MenGab Akhwat (Mentoring Gabungan Akhwat) adalah salah satu acara yang ada di rangkaian kegiatan Kafilah Ramadhan Season 2. Kafilah (Karantina Fisabilillah) Ramadhan merupakan acara wajib yang diadakan oleh LDK Senada STT Terpadu Nurul Fikri setiap satu tahun sekali di bulan Ramadhan. Dimana kegiatan ini telah memasuki tahun kedua setelah sukses terlaksana pada bulan Ramadhan tahun 2016 lalu.

Sesuai namanya, mentoring ini diadakan khusus untuk akhwat, yang mana diperuntukan untuk seluruh mahasiswa serta alumni STT NF. Berbeda dari biasanya, yang mana setiap kelompok mentoring hanya terdiri dari 7 hingga 10 orang. Namun mentoring kali ini merupakan gabungan dari beberapa grup mentoring di STT NF.

Selain lebih ramai, acara mentoring gabungan ini juga terlihat lebih seru dan menarik. Bagaimana tidak, persiapan panitia yang dilakukan dari jauh-jauh hari, terlaksana sesuai dengan yang direncanakan di awal. Dalam rundown acara yang telah dilaksananakan pada Kamis, 25 Mei 2017 lalu, dimulai dengan registrasi peserta, kemudian dibuka oleh MC, dan dilanjutkan dengan tilawah oleh salah satu peserta mentoring.

Dalam MenGab ini, panitia mengundang dua orang pembicara yang sangat keren dalam mengisi acara dengan tema yang cukup menarik. Yakni ‘Ada Apa dengan Kita?’ oleh kak Wulan, pembicara pertama. Dan ‘Seba-serbi Ramadhan” oleh pembicara kedua, yang bernama Kak Yani. Antusias peserta pun membuat suasana mentoring menjadi lebih hidup. Ada sharing, tanya-jawab, serta doorprize untuk peserta yang mampu menjawab pertanyaan dari pemateri.

Selain itu, ada pula games untuk peserta mentoring. Games tersebut dipilih untuk kembali membangkitkan semangat peserta dalam mengikuti rangkaian acara. Tujuan lain dari diadakannya games adalah untuk mempererat silaturahmi dan membangun kekompakan antar mahasiswa dan almuni STT NF.

Ada juga rujak party yang telah disiapkan oleh panitia. Setelah itu, ketika waktu menunjukan pukul 12.00, semua peserta dan panitia melakukan sholat berjamaah.

Kemudian, berkumpul kembali untuk makan siang. Acara MenGab ini, selesai dengan diakhiri foto bersama dengan pemateri kedua, yaitu kak Wulan. Kemudian, peserta keluar ruangan untuk kembali melakukan sholat ashar berjama’ah di Mushola STTNF.

Published in Pojok Mahasiswa

Penerimaan Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri (STT NF) T.A 2017/2018.Nurul Fikri sebagai lembaga pendidikan yang namanya telah dipercaya selama lebih dari 30 tahun. Mulai dari pendidikan TK IT, SD IT, SMP IT, SMA IT, hingga perguruan tinggi yang telah dipercaya oleh masyarakat se Indonesia.

Menjadi pelopor dalam menghasilkan SDM-SDM Indonesia yang berprestasi dan berakhlak mulia, dengan konsep pendidikan islam terpadu. Di era MEA saat ini kebutuhan SDM di bidang IT sangat tinggi. Hal tersebut juga diiringi perkembangan bisnis yang pesat di bidang mobile application, web programming, dan cyber security.

STT Terpadu Nurul Fikri menjadi jawaban tepat untuk memenuhi tantangan di era Teknologi Informasi saat ini. Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri memadukan keilmuan praktis di bidang teknologi informasi dengan pengembangan kepribadian islami.

Saat ini membuka Penerimaan Mahasiswa Baru T.A 2017/2018.
1 Juta Sudah Bisa Kuliah, Bebas Uang Pangkal & Uang Gedung. Klik : http://pmb.nurulfikri.ac.id/

Daftar di Gel I : s.d 31 Januari 2017
Potongan biaya kuliahnya Rp. 1,5 Juta.

Daftar di Gel II : 1 Feb s.d 16 April 2017
Potongan biaya kuliahnya Rp. 1 Juta.

Daftar di Gel III : 17 April s.d 11 Juni 2017
Potongan biaya kuliahnya Rp. 750 Ribu.

Daftar di Gel IV : 12 Juni s.d 31 Juli 2017
Potongan biaya kuliahnya Rp. 500 Ribu.

Program Studi:

Sistem Informasi
Teknik Informatika

Pilihan Kelas:
Reguler Pagi
Reguler Sore/Karyawan
Reguler Akhir Pekan

Keunggulan STT-NF:
100% Lulusan Sudah Bekerja
1 Juta Bisa Kuliah
Bebas Uang Pangkal & Uang Gedung
Terakreditasi BAN-PT
Tersedia Program Beastudi Dhuafa Berprestasi Nusantara
Bersertifikasi Nasional & Internasional
Lingkungan yang Positif & Berkarakter
Tahsin & Tahfidz
Dosen Profesional Bidang IT Lulusan UI, ITB, Universitas di Jepang & Singapura
Career Development Center
Technopreneur Center
Bimbingan mendapatkan beasiswa untuk Studi S2 (Universitas dalam & luar negeri)

Location :

Kampus A STT NF : bit.ly/KampusASTTNF
Kampus B STT NF : bit.ly/KampusBSTTNF

Daftar Sekarang klik http://pmb.nurulfikri.ac.id/

Join Us :
Facebook : STTTerpaduNF
Twitter : @STTTerpaduNF
Instagram : sttterpadunf
Youtube : youtube.com/STTNF
Line id : sttterpadunf
website : http://nurulfikri.ac.id/

Call Center :
Telp : (021)7863191 (Putri)
HP : 085716243174, 085714141089 (Panji)



Published in Kegiatan Kampus
Wednesday, 04 January 2017 02:10

Hafidzoh Kembar di Kampus Nurul Fikri

Afifa Diniputri dan Latifa Diniputri, putri ke- 4 dari pasangan Bapak Sutadi dan Ibu Tri Wahyuni ini sudah menjadi bagian STT Terpadu Nurul Fikri sejak tahun 2016. Jurusan Sistem Informasi menjadi pilihan hafidzoh kembar ini.

Jauh sebelum memiliki status sebagai mahasiswi, Afi dan Tifa, begitu akrab mereka disapa, sudah memulai menghafal Al-Qur’an. Sejak TK sudah mulai menghafal surat-surat pendek, seperti Surat An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, dan sebagainya. Terus tumbuh dan memasuki tingkat SD, si kembar ini melanjutkan hafalannya hingga berhasil menghafal hampir satu juz (juz 3)0 sampai lulus dari SDIT Baiturrahman Jakarta

Melanjutkan hafalan dari Juz terakhir hingga berhasil menghafal 5 Juz (Juz 26 – juz 30) semasa di SMPIT YAPIDH. Tak puas dengan hafalan yang sudah dimilikinya, Afi dan Tifa melanjutkannya dengan menghafal dari Juz awal sampai berhasil menuntaskan targetnya di SMAIT YAPIDH, yaitu 5 juz pertama (Juz 1 – Juz 5).

Untuk sampai pada titik ini tentu ada perjuangan yang harus di bayarnya, Afi dan Tifa harus menyisihkan waktunya untuk menghafal dan murajaah (mengulang), guna menjaga hafalan sebelumnya. Biasanya setelah maghrib, mereka murajaah hafalan masing-masing, lalu membaca ayat yang akan dihafalnya untuk di setorkan keesokannya. Di sepertiga malam, waktu yang dipilih mereka untuk menghafal. Setiap harinya Afi dan Tifa di targetkan menghafal 3 baris, dan disetorkan setiap sore kepada ustadzah-nya. Begitu terus hingga setiap semester diadakan ujian. Uniknya, ketentuan disana mengharuskan orangtua hadir, duduk disamping putra/i-nya yang akan ujian, begitupun Afi dan Tifa tentunya. Walaupun hadir rasa “dag dig dug” tapi inilah salah satu bukti dukungan moral dari orangtua peserta didik.

Dilanjutkan kuliah di STT NF, Afi dan Tifa berharap dapat menuntaskan hafalannya, yaitu 30 Juz sebelum lulus dengan mengikuti program tahsin dan tahfidz.

Published in Pojok Mahasiswa
Thursday, 17 September 2015 00:00

Mentoring Gabungan Mahasiswa STT NF

Bidang Pembentukan Karakter STT NF mengadakan Mentoring Gabungan bagi mahasiswa tingkat 2, 3 dan 4 pada Rabu (16/9). Mentoring gabungan bertujuan untuk menyegarkan kembali hati dan pikiran mahasiswa saat memulai perkuliahan di semester baru. Acara yang dimulai pukul 8.00 pagi, dibuka dengan tilawah al-Qur'an dan dilanjutkan penyampain materi oleh Drs. Musholi selaku Pembina Yayasan Profesi Terpadu Nurul Fikri.

Pada kesempatan itu pembicara menyampaikan inti surat Ali Imran, ayat 159, yang artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."

Pembicara menekankann dua hal yang terkandung dalam ayat tersebut, yaitu tentang pentingnya bersikap lemah lembut dan bersedia membuka diri, baik hati maupun pikiran. Dalam hal pertama, Rasulullah SAW telah mencontohkan sebagai sosok manusia paling lemah lembut dan juga tegar dalam perjuangan dakwahnya. Karena itu, mahasiswa sebagai generasi muda Islam sangat diharapkan meneladani sifat lemah lembut Rasul tersebut. Selain itu, pembicara mengajak para mahasiswa agar senantiasa bersikap saling menghargai antar sesama. "Hal itu penting agar apa yang kita sampaikan kepada orang lain akan mudah diterima dengan senang hati," jelas Musholi.

Aspek kedua, pembicara menguraikan agar mahasiswa memiliki pemikiran yang cerah, menghilangkan sifat keras hati, kedengkian dan dendam. Sebagai perintis pendidikan terpadu, pembicara ingin mahasiswa STT NF tidak menjadi orang yang kerdil pemikirannya, lantaran hatinya dipenuhi sifat dengki dan iri. Jika bersikap terbuka, mahasiswa akan memiliki pemikiran yang cerah dan dapat mengoptimalkan segala potensi serta bakat yang ada dalam dirinya. Semua mahasiswa harus siap berkarya dan berkompetisi dalam era global.

"Manusia dianugerahkan dua potensi, yaitu potensi kebaikan dan keburukan. Menjadi tugas kita sebagai manusia untuk mengoptimalkan potensi kebaikan agar keburukan dalam diri kita hilang," tandas Musholi.

Selain sebagai sarana dakwah di kalangan mahasiswa, mentoring gabungan berperan sebagai wadah pembelajaran dan berbagi pengalaman antara mentor-mentee. Hendra Aditiyawijaya, selaku ketua LDK SENADA menambahkan, "Mentoring merupakan salah satu metode yang penting untuk pembentukan pribadi lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih baik adalah upaya kita dalam menjaga fitrah yang telah Allah berikan." (HA)

Published in Kegiatan Kampus
Wednesday, 02 September 2015 00:00

Sekolah Mentor: Ditinjau dari Berbagai Aspeknya

Oleh: Warsito

Akhir pekan lalu (29-30 Agustus) saya mengikuti acara training Sekolah Mentor, yang diselenggarakan oleh LDK Senada STT-NF, kampus tempat saya menimba ilmu. Sekolah Mentor adalah acara yang bertujuan untuk mendidik para calon mentor, tentu agar bisa menjadi mentor yang baik dan efektif.

Bagi sebagian orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah mentoring. Tetapi untuk menyamakan persepsi, maka ada baiknya saya sedikit menjelaskan tentang istilah-istilah di atas.

Saya kuliah di kampus yang kental dengan nilai-nilai keagamaan, sesuai dengan semboyannya "Cyber campus for Innovation and Character building". Dalam penanaman nilai agama, ada suatu kultur yaitu mentoring, belajar bersama dalam kelompok kecil (micro teaching). Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan majelis ilmu pada umumnya, hanya berbeda nama dan sedikit kemasan yang khas.

Yang pertama adalah istilah mentoring sebagai kegiatan majelis ilmu. Jika ada majelis ilmu, pasti ada yang mengajar dan yang diajar. Pengajar disebut Mentor, atau yang levelnya lebih tinggi lagi disebut Supervisor. Peserta yang diajar disebut Mentee (dibaca "menti"), atau biasa dipanggil sebagai Binaan dakwah. Istilah Mentor dan Mentee ini biasanya digunakan bagi mereka yang masih mahasiswa. Kegiatan pembinaan ini berjenjang sesuai dengan tingkat pemahaman dan pelibatan dalam aktivitas dakwah.

Sekarang saya ingin mengungkapkan kesan setelah mengikuti acara tersebut. Saya ingin meminjam istilah dari Nurcholis Madjid, tentang mentoring ditinjau dari berbagai aspeknya.

Mendidik Pemuda Islam

Mentoring bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia Islam. Ia ada sejak Islam datang pertama kali di Mekkah. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah Pendidik (Murabbi) pertama dalam sejarah Islam. Kegiatan yang berdampak amat baik bagi pertumbuhan pemuda-pemuda kader Islam generasi pertama. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga zaman Sahabat, Tabi'in, Tabiut Tab'in, sampai saat ini. Bahkan, kegiatan mentoring dicontoh oleh orang-orang non-Muslim di benua Eropa.

Hal ini terbukti bahwa kegiatan mentoring ini sangat berperan dalam melahirkan pemuda yang unggul, sehingga perlu dilanjutkan. Untuk meneruskan estafet perjuangan inilah kegiatan mentoring harus tetap ada, sebagai wahana mendidik generasi muda Islam. Adapun tolok ukur berhasilnya kegiatan mentoring adalah mentor mampu menjadikan binaannya menjadi seorang mentor berikutnya untuk disiapkan menjadi penggantinya.

Pemuda Tarbiyah

Selian aktif di kampus STT NF, saya merupakan anggota organisasi DISC Masjid UI, yang termasuk lingkungan Universitas Indonesia. Di sana, saya bertemu dengan senior-senior yang berasal dari berbagai latar belakang pemikiran. Ada yang berasal dari LIPIA, Muhammadiyah, NU, Persis dan Paramadina. Kami seringkali berdiskusi mengenai berbagai tema, termasuk juga tentang gerakan organisasi pemuda khususnya mahasiswa.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa di kampus-kampus, bahwa pemuda tarbiyah seringkali diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh kalangan tertentu. Pemuda yang tidak suka dengan anak-anak tarbiyah ini muncul dari kalangan pemuda sekuler dan agak "kekiri-kirian". Mereka yang tidak suka ini karena menyangka anak tarbiyah menjadi simpatisan kelompok tertentu.

Tetapi kemudian mereka membuat alasan lain. Salah satunya yaitu anak tarbiyah itu terlalu lugu, banyak yang masih anti terhadap pemikiran, seni dan sastra modern. Anak tarbiyah dianggap tidak bisa diajak berdiskusi untuk berfilsafat, memikirkan hal yang paling fundamental. Pada akhirnya mereka beranggapan bahwa anak-anak tarbiyah jarang mengkaji esensi ibadah sampai pada makna hakikat. Banyak kader tarbiyah yang menjadi kapitalis dan sekuler tanpa sadar, karena tidak paham esensi beragama. Mereka menertawakan semua itu. Kondisi seperti itu memang menyakitkan.

Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Ibadah

Melihat kegiatan keseharian seharusnya tidak ada yang memungkiri, bahwa anak-anak tarbiyah ibadahnya cukup kuat. Terbiasa tahajud, shalat dhuha, tadarus satu juz sehari (ODOJ, one day one juz). Jika dibandingkan dengan anak muda pada umumnya, tentu saja saya tidak ada apa-apanya. Saya lebih cenderung urakan, penampilan asal-asalan, tidak rapih, rambut sedikit gondrong dan acak-acakan.

Tetapi, saya ingin menyampaikan kepada orang-orang yang suka mengejek anak-anak tarbiyah. Sudahlah, jangan seperti itu lagi. Jika kita mau jujur, kita tidak akan saling mengejek, menghina dan meremehkan orang lain. Jika kita sudah mengenal sosok Nabi Muhammad SAW, minimal sudah membaca kisah hidup beliau, di situ digambarkan akhlaq mulia beliau.

Kita akan lebih menghargai orang lain, bila kita telah selesai membaca buku Sirah Nabawiyah. Karena kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW penuh dengan hikmah mengharukan, memuat akhlaq mulia yang bisa meneteskan air mata bila kita membaca dan merenungkannya dengan penuh cinta.

Sekolah Mentor bisa menjadi sarana untuk menjaga spiritualitas binaan maupun mentor. Hal ini sesuai dengan visi tarbiyah (pendidikan Islam secara paripurna). Aspek ibadah begitu penting untuk menjaga kesolidan gerakan. Dalam suatu taujih, salah satu faktor yang menjadi kekuatan dakwah adalah kekuatan ruhiyah, atau spiritualitas.

Karena itu, Mentoring merupakan kegiatan penting untuk mendidik pemuda sehingga bisa menjadi hamba shalih yang kuat ruhiyah dan spiritualitasnya. Tentu tanpa mengesampingkan ilmu lain yang dirasa penting dalam kondisi kekinian. Kita harus paham melihat dunia ini pada hakikatnya seperti apa. Tidak merasa amat pintar karena sukses akan duniawi, lalu merendahkan orang lain. Menjadi shalih tetapi kapitalis tanpa sadar.

Kembali ke topik acara, entah mengapa saya bisa terpilih menjadi peserta sekolah mentor. Padahal, saya tidak termasuk rajin ikut mentoring . Saya sempat merasa menjadi peserta sekali saat ikut acara tersebut. Tetapi setelah melihat foto acara, saya tidak lagi merasa menjadi diri saya. Di sana saya terlihat tidak termasuk kriteria peserta yang baik, terkenal rapih dan bersih. Tidak seperti saya. Semoga sekolah ini menjadi arena pembelajaran buat diri saya dan kawan-kawan yang lain. Mari kita mengubah diri kita sendiri, sebelum memperbaiki kondisi masyarakat dan bangsa ini, []

Published in Kegiatan Kampus
Monday, 13 April 2015 00:00

Kemauan Menuntun Kemampuan

Apa sih yang dimaksud dengan kemauan? Mengapa kemauan yang menuntun kemampuan, dan bukan sebaliknya?

Kemauan adalah sesuatu hal perasaaan atau keyakinan yang muncul dari lubuk hati manusia. Dengan melakukan sesuatu karena dorongan dari hatinya sendiri, seseorang akan berusaha semaksimal mungkin dan melakukan hal yang terbaik, walaupun kemampuannya sendiri biasa-biasa saja, bahkan sangat kurang. Berbeda dengan seseorang yang memiliki kemampuan, tapi dia tidak ada niat atau kemauan untuk melakukan apa yang dimiliki kemampuannya itu.

Terkadang banyak orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Akan tetapi, keinginan/kemauannya tidak berjalan seiring dengan kemampuannya. Bisa juga sebaliknya. Ketika seseorang yang memiliki kemampuan, tapi tidak ada sedikitpun kemauan di dalam dirinya, kemampuannya itu tidaklah berguna atau tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Namun, jika kita memiliki kemauan, dan kita tahu kemampuan yang dimiliki tidak seberapa, bukan hal yang mustahil akan mengalahkan orang yang memiliki kemampuan lebih dari kita.

Hal itu dikarenakan, sebelum melakukan sesuatu hal, yang wajib/memang harus kita kerjakan adalah niat/perasaan keinginan terbesarnya. Kemampuan akan terlihat dengan usaha kerasnya, karena dari niat itu muncul kemauannya.

Karena itu, janganlah berkecil hati dengan kemampuan yang kita miliki. Seiring berjalannya waktu, kemampuan yang kita usahakan terus dengan niat/kemauan yang tinggi. Kemauan akan lebih dahsyat dibandingkan orang yang memiliki kemampuan, namun tidak ada kemauan. Di sinilah pentingnya Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) dibandingkan Intelligent Quotient (IQ).

Mengapa bisa begitu? Karena, daya kemauan yang disebut dengan keinginan yang bersendikan niat akan menentukan bagaimana pikiran itu akan sampai pada kemampuan mau melakukannya.

Dengan pondasi kedewasaan rohaniah yang kokoh, yang menopang kedewasaan dalam hubungan sosial dan emosional, maka kekuatan daya kemauan akan menuntun kemampuan manusia untuk mengukir potensi dan bakat yang ada di dalam dirinya.

Milikilah kemauan yang kuat. Kemauan sangat penting dalam segala hal, terutama dalam menuntut ilmu. Sebuah cerita tentang batu yang ditetesi air secara terus-menerus, maka lama-kelamaan akan menjadi cekung, bahkan berlubang. Itulah pelajaran luar biasa, sebuah batu yang amat kokoh dan keras saja dapat dilubangi oleh tetesan air. Begitu pula kita sebagai manusia, dalam menuntut ilmu, jangan beralasan kita tidak memiliki kemampuan tentang itu, sehingga menurunkan semangat kita dalam belajar.

Percayalah, batu saja yang begitu keras dapat dilubangi oleh air, apalagi otak kita ketika dilatih terus-menerus dengan ilmu pengetahuan, maka lambat laun akan mencerna ilmu pengetahuan yang kita pelajari itu. Banyak orang yang memiliki keterbatasan IQ, tapi mampu menjadi seorang ilmuan. Hal itu dapat terjadi karena dia memiliki kemauan yang keras (EQ).

Berikut beberapa faktor yang dapat menjadikan sesorang yang tidak mampu menjadi mampu karena kemauannya yang menyala-nyala:

  • Meluruskan niat
  • Memiliki kemauan untuk belajar
  • Tahu apa yang ingin dicapai
  • Membayar harga untuk mencapainya

Ingatlah, kalau ada kemauan, insya Allah dimampukan. Yakinilah bahwa Allah pasti akan membantu apa yang ingin kita capai dengan niat yang tulus dan ikhlas. Bahkan, untuk mencapai hal yang sebelumnya pun tidak mampu kita lakukan. Believe it! (Nadya Yutrianti)

Sumber: ukimedianet.blogspot.com

Published in Kisah dan Curhat
Wednesday, 11 March 2015 00:00

Kurikulum Pembentukan Karakter STT NF

Membentuk karakter tidak semudah seperti membangun rumah, gedung, jalan dan bangunan lainnya. Pembentukan karakter merupakan komponen penting agar manusia dapat mencapai tujuan hidup, yaitu menjadi lebih baik dan lebih mulia dari waktu ke waktu.

Kata karakter sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu "kharakter, kharassein, dan kharax" yang artinya "tools for marking" (alat untuk menandai), "to engrave" (mengukir) dan "pointed stake" (menunjukkan). Kata ini mulai banyak digunakan dalam bahasa Perancis (caractere) pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi character, sebelum akhirnya menjadi bahasa Indonesia yakni karakter. Dalam kamus Poerwardarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti.

Karakter memegang peran penting dalam menentukan sikap dan perilaku manusia yang harus dilatih sejak usia dini dan perlu dibina serta dikembangkan secara bertahap, berkesinambungan dan berkelanjutan.

Pembentukkan karakter diterapkan juga oleh kampus tercinta STT NF, yang memiliki mata kuliah Soft Skill, wajib dijalani oleh seluruh mahasiswa. Mata kuliah soft skill diberikan mulai semester pertama hingga semester akhir, dengan tujuan meningkatkan dan menciptakan karakter profesional dan berbudi pekerti luhur dalam segala bidang.

Susunan mata kuliah pembentukan karakter di STT NF sebagai berikut:

  • Pada semester satu, ada mata kuliah Agama Islam. Dengan mata kuliah ini mahasiswa mampu mengenal Islam lebih dalam, memahami ayat al Qur'an dan hadist Rasulullah, fiqh prioritas, integritas ilmu, dan masih banyak lagi.
  • Pada semester dua, terdapat mata kuliah Keterampilan Berpikir Positif yang dapat mendorong mahasiswa agar memiliki kebiasaan berpikir dinamis, mencari tahu dari yang tidak tahu, melalui pengetahuan keterampilan dan keinginan secara berkelanjutan dalam mewujudkan keberhasilan.
  • Pada semester tiga, terdapat mata kuliah Pembentukan Karakter. Melalui mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu membentuk karakter yang pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, toleran, bergotong royong, dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki iman dan takwa kepada Allah Swt.
  • Pada semester empat, diberikan mata kuliah Keterampilan Berkomunikasi, dengan tujuan agar mahasiswa mampu untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar secara baik. Keterampilan komunikasi juga dapat berguna untuk mengetahui kehidupan yang lebih luas. Selain itu dalam organisasi, keterampilan berkomunikasi bertujuan untuk mengefektifkan setiap fungsi manajemen.
  • Pada semester lima, terdapat mata kuliah Keterampilan Kerjasama. Pada mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan informasi dan pengetahuan, meningkatkan ragam pandangan, meningkatkan solidaritas dalam berorganisasi, meningkatkan penerimaan atas suatu solusi, dan meningkatkan tingkat kinerja.
  • Pada semester enam, mata kuliah soft skill yang diberikan adalah Keterampilan Kepemimpinan. Mahasiswa diharapkan mampu untuk mendatangkan manfaat bagi masyarakat, berbekal kualitas-kualitas terbaik yang membedakan dirinya dengan lainnya.
  • Pada semester tujuh, terdapat mata kuliah Kewirausahaan. Pada mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu untuk merintis bisnis/wirausaha sebelum lulus perguruan tinggi. Ilmunya dapat diterapkan di semua bidang pekerjaan dan kehidupan, sehingga berguna sebagai 'bekal' masa depan. Mahasiswa bisa berkarir di bidang apapun, serta dapat memajukan perekonomian Indonesia dan kemakmuran bangsa.
  • Pada semester delapan, mata kuliah soft skill adalah Etika Profesi. Mahasiswa diharapkan mampu bertanggung jawab terhadap pelaksanaan suatu pekerjaan dan hasilnya, serta bertanggung jawab terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.

Selain memasukkan konten pembentukan karakter secara resmi melalui kegiatan akademik, STT NF juga menyediakan suatu perkumpulan yang wajib dijalani oleh seluruh mahasiswa, yaitu mentoring rutin dijalankan setiap pekan. Dalam mentoring, mahasiswa diharapkan dapat berbagi masalah yang mereka hadapi dengan pembimbing yang kompeten, serta berbagi ilmu satu sama lain.

Menurut para ahli, untuk meraih kesuksesan harus menguasai beberapa karakter khusus. Berikut ini beberapa contoh karakter khusus, yaitu:

  • Mampu bekerjasama sebagai sebuah tim
  • Memiliki motivasi kerja yang tinggi
  • Memiliki tanggung jawab penuh
  • Mampu mengatasi masalah dengan baik
  • Memiliki sifat jujur
  • Mempunyai kepercayaan diri yang tinggi
  • Ketrampilan berkomunikasi, dan sebagainya

Beberapa karakter itu merupakan sikap yang mendasar untuk mengawali pembentukan karakter yang tepat. Kita akan menjadi pribadi yang mengenali jati diri dan berkontribusi bagi semua manusia. (Candra Ayu Lestari)

Published in Kegiatan Kampus

Saya mengikuti kuliah Change Management, dosen yang mengajar adalah Dr. Bambang Priantono M.T. Di sela penyampaian materi, Dosen bercerita tentang dunia kerja, terutama pengalamanya selama bertugas di berbagai perusahaan. Hal menarik yang disampaikannya adalah kaitan pendidikan dan pekerjaan. Saat ini, Dr. Bambang menjabat sebagai Direktur Utama Lintasarta (anak perusahaan Indosat).

Ia bercerita mengenai pentingnya penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Begitu pentingnya bahasa Inggris karena bisa mempengaruhi jabatan dalam perusahaan. Ia bercerita mengenai orang-orang yang menjabat di sebuah perusahaan, kemudian tersisihkan, karena tidak bisa mengkomunikasikan gagasan yang bagus dalam bahasa Inggris di depan orang-orang asing.

Ketika orang Indonesia yang pintar dalam lingkungan kerja yang terdapat banyak orang asing di perusahaannya, maka tantangan semakin besar. Misalkan, kita mempunyai pengetahuan sebanyak 10, kemudian karena bahasa asing kita lemah dan tidak bisa menyampaikan gagasan kita dalam bahasa asing secara memadai, maka dari 10 tadi menjadi hanya 4 gagasan saja yang berhasil disampaikan. Akhirnya, para petinggi yang notabene orang asing ini merasa kecewa. Orang pintar itu yang semula orang penting dalam perusahaan kemudian tersisih.

Kita semua pasti ingin berhasil, kemudian yang muncul justru kekhawatiran. Kita harus menguasai ini dan itu untuk bisa berhasil. Dr. Bambang yang sudah berpengalaman merintis berbagai keberhasilan, malang-melintang di perusahaan yang bisa dikatakan maju dan terdepan di Indonesia, sudi berbagi cerita kepada para mahasiswanya yang masih muda. Ia menyampaikan, "Untuk berhasil, setiap orang hanya perlu fokus pada kemampuan, jangan mengandalkan kuliah dan gelar sarjana. Seorang anak, jangan menunggu disekolahkan sampai sarjana untuk menguasai bidang tertentu, cukup lihat kemampuan dan ketertarikan apa yang bisa dikuasai. Bisa terlihat dari masa kecil sampai SLTA."

Jika memang tertarik pada desain, maka fokus saja di sana, tidak perlu menunggu sampai ke universitas untuk menguasainya. Selain itu, juga perlu mencermati kondisi lingkungan, mendukung atau tidak. Kemudian ia memberi contoh yang relevan, bercerita mengenai seorang anak yang suka sepakbola. Anak itu diberitahu, jangan menjadikan sepakbola menjadi fokus utama karir dan profesi. Karena di Indonesia saat ini, jika kita hidup dan bergantung dari sepakbola, maka kondisi akan sulit. Sepakbola di Indonesia belum profesional dan belum maju, kecuali jika kita hidup di Eropa, maka sangat memungkinkan bisa maju karena lingkungan di sana sangat mendukung. Banyak sekolah sepakbola dan para pemain bisa bergaji tinggi.

Itu artinya kita juga melihat realitas di sekeliling, bidang mana yang cukup kuat untuk bisa dijadikan alasan, mengapa kita menekuni bidang tersebut, karena memang mendukung dan kesempatan terbuka lebar. Sementara itu, lihatlah sepakbola Tanah Air kini, carut marut dan sulit untuk membangun karir dan hidup dari sana. Cukuplah sepakbola hanya sebagai hobi.

Lebih jauh lagi, ia memberi contoh public figure yang tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal, tetapi hanya homeschooling. Itu artinya, cukuplah dikembangkan bakat anak yang sudah terlihat, dan bisa berkarya. Kemudian yang paling penting dan harus digarisbawahi adalah mereka bisa hidup dari sana. Cukuplah pekerjaan itu bisa menghidupi karena kemampuan yang diasah sendiri, jangan hanya mengandalkan dunia pendidikan formal.

Dr. Bambang yang sudah memiliki banyak pengalaman ingin memberitahu mahasiswa bahwa tidak hanya menuntut pendidikan formal yang tinggi, namun perlu menekuni bidang yang kita suka dan bisa menghidupi kita, membiayai hidup kita dan kita bisa hidup dari bidang pekerjaan yang kita tekuni dan kita minati. Bisa saja saat kuliah, kita mendapatkan banyak ilmu, tetapi jangan mengandalkan itu saja.

Perusahaan itu kejam, persaingan ketat, siapa yang tidak memenuhi target pekerjaan, maka harus siap diganti. Belum lagi adanya kontrak kerja atau yang dikenal dengan istilah outsourcing. Hingga seorang direktur bisa mengundurkan diri dari jabatanya karena tidak cocok lagi, tidak cocok dengan lingkungan yang telah berubah, tidak seperti lingkungan yang sebelumnya karena pucuk kepemilikan telah berganti dan pemegang saham tidak sejalan dengannya.

Jabatan, uang, atau penghasilan yang besar tidak menjamin hidup kita otomatis nyaman dan membuat kita bahagia. Belum tentu kita bisa menikmati hidup ini, jika kita mempunyai jabatan wah dan gaji tinggi. Bayangkan, direktur itu mengundurkan diri dari jabatan yang bisa disebut sebagai jabatan bergengsi, jabatan yang sulit diraih, dengan gaji yang besar. Siapa yang tidak tergiur? Tapi, dia justru meninggalkannya.

Saatnya kita menyadari, betapa di usia muda ini tentu masih ingin melakukan banyak hal. Kita juga ingin merasakan apa itu persaingan di perusahaan, mengerjakan banyak hal dan berbagi manfaat untuk banyak orang.

Untuk kita, yang telah masuk ke perguruan tinggi, Dr. Bambang mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan peluang begitu saja. Jika kita yang kuliah hanya memiliki kemampuan standar, maka percuma saja kuliah. Tak usah kuliah, jika sama saja hasilnya. Gali terus potensi setinggi mungkin, pelajari bahasa Inggris agar maksimal. Kita tidak boleh minder dan kalah oleh mahasiswa yang berasal dari almamater bonafid.

Karena yang dilihat di lapangan nanti adalah kemampuan, skill yang berbicara. Bila keterampilan kita lebih bagus, bahasa Inggris lebih jago dan lebih baik dari mahasiswa yang berasal dari universitas ternama, maka kita yang diambil. Untuk itu, jangan sia-siakan kesempatan yang telah diberikan kepada kita saat ini.

Published in Kisah dan Curhat