Kisah dan Curhat

Kisah dan Curhat (87)

Siapa sangka wanita berbadan mungil, berwajah bulat dan memiliki senyum kecil yang lembut ini adalah sosok yang sangat berjuang keras untuk meraih mimpi. Pantang menyerah, mungkin itulah kata yang dapat menggambarkan dirinya. Memiliki rutinitas bangun pagi, sarapan, sholat subuh, tadarus, dan kuliah menjadikan kebiasaan tersebut terlihat biasa-biasa saja di mata kebanyakan orang. Namun ternyata ada hal yang tidak disangka dari wanita yang akrab dipanggil Lia ini, pasalnya ia merupakan seorang Public Speaker yang cukup handal dalam bidang yang tengah digelutinya tersebut.

Menulis menjadi hobi yang sangat digemari Lia dan dari hobi inilah ia mengasah kemampuannya dalam hal tulis-menulis. Lia merupakan sosok yang unik karena mencintai  berbagai perbedaan dan tantangan, disiplin, percaya diri, serta memiliki komitmen tinggi. Sisi kepribadian itulah yang mengantarkan dirinya menjadi public speaker yang adaptable dengan berbagai acara yang dibawakannya mulai dari acara semi formal seperti seminar dan talkshow hingga informal seperti acara musik beraliran rock dapat ia bawakan dengan baik. Sebagai seorang public speaker, menurutnya hal yang paling berkesan dan membahagiakan adalah ketika dirinya dapat menyelesaikan tugas dengan baik, yaitu membawakan acara dengan penuh penjiwaan serta membuat audiens bahagia menikmati setiap kata yang ia ucapkan ketika beraada diatas panggung.

Di sisi lain, sebagai seorang public speaker yang terkesan begitu riang, ternyata Lia memiliki cita-cita yang tak disangka yaitu menjadi staff di KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi. Karena menurutnya, menjadi agen anti korupsi adalah cita-cita yang harus ia raih untuk menyelamatkan Indonesia dari tikus-tikus berdasi yang kian merajalela di negeri merah putih ini. Dari cita-citanya tersebut, ternyata Lia bukan saja sosok yang unik namun juga sosok yang beragam. Pasalnya Lia merupakan lulusan sebuah SMK jurusan Farmasi, kemudian melanjutkan kuliah dengan jurusan IT, berprofesi sebagai public speaker, dan bercita-cita sebagai seorang anti koruptor di bawah naungan lembaga bernama KPK. Co-Founder dari #kelasberani ini memang memiliki perencanaan yang matang sejak dini dan terus berusaha mewujudkan keinginannya dengan segala kemampuan yang dimiliki saat ini.

Prestasi yang diraih Lia ternyata cukup banyak. Saat SMK, ia lulus dengan nilai terbaik di jurusannya dan meraih gelar sebagai juara umum. Ia pun pernah menyabet gelar sebagai juara 2 olimpiade farmasi tingkat kabupaten saat menduduki bangku SMK. Menurutnya momen tersebut cukup berkesan dan memberikan rasa tersendiri ketika mengenangnya. Saat itu, ia bersama tiga teman lainnya membuat Body scrub dari kulit pisang, sebuah produk kecantikan alami yang belum pernah ada sebelumnya. Tak hanya itu, Mahasiswa peraih IP 4 ini juga pernah mendapat penghargaan sebagai karyawan tauladan dari sebuah klinik tempat bekerjanya dahulu dengan posisi sebagai ketua Instalasi Farmasi.

Jika mengulik Lia, ternyata ia memiliki sisi-sisi yang tak biasa. Lia juga ternyata memiliki cukup banyak pengalaman di bidang politik. Ia pernah menjadi Panwaslu Pilkada Jabar beberapa bulan silam dan berencana untuk menjadi Panwas Pilpres 2019 mendatang, kemudian ia pun pernah menjadi duta sebuah proyek yang dicanangkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan Indonesia) bersama ADB (Asian Development Bank) terkait keuangan inklusif di Indonesia, serta pernah menjabat sebagai panitia sensus penduduk Kabupaten Bogor. Lia, yang juga memiliki keinginan untuk menjadi presenter ini memiliki rencana untuk bergabung bersama para jurnalis senior di Indonesia melalui wadah bernama depoknews.com dan depokbersahabat.id dengan memberikan kontribusi berupa tulisan dan mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik untuk mengasah  kemampuannya dalam menulis dan public speaking. Akhir kisah tentang Lia, ternyata ia tak ingin bisa dan berhasil sendirian. Ia tak  hentinya menggembor-gemborkan mahasiswa STT-NF untuk ikut serta belajar berbicara melalui #kelasberani yang ia inisiasikan bersama salah satu dosen STT-NF. Dan Lia juga berpesan kepada teman-teman mahasiswa lainnya untuk selalu merasa lapar dan haus akan ilmu, walaupun mungkin ilmu tersebut belum kita ketahui dan kita rasakan manfaatnya saat ini. Karena siapa tahu dari ilmu-ilmu yang dipelajari saat ini justru menjadi peluang kesuksesan kita di masa depan.

Awalnya mengenal NF sebagai salah satu lembaga Bimbingan Belajar dan belum mengetahui bahwasannya NF memiliki Perguruan Tinggi. Dan tak menyangkanya lagi kini perguruan tinggi NF justru yang saat ini menjadi bagian dari dirinya untuk meneruskan dan mencari ilmu setelah menyelesaikan jenjang SMK. Tika Ayati, akrab disapa dengan Tika merupakan salah satu Mahasiswi STT-NF yang saat ini berhasil mendapatkan beasiswa STT-NF yang faktanya cukup sulit didapatkan karena berbagai rintangan dan persaingan yang cukup ketat pada saat itu.

Mahasiswi Jurusan Sistem Informasi Semester 7 ini mengungkapkan bahwa dirinya sangat beruntung dapat berhasil lolos seleksi beasiswa dan berhasil mendapatkan beasiswa yang sangat diimpikannya tersebut. Selain mendapatkan beasiswa, dirinya diberikan hadiah lain dari STT-NF yaitu pelatihan softskill dan ilmu yang diberikan dosen yang sangat kompeten membuat dirinya merasa bersyukur menjadi bagian dari STT-NF.

Walaupun terlihat sebagai kampus kecil dan baru berdiri, STT-NF memiliki SDM yang kompeten dan mahasiswa – mahasiswa yang bersemangat dalam menimba ilmu serta cukup memilki banyak prestasi. Keinginannya setelah lulus sebagai seorang wisudawati dari STT-NF yaitu berharap dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan membuat usaha sendiri berupa e-commerce yang telah kembangkannya sejak semester 1. "Harapannya untuk STT-NF yaitu semoga STT-NF dapat terus berkembang dan maju, semakin memperbanyak jurusan dan dosen – dosen berkompeten lainnya." Ungkap Tika.

 

 

 

 

Ada kisah curhat baru yang datang dari mahasiswi kelas malam STT-NF, curhat kali ini berasal dari Syirin Shahab. Berbadan mungil, dan memiliki postur tubuh tinggi menjadikan dirinya terlihat anggun secara alami. Menurutnya menjadi mahasiswi jurusan Teknik Informatika kelas malam bukanlah hal yang mudah, namun begitu Syirin tetap kuat menjalaninya meski terkadang disibukan dengan rutinitas kerja.

Memiliki ketertarikan pada bidang UI/UX Desain menjadikan dirinya terus mencari ilmu baru untuk meraih impian. UI (user interface) sendiri merupakan metode untuk mengatur tampilan antarmuka pengguna aplikasi sedangkan UX (user experience) berfokus pada pengalaman atau kenyaman user dalam menggunakan aplikasi. Selain mempelajari UI/UX, kini Syirin pun tengah mengembangkan aplikasi sosial bersama dengan teman-temannya sebagai bentuk kontribusi terhadap masyarakat.

 

Yuli Hardianti adalah mahasiswi STT-NF jurusan Sistem Informasi Semester 7. Saat ini rutinitas keseharian yang dilakukannya adalah magang dan kuliah. Yuli Hardianti memiliki sapaan akrab Ole. Wanita beradarah sunda ini memiliki kepribadian supel, mudah belajar dan selalu ingin tahu hal baru. Karena menyukai hal baru itulah membuatnya memiliki banyak hobi diantaranya design video grafis, take video, photography dan belajar bahasa Mandarin.

Rasa keingintahuan yang tinggi mengantarkan dirinya mengikuti berbagai event dan menjalankan berbagai project. Salah satu event yang pernah diikutinya yaitu Smart City Competition yang diselenggarakan oleh STT Terpadu Nurul Fikri, bersama dengan rekannya Irvan Fatulhudha, Alfian R, dan Arif Foyager yang menurutnya event tersebut cukup berkesan karena memberikan pengalaman yang begitu berarti. Sedangkan project yang saat ini tengah ia jalani adalah melakukan pengembangan website salah satu perusahaan milik negara atau BUMN.

Begitu banyak perjuangan yang telah dilalui dan begitu banyak pula usaha yang telah dilakukan untuk meraih apa yang diinginkannya. Salah satu mimpi sederhana yang dimiliki Ole yaitu memiliki startup dan mengembangkan aplikasi bernama holdingon.com. “Holdingon.com merupakan aplikasi yang diperuntukan untuk membantu sesama” tuturnya. Kesuksesan yang diraihnya saat ini tentu juga berkat dukungan dari orang–orang tersayang salah satunya teman seperjuangan di kampus. Menurutnya hal yang menarik dari STT-NF bukanlah nama atau tampilan luar, tetapi apa yang ada didalamnya. Seperti dosen yang sangat baik dan kompeten, teman–teman yang memiliki semangat belajar tinggi, dan jiwa kompetitif yang sangat menyenangkan. Hal tersebutlah yang berhasil membuat dirinya cukup percaya diri untuk tetap mencari dan mempelajari hal baru.

Kisah kali ini datang dari Muhammad Syaiful Ramadhanakrab disapa Ipul, salah satu mahasiswa aktif Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri (STT-NF). Laki-laki berdarah Jawa ini memang memliki semangat yang luar biasa. “Badan boleh kecil, kampus boleh kecil tapi pemikiran harus besar” itulah yang dikatakan oleh mahasiswa yang berhasil mendapatkan gelar Mapres Utama tahun 2017 ini. Terdaftar sebagai mahasiswa STT-NF sejak tahun 2015 sekaligus penerima beasiswa Beastudi Nusantara bersama dengan 20 teman lainnya menjadikan sosoknya cukup menarik perhatian.

Banyak pengalaman telah didapatnya dari STT-NF sejak semester 1 hingga kini tengah menginjak semester 7. Mahasiswa yang memiliki target lulus 3.5 tahun ini memiliki pengalaman hebatnya tersendiri selama berkuliah di STT-NF diantaranya yaitu menjadi langganan AsistenDosen (Asdos) pada semester 3 untuk mata kuliah DDP, POSA dan Pemprograman Web saat semester 5 serta Metpen saat menginjak semester 7. Tentu tidak hanya sampai disitu saja, masih banyak prestasi yang berhasil didapatkan Ipul, salah satunya sukses menjadi ketua pelaksana Kafillah—salah satu acara besar yang diadakan LDK Senada—pada tahun 2016 silam.

 

Sumatera Barat, salah satu provinsi di Indonesia rupanya bukan saja menyimpan banyak keindahan alam namun juga memiliki putra-putri bangsa dengan potensi yang luar biasa, Muhammad Fadhil Hilmi salah satunya. Laki-laki yang berasal dari desa Pariangan, Sumatera Barat—salah satu desa yang indah karena lokasinya di lereng gunung berapi—ini memang memiliki kisah yang cukup unik untuk diulik.

Muhammad Fadhil Hilmi dibesarkan dan mengenyam pendidikan selama 9 tahun di ibu kota Jakarta. Hilmi—begitu sapaan akrabnya—menikmati bangku sekolah di Jakarta hingga jenjang SMP. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama lalu ia melanjutkan pendidikan SMAnya di daerah asal, Sumatera Barat. Saat menempuh jenjang SMP dirinya mengaku tak pernah semangat belajar serta enggan bersosialisasi dengan teman sebaya. Kondisi yang berbanding terbalik ketika dirinya memasuki bangku SMA. Merasa paling keren, gaul serta paling unggul dan paling pintar sebagai ‘anak Jakarta’ membuatnya angkuh. Yang lama-kelamaan membuat lelaki yang kini berusia 21 tahun ini tak nyaman karena terus berprilaku yang bertentangan dengan naluri hati kecilnya sebagai makhluk sosial. Hingga akhirnya ia menyesali perbuatannya tersebut dan tak ingin lagi meremehkan orang lain.

Berawal dari bantuan saudaranya, Hilmi bertekad menjadi pribadi yang lebih baik. Berjanji untuk mempersembahkan usaha terbaik di setiap langkah, mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, serta tidak akan pernah menyerah. Mengantarkannya meraih posisi sebagai salah satu siswa yang mendapat peringkat 10 besar. Tak hanya itu, Hilmi pun berhasil meraih penghargaan sebagai juara dua lomba Blogging Cybercity. Tentu ini merupakan prestasi yang cukup membanggakan dan bukan hal yang didapat dengan percuma, namun dengan perjuangan yang luar biasa. Bertransportasikan sepeda ontel dan belajar komputer hingga pukul 11 malam rela dilakukan demi menempati janji memberikan yang terbaik termasuk di moment sebagai peserta lomba Blogging Cybercity ini.

Merasa terombang-ambing untuk mengambil langkah setelah menyeselesaikan pendidikan SMA, membuatnya terus meminta pada Allah untuk ditunjukan jalan terbaik yang harus ditempuh. Hingga akhirnya ia mendapatkan pertolongan tersebut yang lagi-lagi melalui saudaranya sebagai perantara. Mencoba mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri SNMPTN dan SBMPTN menjadi pilihannya di tahun pertama setelah lulus SMA. Namun sayangnya ternyata keberuntungan belum memihak pada Hilmi. Sosoknya yang berpegang teguh pada prinsip “Proses tidak akan pernah mengkhianati hasil” membuatnya mencoba mengikuti tes kembali di tahun berikutnya yang tentunya juga dengan usaha dan doa yang lebih besar. Tapi kembali disayangkan, ternyata Dewi Fortuna belum juga memihak. Keadaan tersebut tak membuatnya menyerah, tekadnya untuk melanjutkan pendidikan tetap membara.

Berawal dari sebuah seminar yang diadakan STT-NF dengan menghadirkan pembicara hebat yang kemudian mengantarkannya seperti saat ini, menjadi titik balik atas segala harapan dan mimpi yang harus diraih. Tidak pantang menyerah dan fokus dengan tujuan adalah kata yang pantas untuk menggambarkan sosoknya yang terus berusaha untuk melampui kemampuan yang dimilikinya. Aktif di organisasi BEM sebagai Menteri Pendidikan dan keilmuan (P & K), menjadi Project Officer pada kegiatan incubator PKM, mendapatkan gelar Mahasiswa Berprestasi di STT-NF dan menjadi asisten dosen Database selama dua tahun menjadikan pemuda Pariangan ini memiliki nilai diri yang tidak dimiliki oleh orang lain. “Kampus boleh kecil tapi pikiran harus seluas dunia” itulah pesan yang diberikan Hilmi kepada rekan mahasiswa STT-NF seperjuangan terutama untuk dirinya sendiri agar tetap menjadi pribadi yang beryukur dan pantang menyerah dengan keadaan.

APICTA  (Asia Pacific ICT Alliance) Awards 2018 merupakan sebuah ajang yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran ICT (Information and Communication Tehnology) di masyarakat dan membantu menjembatani kesanjangan digital. APICTA kali ini diadakan di Ghuang Zhou, China pada 9-13 Oktober 2018. Dzaki Mahfuzh Hamadah dan Muh. Isfaghani Giyath mahasiswa semester 7 jurusan Teknik Informatika STT-NF memiliki kesempatan menjadi salah satu perwakilan Indonesia di ajang awards APICTA tahun ini.

Begitu beruntung sekali mahasiswa STT-NF memiliki peluang yang membanggakan pada ajang APICTA 2018 kali ini, walaupun persiapan yang dilakukan cukup singkat yaitu hanya satu setengah bulan menjelang acara APICTA berlangsung. Adalah Dzaki Mahfuzh Hamadah dan Muh.Isfahani Ghiath yang berkesempatan mewakili Indonesia di ajang bergengsi ini. Dzaki—begitu sapaan akrabnya, merupakan lelaki kelahiran Kalimantan. Sosoknya yang periang, pantang menyerah, visioner dan memiliki communication skill yang tidak diragukan lagi memang cukup mencolok di kalangan mahasiswa STT-NF. Ketika diwawancarai terkait pengalamannya di China, Dzaki memberikan cerita yang cukup menarik. Pasalnya, ini adalah kali pertama dirinya menginjakkan kaki di negeri beruang itu.

Baginya hal yang paling berkesan adalah ketika Allah memberikan kesempatan pada lelaki peraih Mapres Favorit STT-NF 2018 ini adalah ketika diizinkan melaksanakan Sholat Jumat di sebuah Masjid di Ghuangzhou China. Menurutnya sungguh hebat dan luar biasa bisa menunaikan Sholat Jumat di China, melakukan khotbah dua kali hingga dua jam Sholat Jumat. Bukan hanya itu, pengalaman yang tak kalah mengesankan lainnya adalah ketika ia dapat menginjakan kaki ke tiga negara dalam satu kali perjalanan sekaligus yaitu China, Singapura dan Malaysia. Memiliki relasi dari berbagai negara dengan keunikan dan budaya yang beragam hingga mengantarkan dirinya berkenalan dengan salah satu peserta lain yang berasal dari Australia, memberikan kesan tersendiri bagi Dzaki.

Mahasiswa yang kini aktif sebagai ketua badan legislatif STT-NF ini memang patut diacungi jempol dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas segala pengabdian yang telah diberikan pada kampus berlogo biru ini karena telah mampu membawa nama STT-NF hingga ke kancah internasional. Karena pengalaman emasnya tersebut, dzaki memberikan pesan untuk seluruh mahasiswa  STT-NF untuk berani mengembangkan diri, tentu bukan hanya di dunia perkuliahan saja tapi juga aspek lain yang dapat mendukung pengembangan diri.

 

Mahasiswa adalah gelar yang diberikan pada siswa yang telah menyelesaikan jenjang SMA dan melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Mahasiswa sering diartikan sebagai orang yang harus memiliki intelektual dan sikap pendewasaan yang mumpuni agar siap terjun mengabdikan diri di masyarakat dengan ilmu yang cukup. Hal tersebut yang dijadikan sebagai prinsip oleh Ibrahim Syafiq Musyaffa yang saat ini tengah menyandang status sebagai mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri.

Bertalenta  dalam dunia seni grafis dan jago desain adalah sebutan yang sering didapatkan Syafiq dari teman-temannya. Laki-laki yang memiliki tinggi 170 cm dan berbadan kurus serta berkacamata bak youtuber Kang Abai ini adalah sosok yang unik karena hobinya yang gemar menantang diri. Mahasiswa yang berhasil menyabet juara 1 pada lomba desain poster UI QURANIC pada awal semester satu, mendapatkan sertifikasi Adobe 2017 dan aktif dalam organisasi LDK Senada selama 2 periode ini memang memiliki ciri khas tersendiri. Pasalnya, dirinya yang saat ini memiliki keahlian pada bidang desain tidak pernah menyerah dan terus mencoba mengikuti berbagai ajang perlombaan. Perlombaan yang baru-baru ini diikuti oleh lelaki yang akrab disapa Syafiq ini adalah Netherland Festival yang diadakan oleh Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Belanda dengan tema “Mari Kita Cintai Lingkungan”. Adapun sistem penilaian perlombaan poster digital ini terdiri dari dua jenis yakni penilaian yang dilakukan oleh juri perlombaan dan penilaian yang dilakukan oleh masyarakat umum dengan menghitung jumlah like pada poster peserta lomba di akun Instagram Nedfest2018. Dari dua jenis penilaian itulah yang pada akhirnya menghasilkan dua kategori juara yaitu juara utama dan juara favorit. Dan juara favorit tersebut diraih oleh Ibrahim Syafiq Musyaffa, salah satu mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri.

Karya desain yang berlatarkan warna biru karya Syafiq ini memiliki tema “Bumi Kita Rumah Kitayang bermakna bahwa bumi adalah rumah kita jadi kita harus menjaganya seperti kita menjaga sesuatu atau barang yang kita sayangi. Hindari hal buruk yang merusak bumi seperti membuang sampah tidak pada tempatnya, menebang pohon sembarangan dan hal lain yang tentu dapat mengancam kelestarian serta keindahan bumi.

Setelah 2-3 tahun vakum mengikuti perlombaan membuat dirinya merindukan persaingan yang saat ini semakin ketat, talenta masyarakat yang semakin berkembang dan melampui dirinya—katanya begitu, membuat lelaki ini kembali menantang diri untuk kembali berkompetisi. Karena mengikuti perlombaan dan merasakan tantangan persaingan membuatnya menyadari bahwa pada dasarnya mencoba dan terus belajar di dunia perkuliahan hingga mengalami banyak kegagalan adalah hal yang patut disyukuri, karena masa kuliah memang masa-masa yang tepat untuk menikmati kegagalan yang diiringi usaha untuk memperbaiki dibandingkan harus merasakan kegagalan pada dunia kerja yang akan memiliki beban dan persaingan yang jauh lebih berat.

Melalui pengalaman yang telah didapat, Syafiq berbagi motivasi pada mahasiswa STT NF lainnya dengan mengatakan “lebih baik mencoba kemudian gagal untuk belajar daripada tidak pernah mencoba dan akhirnya tidak pernah belajar apapun. Karena jika tidak pernah mencoba akan menyesal suatu saat nanti. Mumpung masih di dunia perkuliahan manfaatkan sebaik mungkin untuk mencoba. Di dunia perkuliahan masih bisa trial and eror tapi nanti kalau sudah di dunia kerja tidak ada toleransi terhadap kesalahan ataupun kegagalan yang dilakukan. Jadi maksimalkanlah masa perkuliahan sebaik mungkin untuk belajar, belajar dan belajar”.

Hampir setiap lebaran saya dan keluarga pulang ke kampung halaman ayah di Banyuwangi. Setiap lebaran hari ke 1 sampai hari ke 3 kami bersilaturahim ke seluruh sanak saudara yang ada di daerah Banyuwangi-Jember, karena Idul Fitri adalah momentum yang tepat untuk bersilaturahim. Setelah itu seperti biasanya, di hari ke 4 kami berkunjung ke destinasi wisata yang ada disana. Setiap saya mudik ke Banyuwangi, banyak pengalaman, cerita, pelajaran, dan hal lainnya yang saya dapatkan, seperti pembelajaran hidup yang tak kita temukan di bangku sekolah atau kuliah.

Destinasi yang pertama kami kunjungi ialah Waduk Sidodadi Glenmore, Banyuwangi. Disana saya menaiki ATV dengan adrenaline yang bisa dikatakan “wah” dimana saat itu saya menyerah untuk mengendarainya karena harus melewati sungai, berkeliling pohon tebu, dan mengelilingi pabrik gula. Selalu menyenangkan dan tak pernah kecewa dengan destinasi yang ada di Banyuwangi. Langitnya yang indah, ditambah cuacanya yang mendukung, adem, sejuk juga pastinya, hehe. Namun, karena hari mulai malam, saya pun bergegas untuk kembali ke rumah Mbah Uti.

Ketika sampai di rumah Mbah Uti, hal yang terfikirkan dalam benak saya ialah “duh, sebentar lagi UAS, kayanya harus pulang duluan”. Dan bergegaslah saya untuk menanyakan kapan akan kembali ke rumah kepada ayah dan bunda. Namun tak lama sepupu-sepupu saya menanyakan tentang rencana kami untuk pergi ke Kawah Ijen, salah satu destinasi yang tertulis di bucketlist saya di 2018 ini, selintas terfikirkan “mending pulang duluan atau ikut ke ijen ya?”, tapi kayaknya kalau pulang duluan terus mereka ke ijen, bakalan nambah pikiran juga. Akhirnya saya memilih untuk ikut ke ijen, karena tentu saya akan mendapatkan pengalaman baru lagi, dan tentunya bisa menceklis salah satu bucketlist di 2018 ini.

Tepat pukul 11.00 am, saya dengan para sepupu saya bergegas untuk berangkat menuju the place I dreamed of, Kawah Ijen, Banyuwangi. Salah satu tempat yang unexpected. Dimana Kawah Ijen dikenal dengan Blue Firenya yang katanya hanya ada dua di dunia, yang satu lagi di Islandia kalau gak salah. Ijen mempunyai pemandangan yang indah sekali, benar-benar good looking sekali.

Saya didampingi oleh Pakde yang bekerja di PTPN daerah Kawah Ijen, jadi saya mempunyai seorang guide yang memang cukup handal dalam masalah pegunungan. Tibanya kami di titik start pendakian kawah ijen pukul 01.15 am, lalu memulai pendakian pada pukul 01.30 am diawali dengan baca doa agar selamat kembali sampai di rumah.

Di perjalanan pendakian saya menjumpai beberapa taksi untuk mengangkut penumpang sampai di puncak, taksi yang dimaksud disini bukan taksi mobil yang ada AC-nya, taksi beroda dua ini cukup ramah lingkungan karena bertenaga energi manusia, yang biasa digunakan oleh abang-abangnya untuk menambang belerang (ijen dikenal dengan banyak bapak-bapak penambang belerang yang biasa mengangkut belerang sampe puluhan kilo, MasyaAllah). Tapi ternyata harga taksi berkisar 600 - 800 ribu untuk pulang pergi.

Seperti biasanya, setiap pendakian pasti ada yang mau menyerah, tapi bukan berarti kalah. Pada saat itu kami saling menguatkan untuk tetap sampai di puncak Kawah Ijen agar bisa melihat blue fire. Jalur pendakiannya bisa dibilang lumayan jauh jarak dan jalurnya kecil. Walaupun jalurnya udah diperlebar, nanjaknya masih lumayan. Tepat pukul 04.00 am, Saya sampai di puncak kawah ijen, ternyata untuk melihat blue fire kami harus menggunakan masker oksigen, dan katanya cukup berbahaya juga.

Kami menunggu waktu subuh dan meanti waktu sunrise tiba. Selama menunggu, ada beberapa yang tertidur, ada yang berusaha menghangatkan tubuhnya, karena kabut yang benar-benar tebal ditambah anginnya yang cukup kencang. Ketika matahari datang, kabut diatas kawah ijen pun hilang, dan ketika melihat Kawah Ijen secara langsung, disitu benar-benar teringat kalimat فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ dalam hati. Rasa bahagia pada saat itu benar-benar tak terdefinisikan, salah satu isi buckelist saya di 2018 benar-benar luar biasa. Saya benar-benar takjub melihat kekuasaan Allah yang satu ini. Karena keadaan tubuh yang mulai lapar dan kedinginan, saya pun bergegas untuk kembali turun, pastinya foto-foto dulu sebelum turun.

Di perjalanan turun, saya pun terhenti kembali, ternyata jalur pendakian yang semalam saya lewati begitu luar biasa, benar-benar di luar ekspetasi, namun karena keadaan lapar saya hanya berhenti sekejap dan melanjutkan perjalanan di pos 2. Disitu saya memesan pop mie dan teh hangat, yang harganya bisa dibilang cukup terjangkau. Lalu kembali untuk turun menuju parkiran. Di Ijen ada WC yang terleta di awal start dan di pos 2. Selain itu bisa juga ditemukan WC disekitar jalur pendakian, namun keadaannya jauh berbeda dengan WC yang ada di awal start pendakian dan di pos 2.

Kembali ke perjalanan, tibanya di parkiran saya langsung naik mobil untuk kembali ke rumah Mbah Uti, dan berhenti sekali di rumah makan untuk mengisi energi yang terkuras setelah pendakian di Kawah Ijen. Sesampainya di rumah, Tante dan Bude menanyakan tentang perjalanan kami, akhirnya singkat cerita kami pun terlelap seharian.

Keesokan harinya, Ayah saya memberitahukan bahwa kami akan pulang pada hari Jum’at, 22 Juni 2018, mengingat saya sebelumnya meminta untuk pulang terlebih dahulu dikarenakan sebentar lagi akan menempuh UAS. Dibilang sedih, pasti. Harus meninggalkan Banyuwangi yang mempunyai langit nan indah dan sanak saudara , tapi apalah daya, masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikaan.

Akhirnya, saya kembali ke tempat asal, Bojong Gede. Mudik kali ini begitu berkesan dengan keindahan alam Banyuwangi ditambah dapat berkumpul dan bersilaturahim dengan sanak saudara yang ada disana. Inilah hal yang tak dapat dibeli dengan materi, indahnya berkumpul bersama, menyambung silaturahim di hari penuh kebahagiaan.

Saudara-saudara kita akan menjadi tameng api neraka kita, maka berbuat baiklah pada mereka. Sungguh, saudara kita akan menjadi penghalang siksa dan azab himpitan liang kubur (Tere Liye).

Selain aktif di Kampus, Chairin Nashrillah mahasiswa Sistem Informasi 2016 STT-NF juga aktif di luar kampus. Seperti pada pertengahan bulan Ramadhan, ia mendaftar sebagai Panitia General Training untuk Asia Games yang diadakan oleh PTC (Pertamina Training Center). Tidak hanya Chairin saja yang mendaftar jadi panitia General Training Asia Games  dari STT-NF, namun ada juga Haya Rasikah (TI 2016), Lazuardi (SI 2016), Bayhaqi (SI 2016), Ahmad Imadudin (TI 2015), Rufaidah (TI 2015) dan Vivi (TI 2017) .

General Training ini merupakan training kedua yang harus diikuti untuk bisa menjadi volunteer Asia Games 2018. Salah satu syarat untuk menjadi volunteer Asian Games 2018 harus mengikuti tiga tahap Training terlebih dahulu. Disana mereka membantu trainer dalam mentraining volunteer Asia Games 2018 seperti membantu mencetak sertifikat, membagikan modul untuk peserta dan membantu dalam mempersiapkan proyektor.

General Training dilaksanakan selama tujuh hari mulai tanggal 18 Mei - 24 Mei 2018, untuk tempatnya sendiri pada tiga hari pertama dilaksanakan di Universitas Pertamina, hari ke-4 sampai ke-7 dilaksanakan di UMJ (Universitas Muhammadyah Jakarta).

Banyak hal yang mereka dapatkan dengan menjadi panitia General Training. Selain mendapatkan pengalaman mereka juga mendapat teman baru, sertifikat, fee dan relasi. “Senang bisa bergabung menjadi kepanitiaan di luar kampus. Aku juga bersyukur karena bisa menjadi salah satu orang yang berperan menyukseskan acara istimewa ini yaitu Asia Games 2018 karena pada tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah untuk Asian Games 2018”, ujar Chairin saat menyampaikan kesannya. Terakhir Chairin menambahkan “Mari dukung dan sukseskan Asia Games 2018 di Indonesia”.

Halaman 1 dari 7