yang disampaikan oleh ustadz Sabeth Abilawa, dilanjutkan tentang First Aid yang disampaikan oleh DMC, tentang Trauma Healing  yang disampaikan oleh Rina Fatimah , tentang Participatory Rural Apraisal (PRA) yang disampaikan oleh Fatchuri Rosyidin , dan tentang  Comdev (konsep sosial mapping) yang disampaikan oleh SosDev DD.

“Walaupun banyak materi yang diberikan di acara ini, penyampaian materinya sangat seru dan tidak membosankan sama sekali. Dan materi yang di berikan di acara ini merupakan ilmu-ilmu yang belum kita ketahui sebelumnya”. Ujar Rizka Amalia. “Pesertanya juga seru-seru dan ramah,  kita disana sangat dekat seperti tidak ada sama sekali sekat di antara kita,” lanjut Rizka .

Setelah dua hari mendapatkan materi, kegiatan hari keempat  adalah  outbond yang dimulai pada pukul 08.00-13.00, setelah outbond para peserta dipersilahkan untuk istirahat sebentar dan mempersiapkan untuk melakukan tracking dari Cijahe ke Ciboleger.

Pukul 17:00 para peserta mulai melakukan tracking menuju ciboleger, keberangkatan dimulai per kelompok dengan jeda waktu 10-20 menit. Akhirnya pukul 21:00 ara peserta tiba di perkampungan suku baduy luar untuk berisitirahat, sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke Ciboleger keesokan hari.

Keesokan harinya, setelah melaksanakan shalat subuh para peserta melakukan sesi sharing bersama panitia sebelum akhirnya melanjutkan kembali perjalanan pada pukul 09:00 menuju Ciboleger. Ditengah perjalanan para peserta beberapa kali berhenti untuk istirahat, dan para peserta juga berhenti di tengah perjalanan untuk berofoto-foto dengan panitia yang berasal dari satu kampus. Perjalanan kembali diteruskan dan akhirnya peserta tiba di Ciboleger pada pukul 13:00. Sampai disana, para peserta berisitirahat dan bersiap-siap mengikuti acara terakhir. Acara terakhir ditutup dengan upacara penutupan, lalu pemberian penghargaan kepada peserta. Setelah ditutup, para peserta menuju ke Rangkasbitung menggunakan mobil dan akhirnya peserta kembali ke tempat masing-masing.

“Begitu banyak pelajaran yang di dapatkan dari CLC batch 3. Mulai dari materi yang didapatkan sebagai pengetahuan sampai outboud yang memberikan nilai secara tersirat. Dari materi yang didapatkan, kita jadi tahu bagaimana dalam menyikapi perbedaan dalam agama, yang selama ini kita ributkan hanyalah permasalahan pendapat bukan masalah akidah. Selain itu kita juga diajarkan bagaimana menjadi dai yang tidak hanya berdiri di mimbar saja, tetapi terjun langsung ke masyarakat.” Ujar Aufa Billah.

“Selain mendapatkan banyak pelajaran dari CLC batch 3, kita juga menambah pengalaman tentang kerelawanan dan membuka fikiran kita, bagaimana relawan bekerja tanpa pamrih, bagaimana menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar, relawan tidak dibayar bukan tak bernilai tapi tak ternilai. Disana kita juga dapat bertemu dengan orang-orang hebat dan sosok-sosok yang menginspirasi di luar kampus mulai dari peserta sampai panitia yang bekerja tanpa kenal lelah”, lanjut Aufa. “Jadilah pemuda yang bermanfaat bagi orang lain yang tidak hanya mementingkan ibadah ritual tetapi juga mempedulikan ibadah sosial.”, pesan Aufa.

Read 517 times Last modified on Jumat, 09 Maret 2018 12:23